Tuesday, May 20, 2014


“manfaatin waktu muda lo bud buat traveling, mumpung masih muda”. #sambilsenyum

Kalimat perpisahan yang gw peroleh dari senior rekan kerja saat hari terakhir gw bekerja. Mas Pudjo. Beliau ini sudah berkali-kali mendaki segala macam gunung. Cerita dan foto-foto yang berhasil diabadikannya bikin ngiri. Itulah mengapa nasehat dari Mas Pudjo begitu hangat, penuh dengan magis.

Pari Island. Rupanya destinasi pertama gw jatuh ke pulau itu. Pulau yang ada di Kepulauan Seribu. Perjalanan menuju kesana butuh waktu kurang lebih 3 jam dari Muara Angke dengan bantuan kapal laut. Bukan waktu yang sebentar terombang-ambing di lautan dengan kapal laut biasa. Alhasil gw mabok laut, rasanya bener-bener mual. Gw langsung menjauh sambil membawa kantong kresek alfa yang berwarna putih. “Hweeeeeek”. Muntahan pertama berhasil mendarat dengan selamat ke dalam kantong. Yes. Dan dilanjutkan oleh muntahan-muntahan berikutnya. Hasilnya, seperempat kantong kresek tersebut terisi dengan muntahan gw. Kondisi saat itu lemes dan ingin secepatnya sampai kembali ke daratan.

Sesampainya di dermaga Pulau Pari kekuatan gw kembali seperti sedia kala, sehat walafiat. Wooow, subhanallah pelajaran yang didapat adalah bahwa kodratnya manusia memang diciptakan dari tanah, dan kita tak akan bisa hidup tanpa daratan, seindah apapun itu lautan.
Gw bersama tim tidak menyewa homestay disana, melainkan kemping, iya kemping, pakai tenda. Butuh 15 menit dari darmaga Pulau Pari ke Pantai Perawan, spot untuk mendirikan tenda tepat di pinggir pantai. Pemandangan pantai saat itu tidak terlihat indah, air lautnya masih surut. Tapi surutnya air laut tidak menyurutkan semangat kita untuk mendirikan 4 tenda, untuk 15 orang. Ternyata mendirikan tenda itu seru, saking serunya angin dari laut tiba-tiba berhembus dengan kuatnya. Empat tenda kita yang baru setengah jadi tak kuat menahan hembusannya, robohlah tenda kita. Haha. Tapi akhirnya dengan keuletan dan kesungguhan empat tenda berhasil kita dirikan. Hwoooo. 
Setelah makan siang dan solat agenda kita adalah snorkeling. Namun sayang, terlalu siang (pukul 14.14). ternyata sudah habis kapal-kapal yang akan membawa kita ke spot-spot snorkeling. Kecewa mah pasti, tapi tetep yakin kalau besok pagi akan jauh lebih indah saat snorkeling. Sebagai gantinya siang hingga sore hari kita manfaatin bersenang-senang berenang di Pantai Perawan. Air sudah mulai pasang, pemandangan sepanjang lautan begitu indah, garis pantai sangat jauh dari lautan, bibit mangrove yang menggoda dan  berjejer pulau-pulau kecil yang ditumbuhi pepohonan. Cuaca tidak panas dan tidak mendung, pas untuk kita berenang-renang, berfoto-foto ria. Layaknya anak kecil yang baru ketemu laut, ya begitulah kita. Namun sayang, kita tidak mendapatkan momen sunset, ketika matahari ingin kembali tertidur, cuaca malahan mendung. Tapi walaupun begitu, tidak mengurangi keindahan sunsetnya.

Malam hari kita manfaatkan untuk mengenal satu sama lain dibawah gerimis hujan, tawa canda semuanya lepas, tak ada yang jaim. Satu malam yang sungguh berkesan. Muncullah satu quote yang keren, “dari kami, jadi kita”.

Sekitar pukul 23.00 sudah pada mulai mengantuk. Yang cewek sudah memasuki tenda-tendanya. Yang cowok masih diluar tenda, beralaskan matras dan dinaungi oleh terpal. Sambil tidur-tiduran, dan tiba-tiba “hwuuuuusssssss”. Angin darat yang datangnya dari laut sangat amat kencang. Serem. Ini berlangsung sangat lamaa. Gw berempat yang tidur diluar sadar tapi tidak bangun, masih memenjamkan mata sambilberdoa supaya tenda-tendanya tidak roboh. Rupanya kita berempat nyerah dan langsung masuk ke tenda. Saat itu sempat lihat HP, waktu menunjukkan pukul 01.30. Entah kapan angin kencang itu berhenti, karena kita semua melanjukan kembali tidur kita masing-masing.

Gw bangun lebih awal dibandingkan yang lainnya dan langsung ke warung untuk numpang ngecharge HP. Sambil beli air mineral yang gw gunakan untuk gosok gigi. Suara air lautnya sungguh mendamaikan hati dan menggoda. Saat azan subuh berkumandang, gw manfaatkan momen ini untuk solat di pinggir pantai dengan beralaskan matras dan langsung di bawah langit. Belum pernah merasakan nikmatnya solat subuh seperti ini. Rasa tenang yang mendamaikan. Riak-riak air laut membuat air mata ini mengalir. Aah, betapa bersyukurnya diberi kesempatan seperti ini. Ketika salam menengok ke kanan, air mata tak kunjung henti, saat melihat lautan, makin teringat bahwasanya dosa-dosa gw banyaknya seperti lautan itu. Dan gw hanyalah makhluk yang lemah, seperti butiran pasir di pantai ini.

Momen sunrise memang banyak ditunggu. Pagi itu menjadi ajang mereka untuk berfoto ria. Tak terkecuali gw, walaupun hanya punya kamera HP dan hanya bisa jepret doank ya tidak apa-apalah yang penting diabadikan hehe.

Setelah sarapan kita langsung bergegas menuju darmaga untuk menuju spot-spot snorkeling menggunakan perahu kecil. Sebenarnya ada 3 spot yang akan kita tuju, namun karena takut kelamaan dan kesiangan kita hanya 2 spot saja. Spot pertama di Bintangrama dan yang kedua di Terumbuluar. Oooh gini toh rasanya snorkeling, berenang di tengah laut dengan bantuan pelampung, kaki katak dan kacamata renang. Melihat indahnya terumbu karang yang besar-besar. Melihat ikan-ikan yang berwarna-warni mendekat ketika kita memberinya serpihan roti. Tak henti-hentinya tersenyum saat melihat kedalam laut, Subhanallah dan Allahu Akbar. Snorkeling menjadi ajang yang pas untuk melihat betapa indahnya ciptaan Allah di lautan. Jika dispot pertama yang kita lihat adalah indahnya terumbu karang dan ikan-ikan, namun di spot kedua kita hanya melihat terumbu karangnya saja, ikan-ikannya hanya sedikit. Nah yang lebih kerenya lagi, kita baru sadar kalau ternyata banyak ubur-ubur kecil. Efeknya? Kita semua terkena sengatan yang menimbulkan rasa gatal. Tangan gw merah terkena sengatannya. Saking penasarannya gw akhirnya berhasil menangkap satu ubur-ubur tersebut. Hanya untuk dilihat dan difoto saja ko, setelah itu gw lepas kembali ke habitatnya, di lautan yang indah.

Selesai berbilas dan bersih-besih kita langsung melipat tenda dan mengumpulkan sampah-sampah untuk dibuang ke tempat sampah. Kapal yang menjemput kita datang pukul 12.00.

Thanks Pulau Pari.

Berangkat dari Muara Angke
pagi hari di pantai perawan

spot snorkeling di bintangrama

momen sunrise

langit mendung ketika sunset

sunset pantai perawan

snorkeling
berkat tongsis :D


Posted on Tuesday, May 20, 2014 by De Budi Sudarsono

No comments

Friday, May 09, 2014


Untuk Anakku kelak,

Anakku, kau harus mengenal nenek dan kakekmu dengan sebaik-baiknya. Memangnya kenapa kau harus tahu? Karena mereka adalah orangtua dari ayahmu ini. Tanpa mereka, ayahmu tidak mungkin tumbuh seperti ini, dan tanpa mereka mungkin kau tidak tak akan pernah terlahir di muka bumi ini.

Ada banyak sekali yang ingin ayah ceritakan kepadamu tentang nenek dan kakekmu. Cerita perjuangan mereka dari mereka kecil di keluarga mereka masing-masing sampai mereka berjuang untuk menghidupi ayah dan tantemu, adik ayah.

Anakku, mereka kemarin baru saja menunaikan ibadah umroh di Arab Saudi, di Mekah dan Madinah. Mungkin ibadah seperti ini untuk kebanyakan orang adalah sesuatu yang biasa, sesuatu yang sering mereka laksanakan, sesuatu yang mudah mereka lakukan. Tapi tidak untuk sebagian orang, termasuk nenek dan kakekmu. Dan ketika ayah tahu bahwa mereka berencana ingin berangkat umroh, ada perasaan bangga, dan wooow subhanallah.

Kau tahu apa alasannya kenapa ayahmu begitu terkejut bangga?
Dengarkan dan perhatikan baik-baik nak.

Pertama, tidak semua orang bisa diberi kesempatan untuk pergi ke tanah suci Mekah untuk bisa bertamu langsung ke rumah Allah, tanpa terkecuali orang kaya sekalipun. Panggilan itu datangnya dari Allah, dan jika hatinya belum dipanggil maka tidak akan pernah mau untuk bertamu ke sana. Dan alhamdulillah nenek dan kakekmu diberi kesempatan itu.

Kedua, mereka tidaklah terlalu pandai dalam membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Ayah juga jarang melihat mereka duduk untuk membaca Al-Quran. Hingga pada suatu saat, ketika ayahmu masih kuliah, ayah melihat nenekmu memanggil guru ngaji untuk datang ke rumah, hampir setiap sore. Kemudian kakekmu juga, memanggil ustadz untuk belajar mengaji setiap malam hari Senin dan Rabu. Ayah yakin mereka tidak hanya belajar mengaji saja, tapi guru ngaji mereka juga memberikan pengetahuan tentang agama islam secara luas. Mungkin karena ini mereka memutuskan untuk berangkat umroh.

Ketiga, untuk pergi umroh memang tak semahal pergi haji. Tapi tak sedikit juga uang yang harus dikeluarkan. Anakku, nenek dan kakekmu tumbuh dikeluarga yang serba kekurangan. Dari kecil mereka sudah terbiasa bekerja keras, dan diumur mereka yang sudah tua mereka bisa menikmati hasil kerja keras mereka.

Apa yang bisa kau ambil dari tiga pelajaran di atas anakku?
Ya, tidak ada kata terlambat untuk belajar. Ayah berharap kelak kau menjadi anak yang pandai, yang kepandaianmu bisa memberikan kebermanfaatan untuk dirimu, keluargamu, agamamu dan negaramu. Dan jagalah selalu hatimu dari segala kejahatan, karena hidayah Allah akan datang kepada mereka yang mencari dan mendekatkan diri kepada-Nya. Semoga kau bisa diberi kesempatan untuk bertamu ke rumah Allah juga, dengan ilmu dan hartamu sendiri, seperti nenek dan kakekmu. Aamiin.

Tahukah kau anakku sayang?
Jumat pagi ayah mengantar mereka ke tempat kumpul para rombongan jamaah yang ingin berangkat umroh. Sabtu siang tiba-tiba kakekmu menelpon ayah. Loh ada apa ini? Muncul perasaan yang buruk telah terjadi. Dan ternyata mereka belum berangkat, masih di hotel bandara Soekarno-Hatta. Kakekmu bercerita bahwa rombongan mereka di tipu oleh travel yang akan memberangkatan mereka. Satu rombongan ada sekitar 60an jamaah. Dan setengahnya sudah berangkat, setengahnya lagi belum termasuk kakek dan nenekmu. Travelnya kabur dan meninggalkan mereka di bandara. Kakekmu berpesan kepada ayah supaya merahasiakan hal ini dari siapapun, termasuk kepada tantemu. Setelah telpon dari kakekmu, ayah tidak bisa tenang, gelisah. Selalu berdoa setiap saat semoga mereka diberikan kesempatan untuk benar-benar pergi umroh dan  diberikan keselamatan kepada kakek dan nenekmu dalam perjalanan ke sana dan pulang ke rumah kembali. Sore hari gantian ayah yang menelpon kakekmu, tapi belum ada kabar lagi tentang keberangkatan mereka. Malamnya jam 9an juga ayah telpon lagi tapi tetap belum ada kepastian. Lalu kakekmu berpesan, yasudah tenang saja, doakan semoga semuanya lancar dan diberikan yang terbaik. Malam harinya tetap saja ayahmu ini tak bisa tidur nyenyak, masih kepikiran. Kondisinya ayah juga tidak bisa cerita kepada siapapun. Keesokan harinya, hari minggu dengar kabar kalau nenek dan kakekmu akhirnya berangkat. Agennya bertanggung jawab dengan menyewa travel lain untuk memberangkatkan setengah rombongan yang sempat terlantar di bandara. Alhamdulillah.

Anakku sayang, ketika kelak kau tumbuh besar, jangan kaget dengan kondisi dunia sekarang ini. Kau akan menemukan kejahatan dimana-mana. Temasuk kasus penipuan, seperti cerita diatas, untuk mau beribadah kepada Allah saja masih harus ditipu. Nak, ayah berharap kau bisa menjaga dirimu dengan baik. Jaga hatimu dan jaga pikiranmu, supaya kau selalu terhindar dari segala kejahatan, aamiin.

Anakku yang ayah banggakan.
Sepulang dari umroh, nenekmu cerita. Bahwa setengah rombongan yang berangkat umroh duluan ternyata terlantar di bandara Arab. Mereka belum mendapat tiket pulang kembali ke tanah air. Ya karena travel yang memberangkatkan mereka sudah kabur. Ada perasaan kasian kepada setengah rombongan tersebut. Tetapi ada rasa bersyukur karena nenek dan kakekmu sudah selamat sampai rumah. Mereka sempat terlantar sebelum berangkat, tetapi diberi kelancaran ketika pulang.

Anakku sayang,
Allah bersama hamba-hambanya yang sabar. Allah juga sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Maka dari itu, ketika suatu saat engkau mendapatkan sebuah cobaan, ujian atau keburukan yang menimpamu jangan pernah sekali-kali menyalahkan Allah. Sabarlah anakku, percayalah bahwa kejadian yang menimpamu itu adalah cara Allah untuk menjagamu, cara Allah untuk membuatmu bertambah kuat. Percayalah nak.

Ayahmu,

Posted on Friday, May 09, 2014 by De Budi Sudarsono

4 comments