Friday, March 20, 2015
Posted on Friday, March 20, 2015 by De Budi Sudarsono
Tuesday, February 17, 2015
Hingga pada
suatu minggu ketika gw sepedaan bareng dengan sepupu, gw menyadari ada sesuatu
yang penting. Dia begitu bersemangat mengayuh sepedanya dan melaju sangat
kencang. Mau tidak mau gw mengejarnya agar tidak tertinggal jauh dan kembali
sejajar dengan dia atau bisa didepan dia. Memang tidak ngebut-ngebutan, hanya ketika
jalannya lowong kita mengayuh sepedanya lebih kencang. Tidak ada perlombaan
juga, karena kita sekedar mencari keringat dan mencari happy. Mungkin ini juga
akan terjadi ketika gw lari. Kalau ada ‘rival’nya pasti gw akan berlari lebih
cepat untuk sejajar atau lebih dulu dari dia.Posted on Tuesday, February 17, 2015 by De Budi Sudarsono
Wednesday, January 14, 2015
Laki-laki (kebanyakan) diusia remaja yang beranjak dewasa pasti memiliki perasaan was-was. Khawatir yang berlebihan, mengkhawatirkan tentang masa depannya. Bagaimana pekerjaannya, siapa perempuan yang mau dengannya, kapan menikah, apakah cukup tabungannya untuk menikah, bagaimana nasib anak-anaknya kelak, dan kekhawatiran-kekhawatiran yang lainnya.
Dalam kehidupan ini ada ujian disetiap levelnya, diawal dan diakhir level pasti ada ujiannya. Ujian untuk melihat apakah kita pantas untuk mengarungi level berikutnya yang lebih tinggi. Dimulai dari bangku sekolah, dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), menjadi mahasiswa di Perguruan Tinggi, hingga menghadapai dunia pasca kampus di dunia kerja. Hingga pada suatu saat seorang laki-laki harus meminang perempuan yang dicintainya. Setiap level memiliki ujian dan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Namun pada level ini ujiannya bukan dengan sebuah pena yang menari-nari diatas tumpukan kertas ujian. Pada level ini, lagi-lagi seorang yang berjenis kelamin laki-laki harus menunjukkan keberaniannya. Keberanian untuk berdiskusi dengan orangtuanya tentang rencana dia akan menikah. Dan bukan hanya itu saja, tetapi juga harus berani bersama orangtuanya untuk mendatangai keluarga perempuan yang dicintainya.Jika setiap level pada jenjang pendidikan hingga dunia kerja itu jelas waktu kapan harus ujiannya, namun level ini sangat berbeda, tidak tahu kapan harus ujian, tidak jelas dan terserah. Bisa dalam waktu cepat, namun bisa juga dalam waktu yang sangat lama. Semua tergantung dari si laki-lakinya tersebut. Cepat atau lama, pasti ada waktunya. Tetapi jika laki-laki sudah mencintai seorang perempuan, dia harus siap. Siap dari segala sisi. Niat, mental dan ilmu. Siap kapanpun harus siap. Karena ketika perempuan itu sudah siap namun kita belum siap, siap-siaplah kita akan kehilangannya, karena dia akan memilih laki-laki yang lebih siap. Perempuan itu butuh bicaramu, keberanianmu, dan juga kepastianmu.
Apakah masih ada yang berpikir menjadi laki-laki itu mudah? (“dan para perempuanpun menjawab menjadi seorang perempuan juga tidaklah mudah”)
Posted on Wednesday, January 14, 2015 by De Budi Sudarsono
Tuesday, December 30, 2014
Posted on Tuesday, December 30, 2014 by De Budi Sudarsono
Sunday, June 29, 2014
Saat masih anak-anak, gw sangat senang menyambut bulan ramadhan. Dulu, yang membuat gw senang adalah pulang sekolah jadi cepet, bisa main bareng teman-teman sebaya setelah solat teraweh serta subuh, dan bakal dibelikan pakaian baru menjelang lebaran. Tapi puasanya? Setengah hari, hahaha. Ya walaupun setiap tahun ada peningkatan bisa puasa pool [full]. Nah tapi dulu bisa puasa pool itu karena ada motivasinya. Bukan motivasi dari Mario Teguh. Motivasinya adalah jika gw berhasil puasa pool sebulan penuh maka gw akan diberikan uang yang banyak di hari lebaran. Hanya demi uang loh hahaha.
Sekarang sudah kepala dua, usia yang pastinya memiliki motivasi tersendiri dan pasti berbeda dengan saat masih anak-anak untuk bisa berpuasa di bulan Ramadhan. Tidak hanya berpuasa saja, tapi beribadah secara utuh. Lalu apa? Berharap akan pahala yang banyak karena di bulan ini Allah memberikan banyak bonus? Atau karena ingin masuk syurga? Kalau yang seperti itu dijadikan motivasi berarti sama saja dengan gw saat menjadi anak-anak. Motivasinya hanya karena uang. Artinya kita beribadah kepada Allah tidaklah ikhlas, hanya karena kita mengharapkan sesuatu.
Loh? Apakah itu salah? Oh tentu tidak. Kita memang diperintahkan untuk selalu berdoa, meminta sesuatu hanya kepada Allah. Tapi, jika motivasinya tetap seperti itu, gw bisa menjamin bahwa itu tidaklah bertahan lama. Ada loh yang lebih penting dari itu. Namanya ridho. Bukan ridho anaknya pak lurah loh ya. Ridhonya Allah. Wah susah nih yang kayak begini. Kalau sudah ridho itu urusan Allah. Kita hanya bisa ikhtiar saja. Caranya bagaimana? Kuncinya adalah ikhlas dalam beribadah kepada Allah.
Setiap solat kan kita selalu berdoa di takbiratul ikhram. Inna solati wanu suki wama yahya wama mati lillahirobbil alamin. Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Taala. Dan Allah menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada Allah. Kuncinya ikhlas. Mempraktekkan ikhlas itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Syusah. Keseringan kita akan khusuk solat, puasa dan sedekah kalau kita ada maunya. Misalnya lagi ujian semesteran atau lagi tes masuk kerja. Tapi kalau kita lagi tidak ada yang diinginkan maka solatnya yang penting solat, bahkan mungkin ada yang meninggalkannya.
Gw juga masih proses belajar ikhlas. Sulit tapi jika pelan-pelan dan terus menerus dicoba pasti bisa. Nah, hari ini tepat 1 Ramadhan 1435H. Jadikan ini sebagai momentum untuk kita belajar lebih ikhlas lagi. Indikator keberhasilannya adalah setelah bulan ini selesai maka ada perbaikan diri dan perilaku kita, dan lebih ikhlas lagi kepada Allah. Dan jika tidak ada perbaikan, sama saja, bahkan lebih buruk, maka kita gagal dan termasuk dalam orang-orang yang rugi.
De Budi Sudarsono
Posted on Sunday, June 29, 2014 by De Budi Sudarsono
Tuesday, April 29, 2014
Posted on Tuesday, April 29, 2014 by De Budi Sudarsono
Tuesday, April 08, 2014
Kemudian bisa dilihat persentase lemak dalam tubuh, nah lemah
di tubuh gw mencapai 32%, angka yang cukup besar dengan angka normalnya itu
untuk pria 10-20% saja, dan gw masuk kategori + atau di atas normal, dari tiga
kategori yaitu 0 (normal), + (di atas normal), dan ++ (sangat melebihi normal).
Dan ternyata gw berat di lemak. Tambah sedih. Indeks Masa Tubuh (IMT) gw sebesar 24,5. Lagi-lagi di atas
normal. Normalnya itu 18-23. IMT ini bisa dihitung sendiri dengan membagi berat
badan (kg) dengan tinggi badan kuadrat (m2).Posted on Tuesday, April 08, 2014 by De Budi Sudarsono
Monday, March 24, 2014
Merdunya suara azan subuh kala itu membuat janin yang sudah
sembilan bulan bersemayam di perut ibunya tak sabar untuk segera melihat
indahnya dunia. Segala usaha telah ia lakukan, tapi memang belum waktunya. Kesabaran
dia pun mulai tergerus, ia tak mau lagi bergantung dengan plasenta ibunya, ia
ingin segera bisa hidup mandiri. Usahanya semakin keras untuk minta keluar.
Sehingga sang ibunya pun mengeluh kesakitan. Dokter mengatakan kepada pria
paruh baya yang mendampingi ibunya, yang tak lain adalah ayah dari anak yang
akan lahir tersebut, bahwa sudah waktunya anak ini lahir.
Sekitar pukul sepuluh WIB terdengar suara tangisan bayi.
Laki-laki paruh baya tersebut langsung diberi kabar oleh dokter bahwa anaknya
berjenis kelamin laki-laki, seorang jagoan ayahnya. Dia segera mengazankan di
telinga kanan dan mengiqomatkan di telinga sebelah kiri bayi merah itu, dan
terlihat perasaan lega dan senyuman disertai tangisan terlihat dari wajah
ibunya.Posted on Monday, March 24, 2014 by De Budi Sudarsono
Friday, March 14, 2014
Nabi Adam kesepian tinggal sendirian di Syurga. Lalu Allah
menciptakan Hawa sebagai pendampingnya yang diciptakan dari tulang rusuk Nabi
Adam. Mereka hidup bahagia, tapi segalanya berubah ketika Iblis menyerang.
Iblis membisikkan kepada keduanya untuk memakan buah [khuldi] yang dilarang
oleh Allah. Namun karena bisikan Iblis tersebut mereka berdua memakannya.
Alhasil pakaian yang melekat pada tubuh merekapun tiba-tiba hilang. Allah marah
akibat perbuatan mereka, lalu mengirim mereka turun ke Bumi dan dipisahkan
keduanya di tempat yang berbeda. Butuh waktu yang lama sehingga akhirnya mereka
berdua bertemu kembali dan berkembang biak melahirkan keturunan-keturunan Nabi
Adam dan lahirlah kita.Oke, intinya apa?
Gw mencoba menyimpulkan hasil dari pemikiran beliau. Penulis
mengatakan dengan disertai ayat-ayat Al-Quran bahwa manusia pertama yang
diciptakan bukanlah Nabi Adam, tetapi manusia sebelumnya, makhluk yang kita
kenal sebagai manusia purba. Penulis menyebut manusia purba ini sebagai
al-basyar yang artinya diciptakan dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan manusia
(Nabi Adam) beserta keturunannya itu diciptakan dari tanah yang sudah gembur
(saripati tanah atau pertemuan antara sperma dan ovum) lalu meniupkan ruh-Nya
dan disebut al-insaan. Jadi Nabi Adam itu adalah al-insaan yang dilahirkan oleh
al-basyar generasi awal. Penulis tidak menjelaskan siapa al-basyar yang
pertama, namun penulis menjelaskan bahwa al-basyar diciptakan berbarengan atau
langsung banyak.Posted on Friday, March 14, 2014 by De Budi Sudarsono
Tuesday, March 11, 2014
Posisi gw tidak terlalu pintar dan tidak terlalu aktif berorganisasi. Pas-pasan, middle class, kelas medioker. Justru harusnya lebih banyak teman-teman gw yang cerdas dan aktif berorganisasi berada di lingkungan pemerintahan. Karena di sana keputusan yang menyangkut publik dibuat. Bila kita semua ingin jadi warga negara yang baik hanya dengan jadi pembayar pajak yang baik, lalu siapa yang mengelola APBN dari uang pajak kita? Urusan pangan, pendidikan, kesehatan, perumahan, transportasi, infrastruktur, siapa yang memutuskan? Yang memutuskan adalah mereka-mereka yang berada di wilayah pemerintahan.
Posted on Tuesday, March 11, 2014 by De Budi Sudarsono
Tuesday, March 04, 2014
Tadi pagi gw ke sana, ke SD gw itu, sekolah swasta, iya namanya SDS Barunawati. Sepanjang jalan di koridor menuju ke Tata Usaha gw senyam-senyum sendiri sambil melihat ke seluruh penjuru sekolah. Gedung yang sangat angker karena dulunya adalah kuburan Belanda. Ya itu gosip/cerita seram yang beredar saat gw masih berseragam putih-merah. Anak-anak SMP sedang pelajaran Olahraga di lapangan, yang laki-laki terlihat asyik bermain bola plastik dengan kaki telanjang. Persis seperti zaman gw dulu, dan selesai bermain telapak kaki langsung melepuh karena “kapalan”. Anak-anak kelas satu berdiri didepan pintu sambil berbaris dan ditemani orang tua mereka. Memori gw langsung teringat ketika awal masuk SD. Pintu Tata Usaha (TU) pun akhirnya tepat di depan mata. Dan gw masuk ke dalam.
Posted on Tuesday, March 04, 2014 by De Budi Sudarsono
Tuesday, February 18, 2014
Tulisan ini dibuat setengah di Bogor dan setengah di Jakarta. Diketik langsung dari si "smartphone", lagi nyoba-nyoba soalnya hehe. Point satu dua dan lima itu tentang rezeki. Point tiga dan empat tentang jodoh. Dua-duanya semua ditangan Sang Kholik. Yaaah kita manusia hanya bisa berjuang sekeras mungkin dan berdoa sebanyak mungkin. Kita pasti minta yang terbaik, tapi Allah lah yang Maha Berkehendak. Bismillah.
Posted on Tuesday, February 18, 2014 by De Budi Sudarsono
Tuesday, January 28, 2014
Luar biasa senang sekali tulisan gw bisa di muat di koran sebesar
Harian Bola, koran yang terbit untuk nasional, bukan koran lokal. Berarti banyak
yang baca tulisan gw, ya walaupun berada pada kolom Forum Pembaca. Ini pertama
kalinya tulisan gw dimuat, dan tertera nama gw, De Budi Sudarsono. Terakhir
nama gw pernah masuk koran ketika gw lulus SNMPTN.Posted on Tuesday, January 28, 2014 by De Budi Sudarsono
Popular Posts
-
Dua orang yang dulu gw kenal di kampus sebatas kakak kelas, senior. Begitupun dengan detik ini, gw tidak tahu banyak tentang mereka. Ket...
-
Bukan hanya masa depan saja yang menyimpan misteri, seperti yang pernah gw bahas di postingan “ Akhirat tidak Kekal ”, tetapi masa lalu ...
-
Beberapa bulan yang lalu, gw memposting tentang Pasar Modal . Gw mempelajarinya dalam satu hari, hanya tentang pengertiannya saja sih. K...





















