Showing posts with label Sederhana. Show all posts
Showing posts with label Sederhana. Show all posts

Friday, March 20, 2015

Ternyata berbeda prajab yang dibayangkan dengan yang baru dijalankan kemarin. Berbeda karena peraturan yang membuatnya berbeda. Teman-teman instansi lain yang melaksanakan prajabatan tahun kemarin (2014) masih dengan pola lama. Pola militer selama tiga minggu. Yang terbayangkan ketika seorang teman bercerita tentang bagaimana dia melewati masa prajabatannya, woooow seru banget. Namun sayang, pola prajab tahun ini sudah berubah. Sepertinya bakal garing. Krik krik krik.

Pola baru prajabatan ini seperti masa kuliah, lebih tepatnya miniatur masa kuliah. Ada jam perkuliahan, ujian komprehensif, seminar kolokium, penelitian, dan sidang akhir. Sesi yang kemarin dilaksanakan baru sampai seminar kolokium. Nah penelitiannya itu selama off prajab, yakni ketika dikantor selama 13 hari kerja. Sedangkan sidang akhirnya saat on prajab kedua, setelah penelitian di kantor. Masa on prajab kedua ini akan berlangsung selama 3 hari.

Semua serba teratur. Senam pagi pukul 05.30 WIB. Sarapan pukul 06.30 – 07.30 WIB. Apel pagi pukul 07.30 – 08.00 WIB. Dan masuk perkuliahan pukul 08.00 hingga malam hari pukul 21.15 WIB. Disela-sela itu ada jam makan siang pukul 13.00-14.00 WIB dan makan malam pukul 18.00-19.00 WIB. Malam harinya masih harus mengerjakan tugas, begadang hingga pukul 04.00 dini hari. Hampir setiap hari seperti ini.

Kuliahnya memang berbeda dengan masa kuliah S1 dulu. Kuliahnya lebih interaktif antara dosen dengan para pesertanya. Kuliah ini tidak semata-mata memindahkan isi buku modul yang tebal kedalam otak masing-masing. Tapi bagaimana isi modul tersebut terinternalisasi dan mengkristal ke dalam diri para peserta prajab. Syarat agar materi yang diberikan terinternalisasi maka para peserta harus melakukannya di unit kerjanya masing-masing, sehingga setiap peserta harus merancang kegiatan yang akan dilakukan diunit kerjanya dengan menerapkan materi yang selama ini diberikan. Nah rancangan tersebut di seminarkan dihadapan penguji apakah layak atau tidak dilakukan di unit kerjanya. Sehari sebelum seminar, seluruh peserta menghadapi ujian komprehensif, ujian ini adalah ujian tertulis tentang seluruh materi yang diberikan.

Sekilas semua itu garing. Namun yang membuat masa prajabatan itu berkesan adalah disana menemukan sebuah keluarga baru. Teman-teman yang berasal dari unit kerja berbeda, dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia, dari Pulau Sumatera hingga Pulau Papua. Teman-teman seangkatan yang gokil, gila, ga punya malu, namun cerdas dan bersahabat. Semoga kelak kami dipertemukan kembali dalam keadaan yang lebih baik lagi. Sukses untuk kita semua. Aamiin.

Angkatan 4, nomor 10

Posted on Friday, March 20, 2015 by De Budi Sudarsono

No comments

Tuesday, February 17, 2015

Setiap cerita di sebuah novel, film, perwayangan, teater dan sejenisnya dipastikan ada yang namanya tokoh utama. Tokoh utama itu pasti ada. Biasanya satu orang, kalaupun kelompok pasti ada satu orang yang lebih menonjol. Nah tokoh utama ini selalu didesripsikan dengan sifat yang bagus-bagus, kalaupun ada yang jelek pasti ada satu sifat yang membuat tokoh utama tersebut terlihat lebih wooow keren. Kalau tidak percaya, coba buka lagi novel atau film yang kamu punya.

Sebagai tokoh utama, dia pasti memiliki tujuan atau ambisi. Dan selalu ada proses berjuang dalam mencapai tujuannya tersebut. Proses berjuang ini biasanya dimotivasi oleh keberadaan sang rival. Adanya rival dalam sebuah cerita akan membuat tokoh utama tersebut menjadi ingin lebih baik darinya, atau minimal sejajar. Oke kita ambil contoh, novel laskar pelangi, tokoh utamanya si Ikal dan ada rivalnya si Arai yang tak lain adalah sahabat sekaligus saudara jauhnya. Tokoh kartun pokemon, Ash sebagai trainer memiliki rival yaitu Gary teman sekaligus cucunya Prof Oak. Batman yang memiliki rival abadi si Joker sebagai musuhnya. Serta contoh pada cerita-cerita lainnya.

Setiap Sabtu biasanya gw lari pagi sendiri di Senayan, beberapa putaran. Ada banyak orang juga yang lari disana. Gw lari sebatas lari, tidak memperdulikan orang lain yang lari disekitar gw. Setiap minggu pagi biasanya gw sepedaan di CFD, satu putaran dari Semanggi muter hingga Monas, balik puteran Kemendikbud dan ke Semanggi lagi. Biasanya sepedaan juga biasa saja, karena sendiri yang penting sepedaan dan tidak memperdulikan orang lain yang lari atau sepedaan disekitar gw. Terus apa hubungannya sama paragraf sebelumnya? Tidak nyambung nih. Hahaha iya memang tidak nyambung.

Hingga pada suatu minggu ketika gw sepedaan bareng dengan sepupu, gw menyadari ada sesuatu yang penting. Dia begitu bersemangat mengayuh sepedanya dan melaju sangat kencang. Mau tidak mau gw mengejarnya agar tidak tertinggal jauh dan kembali sejajar dengan dia atau bisa didepan dia. Memang tidak ngebut-ngebutan, hanya ketika jalannya lowong kita mengayuh sepedanya lebih kencang. Tidak ada perlombaan juga, karena kita sekedar mencari keringat dan mencari happy. Mungkin ini juga akan terjadi ketika gw lari. Kalau ada ‘rival’nya pasti gw akan berlari lebih cepat untuk sejajar atau lebih dulu dari dia.

Hal yang disadari adalah seringkali kita merasa nyaman akan hidup yang sedang kita jalani sekarang. The power of dream. Kekuatan impian itu memang penting, ketika kita memiliki impian, kita akan fokus untuk menggapai impian tersebut dengan sekuat tenaga. Tapi itupun belum cukup. Kita juga harus memiliki rival. Keberadaan rival secara tidak langsung akan selalu mengingatkan posisi kita. Apakah masih aman, lebih baik darinya atau tertinggal jauh. Ketika kita sadar bahwa kita tertinggal, maka akan ada ambisi bahwa kita tidak mau kalah dan tertinggal. Ambisi inilah yang memberikan kita kekuatan untuk berjuang kembali.

Rival itu tidak harus berwujud seorang musuh. Dia ada bisa sebagai seorang adik, saudara, sahabat, kekasih, teman dan orang lain yang kita akui keberadaannya. Ingatlah, ketika engkau merasa berada di zona nyaman atau merasa tidak memiliki tantangan, coba ingat-ingat kembali siapa seorang yang bisa kau jadikan rival. Sudah sampai mana posisi dia sekarang?. Apakah posisimu tertinggal jauh darinya? Jika iya, kau harus berjuang dengan keluar dari zona nyamanmu sekarang. Bangkitkan kembali jiwa mudamu untuk berjuang lebih keras lagi.


Rival

Posted on Tuesday, February 17, 2015 by De Budi Sudarsono

No comments

Wednesday, January 14, 2015

Laki-laki memiliki lika-likunya sendiri. Seliar apapun dia, sejahat apapun dia, pasti ingin yang terbaik untuk dirinya dan orangtuanya. Pun untuk istri dan anaknya kelak. Apalagi untuk yang telah menciptakan dia. Kata perempuan menjadi laki-laki itu “katanya” mudah. Laki-laki itu simpel dan tidak ribet. Kata perempuan menjadi laki-laki itu “katanya” enak. Tidak perlu merasakan bagaimana rasanya haid dan sakitnya proses persalinan. Tapi bagi laki-laki, menjadi laki-laki itu “sulit”. Sulit karena harus bertanggung jawab atas para perempuannya. Tepatnya empat orang perempuan. Yakni ibunya, saudara perempuannya, istrinya serta anak perempuannya. Menjadi lima dengan dirinya sendiri. Masihkah ada yang bilang menjadi laki-laki itu mudah dan enak?

Laki-laki (kebanyakan) diusia remaja yang beranjak dewasa pasti memiliki perasaan was-was. Khawatir yang berlebihan, mengkhawatirkan tentang masa depannya. Bagaimana pekerjaannya, siapa perempuan yang mau dengannya, kapan menikah, apakah cukup tabungannya untuk menikah, bagaimana nasib anak-anaknya kelak, dan kekhawatiran-kekhawatiran yang lainnya.

Dalam kehidupan ini ada ujian disetiap levelnya, diawal dan diakhir level pasti ada ujiannya. Ujian untuk melihat apakah kita pantas untuk mengarungi level berikutnya yang lebih tinggi. Dimulai dari bangku sekolah, dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), menjadi mahasiswa di Perguruan Tinggi, hingga menghadapai dunia pasca kampus di dunia kerja. Hingga pada suatu saat seorang laki-laki harus meminang perempuan yang dicintainya. Setiap level memiliki ujian dan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Namun pada level ini ujiannya bukan dengan sebuah pena yang menari-nari diatas tumpukan kertas ujian. Pada level ini, lagi-lagi seorang yang berjenis kelamin laki-laki harus menunjukkan keberaniannya. Keberanian untuk berdiskusi dengan orangtuanya tentang rencana dia akan menikah. Dan bukan hanya itu saja, tetapi juga harus berani bersama orangtuanya untuk mendatangai keluarga perempuan yang dicintainya.

Jika setiap level pada jenjang pendidikan hingga dunia kerja itu jelas waktu kapan harus ujiannya, namun level ini sangat berbeda, tidak tahu kapan harus ujian, tidak jelas dan terserah. Bisa dalam waktu cepat, namun bisa juga dalam waktu yang sangat lama. Semua tergantung dari si laki-lakinya tersebut. Cepat atau lama, pasti ada waktunya. Tetapi jika laki-laki sudah mencintai seorang perempuan, dia harus siap. Siap dari segala sisi. Niat, mental dan ilmu. Siap kapanpun harus siap. Karena ketika perempuan itu sudah siap namun kita belum siap, siap-siaplah kita akan kehilangannya, karena dia akan memilih laki-laki yang lebih siap. Perempuan itu butuh bicaramu, keberanianmu, dan juga kepastianmu.

Apakah masih ada yang berpikir menjadi laki-laki itu mudah? (“dan para perempuanpun menjawab menjadi seorang perempuan juga tidaklah mudah”)


-Aku-

Posted on Wednesday, January 14, 2015 by De Budi Sudarsono

No comments

Tuesday, December 30, 2014

Lagi dan lagi. Tiga ratus enam puluh lima hari terlewati dengan “begitu saja”. Tak banyak yang dilakukan, tak banyak yang ditingkatkan, dan tak banyak yang dihasilkan. Dua ribu empat belas sebentar lagi pergi, hilang, dan segera diganti dengan tahun yang baru, tahun Masehi, tahun dua ribu lima belas.

Sepertinya baru kemarin membuat perjalanan selama satu tahun di tahun 2013 untuk menyambut tahun 2014. Sekarang, sudah membuat lagi tulisan tentang ini diakhir 2014. Ah, sudah lama juga tidak membuat tulisan. Setengah tahun lebih jari-jari ini tidak menari sesuai dengan otak dan hati. Selama ini jari-jari hanya dipaksa bergerak untuk mengais rezeki, hanya untuk sesuap nasi. “Alaaaah alasan saja”. Iya memang, itu alasan klasik mengapa jari-jari ini enggan untuk menulis lagi. “Dasar Pemalas, anget-anget tahi ayam. Menulis hanya kuat hitungan bulan saja. Setelah itu, ditinggalkan”.

Selama satu tahun di tahun 2014, harus diakui banyak yang dialami. “Yaiyalah, pasti banyak yang dialami. Tapi ada ga yang ditingkatkan atau dihasilkan? Nihil kan!!!”. Iya, memang benar tak banyak yang raga ini tingkatkan dan hasilkan. Namun, banyak hal yang sudah diterima dan menjadi pelajaran hidup yang berharga. Walaupun demikian, ada rasa bersalah dan merasa tidak puas dengan apa yang telah dicapai di tahun ini. Tak ada yang lebih pantas daripada permohonan maaf yang ditujukan langsung kepada Yang Maha Mencipta. Yang menciptakan sebegitu luarbiasanya kemampuan otak dan sebegitu kuatnya fisik pada raga ini. Maaf karena belum menjadi sosok manusia yang bersyukur, bersyukur dengan memanfaatkan seluruh apa yang telah dianugerahkan oleh Dia. Maaf ya Allah. Dan terima kasih atas segala curahan nikmat-Mu selama satu tahun ini.

Tahun depan mata ini, hidung ini, telinga ini, dan seluruh yang ada didalam dan menempel pada raga ini sudah berusia seperempat abad. “Wooow”. Duapuluh lima tahun. Bukan angka yang sedikit, dan juga bukan lagi usia yang mengedepankan ego dan nafsu semata. Banyak hal yang harus ditingkatkan pada tahun 2015. Target-target yang belum tercapai harus segera dicapai sebelum. “Sebelum apa?”. Sebelum memutuskan untuk melengkapi sebagian agama. “Maksudnya menikah?”. Yaa, menikah. “Memang punya modal apa sudah berani-berani membahas tentang menikah?” Sudah cukup ilmu, mental dan materi?”. Belum, memang belum, tapi selama tahun 2014 ini banyak hal yang sudah membuka mata hati untuk menatap kesana. Yang penting niatnya dulu kan?. Semoga Yang Maha Memiliki Hati segera memilihkan hati perempuan “terbaik” untuk melengkapi sebagian dari agama ini. Aamiin. Itu menjadi satu dari beberapa harapan di tahun 2015.

-Aku-






     

Posted on Tuesday, December 30, 2014 by De Budi Sudarsono

No comments

Sunday, June 29, 2014

Saat masih anak-anak, gw sangat senang menyambut bulan ramadhan. Dulu, yang membuat gw senang adalah pulang sekolah jadi cepet, bisa main bareng teman-teman sebaya setelah solat teraweh serta subuh, dan bakal dibelikan pakaian baru menjelang lebaran. Tapi puasanya? Setengah hari, hahaha. Ya walaupun setiap tahun ada peningkatan bisa puasa pool [full]. Nah tapi dulu bisa puasa pool itu karena ada motivasinya. Bukan motivasi dari Mario Teguh. Motivasinya adalah jika gw berhasil puasa pool sebulan penuh maka gw akan diberikan uang yang banyak di hari lebaran. Hanya demi uang loh hahaha.

Sekarang sudah kepala dua, usia yang pastinya memiliki motivasi tersendiri dan pasti berbeda dengan saat masih anak-anak untuk bisa berpuasa di bulan Ramadhan. Tidak hanya berpuasa saja, tapi beribadah secara utuh. Lalu apa? Berharap akan pahala yang banyak karena di bulan ini Allah memberikan banyak bonus? Atau karena ingin masuk syurga? Kalau yang seperti itu dijadikan motivasi berarti sama saja dengan gw saat menjadi anak-anak. Motivasinya hanya karena uang. Artinya kita beribadah kepada Allah tidaklah ikhlas, hanya karena kita mengharapkan sesuatu.

Loh? Apakah itu salah? Oh tentu tidak. Kita memang diperintahkan untuk selalu berdoa, meminta sesuatu hanya kepada Allah. Tapi, jika motivasinya tetap seperti itu, gw bisa menjamin bahwa itu tidaklah bertahan lama. Ada loh yang lebih penting dari itu. Namanya ridho. Bukan ridho anaknya pak lurah loh ya. Ridhonya Allah. Wah susah nih yang kayak begini. Kalau sudah ridho itu urusan Allah. Kita hanya bisa ikhtiar saja. Caranya bagaimana? Kuncinya adalah ikhlas dalam beribadah kepada Allah.

Setiap solat kan kita selalu berdoa di takbiratul ikhram. Inna solati wanu suki wama yahya wama mati lillahirobbil  alamin. Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Taala. Dan Allah menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada Allah. Kuncinya ikhlas. Mempraktekkan ikhlas itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Syusah. Keseringan kita akan khusuk solat, puasa dan sedekah kalau kita ada maunya. Misalnya lagi ujian semesteran atau lagi tes masuk kerja. Tapi kalau kita lagi tidak ada yang diinginkan maka solatnya yang penting solat, bahkan mungkin ada yang meninggalkannya.

Gw juga masih proses belajar ikhlas. Sulit tapi jika pelan-pelan dan terus menerus dicoba pasti bisa. Nah, hari ini tepat 1 Ramadhan 1435H. Jadikan ini sebagai momentum untuk kita belajar lebih ikhlas lagi. Indikator keberhasilannya adalah setelah bulan ini selesai maka ada perbaikan diri dan perilaku kita, dan lebih ikhlas lagi kepada Allah. Dan jika tidak ada perbaikan, sama saja, bahkan lebih buruk, maka kita gagal dan termasuk dalam orang-orang yang rugi.

De Budi Sudarsono

Posted on Sunday, June 29, 2014 by De Budi Sudarsono

No comments

Tuesday, April 29, 2014


Sepuluh bulan bukanlah waktu yang lama untuk hitungan seseorang bekerja di sebuah perusahaan, malah bisa dibilang sebentar. Nanggung banget ya sepuluh bulan, padahal dua bulan lagi bakal genap menjadi satu tahun dan berakhir kontrak kerja yang ditanda-tangani di awal. Sepuluh bulan di sini dimulai saat pertama masuk 1 Juli 2013 dan berakhir hari ini 29 April 2014.

Yang setahun bekerja saja masih dipertanyakan pengalamannya, apalagi yang tidak sampai setahun. Sejujurnya pengalaman yang gw dapat disini juga tidaklah terlalu banyak. Tapi cukuplah untuk menjadi batu loncatan gw. Secara backgroud pendidikan (statistika), ilmu gw tidak bertambah, bahkan mungkin sudah luntur karena tidak pernah disentuh lagi, hahaha. Jika dilihat dari Excel, lumayan lah pengalaman disini, banyak formula-formula dan logika-logika yang gw temukan selama memecahkan persoalan disini. Nah yang banyak gw dapat disini adalah wawasan gw seputar perkembangan ekonomi dan bisnis. Data-data yang gw pegang disini adalah data-data Saham, Reksadana dan Unitlinked. Perpustakaan juga lengkap tentang perkembangan ekonomi Indonesia dan dunia. Teman disini bukan hanya sebatas rekan kerja saja, tapi sudah seperti keluarga. Ohiya yang paling tak terlupakan dan paling berkesan adalah berat badan gw yang naik signifikan, huahahahasem.


Hidup ini memang tidaklah cukup hanya bekerja saja, urusan rohani juga harus dipenuhi. Semenjak bekerja disini, solat wajib selalu gw kerjakan tepat waktu dan berjamaah di Masjid. Zuhur, Asar, Magrib dan Isya, ditambah sunnah qobliah badiah. Sebuah point penting yang gw dapat disini. Karena untuk solat tepat waktu dan berjamaah di Masjid itu tidaklah mudah. Sulit karena faktor malas. Karena disini, setiap hari kerja pasti tidak ketinggalan untuk tepat waktu dan berjamaah di Masjid. Semoga setelah lulus dari sini gw masih tetap istiqomah dalam menjalankannya. Aamiin.

Permohonan maaf gw tujukan kepada rekan kerja sekaligus keluarga gw disini. Untuk atasan, teman-teman sesama staf, dan OB. Maaf karena harus lulus duluan dan tidak bisa bersama-sama lagi di kantor. Maaf karena gw termasuk pribadi yang iseng dan tidak bisa diam, jika ada perbuatan dan kata-kata yang tidak berkenan mohon dibukakan pintu maaf yang seluas-luasnya.
 
Ucapan terima kasih juga gw berikan untuk semuanya, semua pihak yang telah memberikan gw banyak pelajaran moral dan pekerjaan. Arti sebuah profesionalitas dan kekeluargaan. Terima kasih karena sudah menjadi tempat gw untuk mengenal dunia pasca kampus. Semoga perusaahaan ini akan terus berkembang dan maju dari zaman ke zaman. Aamiin. Terima kasih Bisnis Indonesia.

Bersama Pak Erlan, Manager Layanan Data dan Tabel

Bersama Pak Ramon, Direktur BIRC



Posted on Tuesday, April 29, 2014 by De Budi Sudarsono

No comments

Tuesday, April 08, 2014


Diantara teman-teman, gw termasuk dalam kategori kurus jangkung, postur badan yang tinggi tetapi berat badan kurang. Ini bertahan hingga gw lulus kuliah dan di wisuda. Tapi semuanya berubah, setelah negara api menyerang. Hehe. Semua berubah pasca kuliah, semenjak kerja, berat badan gw mulai tak terkontrol. Secara visual banyak yang bilang gw sekarang gemuk, lebih berisi, mukanya bulat dan yang lebih ga enaknya lagi banyak yang bilang gw buncit, haha. Sampai akhirnya gw beli timbangan badan, berat badan gw berkisar 75-79 kg. Wooow, angka yang fantastis. Naik 10 kg sejak gw lulus. Panik tralalatrilili. Nyokap marah-marah. Yang gw khawatirkan adalah gw takut banyak penyakit di dalam tubuh orang yang kegemukan, seperti diabetes, kolesterol atau yang sejenisnya.

Jika gw menilik ke belakang, tak ada yang berubah dari pola makan gw. Mungkin asupannya saja yang lebih bergizi daripada saat masih kuliah, yang mesti berhemat di kosan hehe. Olahraga masih aman, seminggu sekali pasti lari ke senayan, kadang-kadang di tambah main futsal. Lalu apa yang menyebabkan berat badan ini melesat?..Oh sepertinya [dugaan gw] ini karena aktifitas gw yang lebih sedikit dibandingkan saat gw masih sekolah. Lebih santai, tidak terlalu tertekan, dan tidak stres. Jadi energi yang masuk tidak semuanya dikeluarkan. Alhasil masih tersimpan dalam bentuk lemak. Ya, karena perut sudah mulai ada lipatan, lipatan lemak.

Gw harus bisa mengontrol berat badan gw, minimal perut ga buncit dan tidak ada penyakit di dalam tubuh. Tapi apa daya?. Niat mau olahraga 3x dalam seminggu pun hanya menjadi wacana. Puasa senin-kamis pun masih bolong-bolong. Ngemil di kantor tak bisa di tahan. Kerja hanya didepan komputer. Yaudahlah yang penting gw sehat, haha.

Siang tadi ketika gw lagi serius kerja didepan komputer, ada info kalau di lantai atas ada presentasi dari Tropicana Slim, dan bisa cek kadar gula darah dan berat badan juga, gratis. Nah yang gratis ini yang gw cari, haha. Gw antusias, karena gw belum tau kadar gula darah gw berapa semenjak gw jadi gemuk. Dari sini bisa dilihat apakah kita terkena diabetes atau tidak.

Mereka ke sini pasti sebagai ajang promosi produk mereka. Presentasinya tidak lama, tapi cukup menarik. Jenis-jenis makanan yang dikonversi dengan beberapa sendok teh gula pasir. Misalnya, sepotong martabak itu setara dengan 3 sendok teh gula pasir, minuman bersoda mencapai 10 bahkan lebih sendok teh gula pasir. Intinya sih kita harus hati-hati dalam mengkonsumsi makanan, apalagi yang junk food dan minuman bersoda harus dikurangi bahkan kalau bisa dihindari.

Setelah presentasi barulah dimulai tuh cek gula darahnya. Sambil ngantri gw deg-degan, apakah kadar gula darah dalam tubuh gw ini normal atau malah berlebih dan jadi diabetes?. Giliran gw pun tiba. Pas di cek hasilnya 78 mg/dl. Ha? Nilai yang cukup rendah, karena ragu petugasnya ngecek lagi, sekarang pake jari tangan kanan gw. Dan hasilnya tetep sama 78 mg/dl. Ini masuk kategori normal, tetapi normal yang cenderung rendah. Kalau mencapai 140-199 itu waspada diabetes, dan jika diatas 200 mg/dl termasuk diabetes. Tapi gw bersyukur masih jauh dari yang namanya diabetes.


Lanjut ke cek berat badan. Petugasnya memakai alat khusus dengan memasukkan umur gw (24 tahun) dan tinggi badan (178 cm). Gw naik ke atas timbangan. Hasilnya sangat mengejutkan, haha. Berat badan gw 77,5 kg. Sedih pas ngeliat, ya Allah saya berat dimana ya? Berat di daging? Otot? Tulang? Lemak? Atau berat di dosa?

Kemudian bisa dilihat persentase lemak dalam tubuh, nah lemah di tubuh gw mencapai 32%, angka yang cukup besar dengan angka normalnya itu untuk pria 10-20% saja, dan gw masuk kategori + atau di atas normal, dari tiga kategori yaitu 0 (normal), + (di atas normal), dan ++ (sangat melebihi normal). Dan ternyata gw berat di lemak. Tambah sedih. Indeks Masa Tubuh (IMT) gw sebesar 24,5. Lagi-lagi di atas normal. Normalnya itu 18-23. IMT ini bisa dihitung sendiri dengan membagi berat badan (kg) dengan tinggi badan kuadrat (m2).

Dari hasil diatas bisa disimpulkan sementara bahwa gw alhamdulillah tidak terkena diabetes, tetapi gw kelebihan berat badan, ya walaupun sedikit di atas normal. Nah kelebihan berat badan ini yang bisa memicu timbulnya penyakit kolesterol tinggi. Dan gw ga mau terkena penyakit itu.

Oke, mulai sekarang gw harus jaga makanan yang akan masuk ke mulut gw ini. Jangan yang berlemak dan jangan pula yang berminyak. Olahraga mesti ditingkatkan. Jangan tidur sehabis makan.
Menjaga kesehatan merupakan salah satu wujud tanda syukur kita kepada Allah yang telah menciptakan tubuh ini dengan sangat kompleks, lengkap dan sempurna. Bisalah ya..

Posted on Tuesday, April 08, 2014 by De Budi Sudarsono

No comments

Monday, March 24, 2014


Merdunya suara azan subuh kala itu membuat janin yang sudah sembilan bulan bersemayam di perut ibunya tak sabar untuk segera melihat indahnya dunia. Segala usaha telah ia lakukan, tapi memang belum waktunya. Kesabaran dia pun mulai tergerus, ia tak mau lagi bergantung dengan plasenta ibunya, ia ingin segera bisa hidup mandiri. Usahanya semakin keras untuk minta keluar. Sehingga sang ibunya pun mengeluh kesakitan. Dokter mengatakan kepada pria paruh baya yang mendampingi ibunya, yang tak lain adalah ayah dari anak yang akan lahir tersebut, bahwa sudah waktunya anak ini lahir.

Keringat menetes di pelipis dan membanjiri seluruh tubuh ibu hamil tersebut. Janin ini terus berusaha untuk keluar, tanpa tahu bagaimana sakit yang sedang di rasakan oleh ibunya, ia juga belum tahu bahwa ibunya sedang mempertaruhkan nyawa hanya untuk melihat dan mendengar tangisan anak yang akan ia lahirkan itu.

Sekitar pukul sepuluh WIB terdengar suara tangisan bayi. Laki-laki paruh baya tersebut langsung diberi kabar oleh dokter bahwa anaknya berjenis kelamin laki-laki, seorang jagoan ayahnya. Dia segera mengazankan di telinga kanan dan mengiqomatkan di telinga sebelah kiri bayi merah itu, dan terlihat perasaan lega dan senyuman disertai tangisan terlihat dari wajah ibunya.


Suasana yang terjadi duapuluhempat tahun yang lalu, seorang anak laki-laki dilahirkan dan diberi kesempatan untuk bisa mencicipi yang namanya kehidupan di dunia.

Alhamdulillah, puji syukur selalu gw panjatkan kepada Yang Maha Pencipta, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Allah SWT. Sabtu kemarin, 22 Maret tepat usia gw menginjak angka 24 tahun. Angka yang tidak sedikit, angka yang pastinya sudah dipercaya untuk bisa mempertanggungjawabkan segala yang telah gw lakukan.

Sesungguhnya dalam setiap detik yang berlalu, semakin berkurangnya waktu kita hidup di dunia ini. Tak ada yang tahu berapa lama lagi gw diberi kesempatan. Apakah tahun depan gw masih bisa merayakannya bersama orang-orang terdekat?. Aah gw tidak bisa menjamin. Masih banyak yang harus gw capai. Masih banyak yang belum gw lakukan. Masih banyak kebaikan-kebaikan yang harus gw amalkan, untuk menambah berat timbangan, agar tidak kalah beratnya dengan dosa-dosa gw yang telah berceceran.

Media sosial seperti Facebook telah menemani gw dari tahun 2009, dan dari tahun itu hingga 2013 tahun lalu, teman-teman gw selalu diingatkan bahwa tanggal 22 Maret adalah hari kelahiran gw. Banyak yang memberikan ucapan. Siapa yang tak senang jika orang lain tahu dan mengucapkan selamat kepada kita. Tapi tidak untuk tahun ini, akhir tahun 2013 gw sengaja menutup tanggal lahir gw di FB. Dan seperti dugaan gw, tidak ada yang ingat kalau gw ulang tahun. Hanya keluarga besar dan segelintir sahabat yang ingat dan memberikan ucapan via sms. Sedih? Pastinya sedih, tapi hanya tersenyum sendiri, dan sadar bahwa tak banyak orang yang mengenal sosok De Budi Sudarsono. 

Oh, ini membuat gw menjadi berfikir. Ketika nanti gw mati, apa yang orang lain ingat tentang gw? Gw bukannya mau menjadi orang terkenal yang memiliki ribuan penggemar. Gw hanya mau bahwa keberadaan gw saat di dunia ini meninggalkan jejak. Bukan sembarang jejak, tapi jejak yang mampu memberikan kebermanfaatan untuk banyak orang dan berefek domino, terus menerus walau jasad gw sudah tak berada di atas muka bumi.
Tapi? Ah masih banyak yang harus gw lakukan untuk bisa merealistiskan keinginan gw itu. Semoga disisa umur gw ini, gw bisa mewujudkannya. Aamiin.

Puji Syukur selalu ku panjatkan kehadirat Allah SWT. Terima kasih buat mama, bapak, dewi dan keluarga. Terima kasih buat sahabat dan teman-teman yang telah ingat tanggal kelahiran gw. Terima kasih atas doa dan ucapannya. Terima kasih.



Posted on Monday, March 24, 2014 by De Budi Sudarsono

No comments

Friday, March 14, 2014


Bukan hanya masa depan saja yang menyimpan misteri, seperti yang pernah gw bahas di postingan “Akhirat tidak Kekal”, tetapi masa lalu (sejarah/pra-sejarah) juga menjadi sebuah misteri.

Cerita tentang manusia [yang katanya] pertama hidup di Bumi ini adalah Nabi Adam sudah sering kita dengar. Sejak masih duduk di Sekolah Dasar (SD), Taman Pendidikan Al-Quran (TPA), hingga ceramah-ceramah dari Ustadz/Ustadzah. Nabi Adam itu adalah manusia pertama yang diciptakan oleh Allah dari tanah. Kemudian Allah memerintah Malaikat, Jin dan Iblis untuk bersujud kepada Nabi Adam. Namun hanya Iblis yang durhaka dan membangkang terhadap perintah Allah tersebut. Oleh karena itu Iblis di usir dari [yang katanya] Syurga.

Nabi Adam kesepian tinggal sendirian di Syurga. Lalu Allah menciptakan Hawa sebagai pendampingnya yang diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam. Mereka hidup bahagia, tapi segalanya berubah ketika Iblis menyerang. Iblis membisikkan kepada keduanya untuk memakan buah [khuldi] yang dilarang oleh Allah. Namun karena bisikan Iblis tersebut mereka berdua memakannya. Alhasil pakaian yang melekat pada tubuh merekapun tiba-tiba hilang. Allah marah akibat perbuatan mereka, lalu mengirim mereka turun ke Bumi dan dipisahkan keduanya di tempat yang berbeda. Butuh waktu yang lama sehingga akhirnya mereka berdua bertemu kembali dan berkembang biak melahirkan keturunan-keturunan Nabi Adam dan lahirlah kita.

Kurang lebih seperti itulah cerita yang kita ketahui selama ini dengan versi yang berbeda-beda, tetapi intinya tetap sama. Cerita itupun gw terima mentah-mentah dan percaya karena bersumber langsung dari guru ngaji dan guru agama. Entah itu memang sebuah kenyataan, legenda atau mitos, tetap saja cerita tersebut yang selama ini kita terima.

Semakin dewasanya umur, diiringi dengan semakin ingin tahunya tentang segala sesuatu. Tak terkecuali tentang Nabi Adam. Pertanyaan gw sederhana, sebenarnya lebih dulu mana Nabi Adam, Manusia Purba atau Dinosaurus? Banyak film yang gw tonton memperlihatkan bahwa manusia purba dan Dinosaurus itu hidup berdampingan. Kalau manusia purba itu yang pertama berarti Nabi Adam juga manusia purba donk?

Pernah juga mendengar bahwa manusia purba itu adalah manusia yang dikutuk karena melanggar perintah Allah. Dan manusia pada masa itu poster tingginya pun juga besar setara dengan tinggi Dinosaurus. Kalau dibandingan dengan sekarang itu sama halnya seperti kita manusia dengan kuda atau zebra. Sebanding. Tetapi Dinosaurus punah karena tidak mau ikut naik ke dalam kapal yang dibuat oleh Nabi Nuh.

Ada lagi yang mengatakan bahwa dulu sebelum manusia tercipta ada makhluk lain seperti setengah dewa yang sering berbuat kerusakan dengan selalu berperang dan saling membunuh di muka Bumi. Sehingga makhluk tersebut dimusnahkan oleh Allah dan digantikan oleh spesies bernama manusia yang ditugaskan sebagai khalifah di muka bumi.

Masih banyak lagi versi-versi cerita yang pernah kita ketahui. Coba saja tanya di Mbah Google, pasti banyak sekali versi yang muncul. Gw tidak terlalu memusingkan mana yang benar dan mana yang paling benar. Seharusnya bisa gw cari tahu. Darimana? Dari yang telah tertulis dalam ayat-ayat cinta-Nya dan dari alam semesta ini, ilmu Qauliyah dan ilmu Kauniyah.


Hingga pada akhirnya gw dipertemukan oleh sebuah buku yang kontrovesial dengan penulis yang sama seperti buku Akhirat Tidak Kekal. Buku yang kali ini gw baca berjudul Ternyata Adam Dilahirkan. Nah loh!!! Berbanding terbalik dengan segala versi yang selama ini kita terima mentah-mentah.

Di dalam buku ini diceritakan tentang penciptaan Allah yang sebegitu rumit dan terencana. Dari mulai diciptakannya alam semesta, bumi hingga manusia. Penulis memiliki pemikiran yang unik, yang berbeda dengan kebanyakan orang termasuk gw. Penulis memadukan tafsir Al-Qur’an dengan ilmu-ilmu modern, seperti ilmu kedokteran, paleontologi dan astronomi. Penulis menuturkan cerita tentang sejarah bumi, penciptaan manusia dalam Al-Qur’an, kemudian penulis juga menceritakan tentang tabir genetika dan kemudian di bab terakhir menyatakan bahwa Nabi Adam itu ternyata dilahirkan.

Pemikiran penulis tak hanya memaparkan tentang makrokosmos seperti penciptaan alam semesta ini, tetapi juga ke mikrokosmos seperti bagian paling kecil dari sel-sel yang membentuk jaringan lalu organ dan akhirnya berbentuk makhluk hidup. Ah, dari pemaparan beliau ini mengingatkan gw ketika belajar biologi dan fisika. Biologi karena dulu pernah belajar tentang sel, jaringan, organ, genetik, asam amino dan blablablabla. Kemudian fisika tentang planet-planet, teori Big Bang dan lain sebagainya. Ini semua mengingatkan bahwa kita itu hanyalah makluk lemah yang tak berdaya, pandai-pandailah bersyukur pada yang Maha Kuasa, Maha Berencana, Maha Pencipta, Allah SWT.

Oke, intinya apa?
Gw mencoba menyimpulkan hasil dari pemikiran beliau. Penulis mengatakan dengan disertai ayat-ayat Al-Quran bahwa manusia pertama yang diciptakan bukanlah Nabi Adam, tetapi manusia sebelumnya, makhluk yang kita kenal sebagai manusia purba. Penulis menyebut manusia purba ini sebagai al-basyar yang artinya diciptakan dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan manusia (Nabi Adam) beserta keturunannya itu diciptakan dari tanah yang sudah gembur (saripati tanah atau pertemuan antara sperma dan ovum) lalu meniupkan ruh-Nya dan disebut al-insaan. Jadi Nabi Adam itu adalah al-insaan yang dilahirkan oleh al-basyar generasi awal. Penulis tidak menjelaskan siapa al-basyar yang pertama, namun penulis menjelaskan bahwa al-basyar diciptakan berbarengan atau langsung banyak.

Masa tersebut tak ada yang tahu, yang mengetahui hanya yang menciptakan, yakni Allah SWT. Namun kita diberi akal untuk berpikir. Sering kali di dalam ayat-ayat-Nya dibilang “....bagi kaum yang berfikir.”. Dan Allah juga akan mengangkat derajat untuk orang-orang yang berilmu. Mari sama-sama untuk terus belajar dan mencari tahu hal-hal yang baik dengan selalu dilandasakan oleh Al-Qur’an.

Yang mau baca bukunya bisa di cari di toko buku terdekat, Judulnya Ternyata Adam Dilahirkan, penulisnya Agus Mustofa. Atau jika ada yang mau minjam bisa hubungi gw.

“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam ruh-Nya dan Dia menjadikan kamu pendengaran, penglihatan, dan hati (tapi) sedikit sekali kamu bersyukur” [QS. As Sajdah (32): 9]

Wallahu a’alam bishshawab.

Posted on Friday, March 14, 2014 by De Budi Sudarsono

No comments

Tuesday, March 11, 2014


Masih ingat artikel gw sebelumnya yang berjudul Kalah Sebelum Berperang?. Karena momen itu gw jadi lebih mempersiapkan diri untuk ikut tes di Kementerian ESDM. Hasilnya? Gagal lagi, gagal di TKDnya lagi. Perasaannya? Sakit, karena gw sudah belajar tentang undang-undang, pasal-pasal, dan ketika gagal itu rasanya tidak mengenakkan, kesel. Beda saat gw gagal di Kemenkeu, itu malah bisa cenge-ngesan, karena memang gw tidak ada persiapan apa-apa.

Kesempatan terakhir gw jatuh di Kemendikbud. Alhamdulillah gw lulus pada tahap TKD, gw peringkat pertamanya. Dan yang datang di tahap TKB ada sekitar 18 orang termasuk gw untuk memperebutkan 2 tempat. Ternyata TKB itu soalnya statistika banget, sesuai dengan kebidangan ilmu masing-masing. Disini gw merasakan manfaat pernah menjadi asisten dosen mata kuliah Metode Statistika dan Analis Data Kategorik. Lancar jaya saat mengerjakannya, padahal sudah setahun tidak bersentuhan dengan teori-teori statistika semenjak lulus. Alhamdulillah.

Butuh waktu dua bulan untuk menunggu hasil dari TKB tersebut. Setiap hari pasti buka web-nya untuk melihat, setiap hari bisa 2-3 kali, hasilnya selalu belum ada pengumuman. Waktu yang sangat lama, karena kementerian lainnya sudah ada pengumuman finalnya, bahkan sudah ada yang mulai masa Pra-Jabatannya.

Februari tanggal 26 tahun 2014 menjadi waktu yang besejarah buat para penanti hasil final kemendikbud di belahan bumi Indonesia, termasuk gw. Tepat pukul 20.45 WIB pengumuman tersebut muncul di situs resminya Kemendikbud. Alhamdulillah nama gw termasuk dalam daftar nama yang lulus CPNS Kemendikbud, tepatnya di Direktorat Jenderal Kebudayaan, sebagai Analis Data Kekayaan Budaya.

Alhamdulillah pemberkasan sudah selesai dan sekarang menanti turunnya SK dari Badan Kepegawaian Negara (BKN). Tidak bisa ditentukan kapannya, bisa sekitar 2-3 bulan. Berarti status gw sekarang masih CCPNS, Calon CPNS. Setelah menjadi CPNS nanti masih harus ikut Pra-Jabatan. Menjadi PNS pun harus lulus masa Pra-Jabatan saat CPNS. Semoga semua dilancarkan, aamiin. Mohon bantuan doa dari semuanya.

Ada beberapa yang nanya, mengapa gw mau jadi PNS? Pertanyaan dasar yang membuat gw memerlukan waktu yang cukup lama untuk menemukan jawabannya. Hal yang membuat gw lama berpikir adalah tentang teman-teman gw. Loh ko? Apa hubungannya sama teman-teman?. Gw bertanya-tanya, teman-teman gw yang cerdas, pintar, genius, yang IPK-nya di atas rata-rata tidak ada yang jadi PNS. Mereka berkarir di perusahaan BUMN dan Swasta. Gw memang tidak sepintar mereka, tapi mengapa mereka tidak ingin jadi PNS ya? Gw mencoba menghilangkan image buruk tentang PNS. Andaikan mereka ikut tes CPNS, sudah pasti mereka akan lulus, gw yakin. 

Kemudian, teman-teman gw yang semasa kuliahnya sangat aktif berorganisasipun tidak ada yang jadi PNS. Mereka kebanyakan terjun di dunia wirausaha, mereka mengembangkan usaha dari nol dan membuka lapangan pekerjaan untuk warga sekitar. Gw memang aktif berorganisasi semasa kuliah dari tingkat satu hingga tingkat akhir. Namun di tingkat akhir, gw tidak total dalam menjalaninya, bisa dibilang “cacat”, gw menyesal tidak total, padahal itu tahun terakhir gw di kampus.

Posisi gw tidak terlalu pintar dan tidak terlalu aktif berorganisasi. Pas-pasan, middle class, kelas medioker.  Justru harusnya lebih banyak teman-teman gw yang cerdas dan aktif berorganisasi berada di lingkungan pemerintahan. Karena di sana keputusan yang menyangkut publik dibuat. Bila kita semua ingin jadi warga negara yang baik hanya dengan jadi pembayar pajak yang baik, lalu siapa yang mengelola APBN dari uang pajak kita? Urusan pangan, pendidikan, kesehatan, perumahan, transportasi, infrastruktur, siapa yang memutuskan? Yang memutuskan adalah mereka-mereka yang berada di wilayah pemerintahan.

Semua kembali pada niat masing-masing. Bismillah, gw sudah menetapkan hati untuk lanjut dan berkarir menjadi PNS di Kemendikbud. Semoga gw bisa menjaga idealis gw di sana. Aamiin.

Posted on Tuesday, March 11, 2014 by De Budi Sudarsono

No comments

Tuesday, March 04, 2014


Dua belas tahun yang lalu, kisaran tahun 2000an gw masih duduk di bangku sekolah dasar. Orang tua gw menitipkan anak laki-lakinya yang “guanteng” ini ke Yayasan Sekar Laut PT. Pelni, SDS Barunawati. Gw menimba ilmu di sana selama kurang lebih delapan tahun, dua tahun di TK-nya dan enam tahun di SD-nya. Banyak kenangan yang terukir disana. Zaman ketika gw masih bocah ingusan yang kecil, item dan sedikit cengeng. Sedikit loh ya, hahaha.

Dua belas tahun berlalu, Allah memberikan gw kesempatan untuk kembali menginjakkan kaki ke gedung yang besar ini (maklum, isinya dari TK hingga SMA, hehe). Kondisinya sekarang sedang dalam renovasi, akan makin besar lagi ini sepertinya. Sebenarnya jarak antara rumah ke sekolah gw itu tidaklah begitu jauh. Dalam waktu sekitar 20 menit bisa ditempuh dengan sepeda motor. Tapi tidak ada kesempatan untuk masuk ke dalam. Untuk apa masuk ke dalam? Toh gw tidak punya keperluan apa-apa dan gw juga belum jadi siapa-siapa. Kalau kesana paling hanya sekedar melewati depannya saja, sambil mencuri-curi melihat ke dalam.


Tadi pagi gw ke sana, ke SD gw itu, sekolah swasta, iya namanya SDS Barunawati. Sepanjang jalan di koridor menuju ke Tata Usaha gw senyam-senyum sendiri sambil melihat ke seluruh penjuru sekolah. Gedung yang sangat angker karena dulunya adalah kuburan Belanda. Ya itu gosip/cerita seram yang beredar saat gw masih berseragam putih-merah. Anak-anak SMP sedang pelajaran Olahraga di lapangan, yang laki-laki terlihat asyik bermain bola plastik dengan kaki telanjang. Persis seperti zaman gw dulu, dan selesai bermain telapak kaki langsung melepuh karena “kapalan”. Anak-anak kelas satu berdiri didepan pintu sambil berbaris dan ditemani orang tua mereka. Memori gw langsung teringat ketika awal masuk SD. Pintu Tata Usaha (TU) pun akhirnya tepat di depan mata. Dan gw masuk ke dalam.

“Glek”,  suara pintu yang gw buka, sambil gw ketok-ketok dan berucap salam, Assalamualaikum.

Ohiya, gw ke sana karena ada keperluan, mau melegalisir Ijazah SD.

Di dalam TU gw bertemu sama seorang yang tak asing lagi buat gw, tapi beliau sekarang gemuk dan lebih berwibawa. Pak Purwanto, guru sekaligus wali kelas saat gw duduk di kelas enam SD. Langsung gw salim dan mencium tangan beliau. Beliau berusaha berpikir keras untuk mengingat-ingat siapa sosok laki-laki tampan yang sedang berada tepat di hadapannya ini, hahaha.

Pak Pur mempersilahkan gw untuk masuk ke ruangannya. Ternyata beliau sudah menjadi Kepala Sekolah di SDS Barunawati. Woow, pantas terlihat gemuk berisi dan berwibawa, hehe. Setelah bercerita ini-itu sepertinya beliau ingat gw itu yang mana. Sepertinya loh ya hahaha, karena maklum guru kan muridnya banyak, tiap tahun ganti muridnya. Tapi tetep kita ngobrolin angkatan si ini lah, si itulah. Obrolan terhenti ketika ada sosok guru berjilbab biru agak besar tetapi pendek masuk ke dalam. Sambil melempar senyum ke gw dan bertanya siapa ya? Gw pun ikut senyum dan langsung berdiri dari tempat duduk dan segera menghampiri perempuan tersebut. Langsung gw cium tangannya, Bu Asih bagaimana kabarnya? Sehat kan ya?. Gw tatap wajahnya, beliau masih senyum dengan mata yang berkaca-kaca. Mungkin dalam hatinya bertanya siapa ya ini laki-laki tampan yang tahu nama saya?, hahaha.

Alhamdulillah Bu Asih masih ingat sama gw, ketika beliau melihat pas poto 3x4 yang tertempel di pojok kiri bawah ijazah gw. Iya ibu ingat, muka kamu ibu ingat ko sambil ketawa ibunya. Bu Asih juga masih ingat kalau gw dulu sepupuan sama Ismail, beliau masih ingat kalau ibu gw bersaudara sama ibunya Ismail. Obrolan kita bertiga seputar angkatan gw saat zaman masih bocah. Gw tanya Bu Ani (wali kelas 1 SD) dan Bu Tri (wali kelas 2 dan 5 SD), dan mereka ternyata sudah jadi PNS di SD lain. Pak Sam (wali kelas 4 SD) sudah meninggal dunia, innalillahi wa innailaihi rojiun. Pak Acep guru Agama masih mengajar, dan Bu Aida guru Olahraga juga masih mengajar. Pak Arifin, kepala sekolah zaman gw rupanya baru tahun lalu pensiun dan di gantikan oleh Pak Pur.

Kurang lebih setengah jam obrolan gw bersama dua guru yang sangat gw hormati itu. Cukup setengah jam untuk melepas rindu seorang murid terhadap gurunya, sambil meminta doa restu untuk kesuksesan gw ke depannya.

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru. Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku. Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku. Sebagai prasasti terima kasihku, Tuk pengabdianmu. Engkau sebagai pelita dalam kegelapan. Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan. Engkau patriot pahlawan bangsa. Tanpa tanda jaaasa.

Lagu Hymne Guru yang sering gw dendangkan saat upacata bendera setiap hari senin ini, sekarang gw dendangkan kembali. Begitu sesak, begitu terasa pengabdian mereka. Terima kasih Bu Asih dan Pak Pur.

Posted on Tuesday, March 04, 2014 by De Budi Sudarsono

No comments

Tuesday, February 18, 2014


Tak seperti biasanya, sebelum azan Ashar berkumandang Sabtu kemarin, sahabat gw tiba-tiba langsung masuk kamar. "Dan, ada agenda ga sore ini sampai besok?". Gw selalu dipanggil Komandan sama dia. Langsung gw jawab, "hmmm, ga ada sih sepertinya, memangnya kenapa? ko tumben tiba-tiba Uda nanyain agenda?". Gw biasa menyebutnya dengan sebutan Uda. Kemudian si Uda langsung mengutarakan keinginannya," kita ke Bogor sekarang yuk Dan, udah lama banget nih kita ga ke Bogor berduaan". Waduh ada angin apa nih si Uda ngajak ke Bogor berduaan. Memang, terakhir kali gw ke Bogor bareng Uda itu tahun kemarin, lumayan udah setengah tahun lebih, terakhir itu tepatnya pas tanggal 24 Mei 2013. Hebat ya masih inget, hahaha. Tanpa berpikir panjang gw langsung mengIYAkan keinginan si Uda ini. Oiya Uda itu singkatan dari kUda Besi gw yang berwana merah, hehe. Ya si Uda tak lain dan tak bukan adalah motor gw sendiri. :) #maksa


Gw akhirnya berangkat ke Bogor setelah solat Ashar. Ternyata tepat seperti dugaan gw, muaceeet. Oiya baru inget malem minggu soalnya, haha. Titik-titik macet menuju Bogor masih tetap sama kalau melewati jalan panjang lurus lewat Parung. Macetnya parah, dari depan Pondok Indah Mall sampai puteran Kampus UIN. Semua gara-gara UIN nih, rese banget emang tuh kampus, haha. Tapi diluar itu semua, gw menikmati perjalanan kali ini. Biasanya kalau ke Bogor pasti terbebani oleh pikiran-pikiran aneh, seperti tugas kuliah, skripsi, organisasi dll. Haha.

Beruntung gw masih punya sahabat yang masih mau menampung gw di Bogor, dikosan teman gw yang sedang melanjutkan studinya ke jenjang S2 di kota hujan. Oke, agenda gw ke Bogor sebenarnya hanya silaturahim saja, sama sahabat-sahabat gw dan seseorang yang gw harap dipertemukan dalam ikatan sucinya, aamiin. Ternyata tidak hanya itu saja yang didapat, gw malah dapat bonus plus-plus. Apa tuh?

Pertama, gw bertemu sahabat-sahabat seperjuangan masa kuliah, hanya beberapa saja yang datang. Mulai cerita banyak hal ini itu, tapi sayang saking malamnya gw hanya bisa jadi pendengar yang baik sambil tidur, hahaha. Salah satu yang dibahas adalah tentang salah satu sahabat kita juga, yang gw tahu dia lolos dan diterima jadi PNS di Kemendagri. Sebut saja mawar. Ternyata si mawar ini tak semata-mata langsung lolos, sebernarnya dia peringkat ke-3 dan yang diambil cuma satu saja. Loh terus ko bisa dia diterima? Nah, jadi si mawar ini ditelpon sama pihak kemendagrinya. "Kamu mimpi apa semalam?" tanya pihak kemendagrinya. Si mawar menjawab, "memangnya kenapa pak?". Dan si bapak ini menjelaskan bahwa peringkat pertama yang seharusnya lolos kemendagri tidak mengambilnya karena sudah lolos CPNS di kementerian lain, dan ternyata yang peringkat keduapun demikian juga. Wooow, gw yang denger langsung berucap, ini bener-bener rezekinya si mawar. Mawar disini sama dengan mawar yang pernah gw ceritakan di sini. Subhanallah, Allah melihat perjuangannya.

Kedua, gw bertemu teman lama ketika beli ketoprak. Sebut saja dahlia. Dia habis cukur rambut dan kita duduk didepan tukang ketoprak sambil cuap-cuap bertukar kabar dan cerita. Ternyata dia diterima PNS di Kemenko. Woow lagi dan lagi temen-temen gw pada lolos PNS semua. Lalu dia bilang, "Allah memang tahu yang terbaik buat kita bud, gw ga diterima di Astra tapi akhirnya Allah ngasih gw di Kemenko". Gw manggut-manggut mengiyakan. Gw sama dahlia ini pernah berjuang bersama saat test di Astra, tapi sama-sama gagal di tahap akhir ketika wawancara dengan direksi. "Selamat berjuang ya broo, doin gw juga". "Haha sip semoga sukses juga bud". Dan akhirnya kita berpisah lagi.

Ketiga, ini obrolan empat mata antara gw dan sahabat gw yang S2. Sebut saja dia melati. Obrolan kita tentang jodoh dan nikah. Nah loh, siapa sangka ternyata si melati ini dibalik wajah santainya, ada banyak yang mengantri ingin dilamar olehnya. Gw dengerin ceritanya saja sampai mupeng. Hahaha. Intinya sudah ada beberapa wanita yang pendidikan dan parasnya oke punya ingin dilamar sama si melati. Ko tau kalau ingin dilamar sama si melati? Iya jadi si para orangtua wanita ini langsung menemui ayahnya melati. Ayahnya melati ini tokoh berpengaruh di daerahnya, dan ayahnya melati ini ketua pengurus masjid. Kecipratan deh si melati, keren kan si melati ini, bikin iri aja haha. 

Keempat, bisa bertemu sama "dia", seseorang yang namanya sering terucap didalam setiap doa gw. Malamnya kita makan bareng, dan besok paginya kita jalan pagi keliling kampus. Sederhana, tapi begitu berkesan. Hehehe.


Kelima, gw sempet tidur sebelum pulang ke Jakarta lagi. Dan gw mimpi. Mimpi tentang hasil test PNS kemendikbud. Didalam mimpi itu akhirnya pengumumanpun tiba. Gw klik download hasilnya dalam format pdf. Berhasil terdownload dan gw buka pdf nya. Yang pertama gw cari bukan nama gw nya, tetapi nama formasi yang gw ikuti. Gw daftar sebagai analis data kekayaan budaya. Dan dari page satu hingga akhir tidak ada formasi analis data kekayaan budaya. Nah loh, formasinya ga ada, nama-namanya pun juga ga ada. Gw kebangun, dan ga nyangka sampai terbawa mimpi yang seperti itu. Langsung berdoa semoga gw lulus dan di terima jadi PNS di kemendikbud. Mungkin kepikiran karena hasil test kemendikbud sampai sekarang belum keluar. Mohon bantuan doanya juga dari semua ya.. aamiin.


Tulisan ini dibuat setengah di Bogor dan setengah di Jakarta. Diketik langsung dari si "smartphone", lagi nyoba-nyoba soalnya hehe. Point satu dua dan lima itu tentang rezeki. Point tiga dan empat tentang jodoh. Dua-duanya semua ditangan Sang Kholik. Yaaah kita manusia hanya bisa berjuang sekeras mungkin dan berdoa sebanyak mungkin. Kita pasti minta yang terbaik, tapi Allah lah yang Maha Berkehendak. Bismillah.





Posted on Tuesday, February 18, 2014 by De Budi Sudarsono

5 comments

Tuesday, January 28, 2014


Hari ini boleh dikatakan hari yang cukup bersejarah buat gw. Sore setelah solat ashar seperti biasa gw menyempatkan ke ruang baca yang ada di kantor untuk membaca surat kabar [koran]. Alih-alih semenjak kerja, gw jadi rutin baca koran, yang wajib gw baca pasti koran Harian Bisnis Indonesia dan Harian Bola. Sedikit banyak jadi menambah wawasan gw tentang dunia ekonomi, dan menambah kecintaan gw di dunia olahraga.

Ketika asik membaca Harian Bola edisi hari ini (Selasa, 28 Januari 2014), gw dikejutkan oleh sebuah tulisan. Tulisan yang memang tak asing lagi buat gw. Paragraf pertamalah yang membuat gw yakin bahwa itu adalah tulisan gw yang gw kirim ke Redaksi Harian Bola hari Kamis yang lalu. Hanya saja judulnya di ganti. Yang gw kirim judulnya “Fans Layar Kaca”, tetapi di koran ditulis “Rapor Setan Merah”.

Luar biasa senang sekali tulisan gw bisa di muat di koran sebesar Harian Bola, koran yang terbit untuk nasional, bukan koran lokal. Berarti banyak yang baca tulisan gw, ya walaupun berada pada kolom Forum Pembaca. Ini pertama kalinya tulisan gw dimuat, dan tertera nama gw, De Budi Sudarsono. Terakhir nama gw pernah masuk koran ketika gw lulus SNMPTN.

Mungkin untuk kebanyakan orang ini bukanlah suatu yang istimewa, apalagi buat para jurnalis yang memang kesehariannya selalu membuat tulisan-tulisan di halaman surat kabar. Tetapi buat gw ini menjadi sebuah katalis untuk terus menulis. Ya memang gw menulis hanya untuk kepuasan tersendiri saja. Malah kebanyakan tulisan gw ya tentang pengalaman pribadi.

Oiya tulisan yang gw maksud ini adalah tulisan yang pernah gw posting beberapa hari yang lalu di blog gw ini, judulnya Fans Layar Kaca. Tetapi yang gw kirim ke Redaksi Harian Bola tidak semua paragraf, hanya beberapa paragraf yang penting saja. Terima kasih Harian Bola yang telah mau menerbitkan tulisan gw di korannya hari ini.

Posted on Tuesday, January 28, 2014 by De Budi Sudarsono

4 comments