Lagi dan lagi. Tiga ratus enam puluh lima hari terlewati dengan “begitu saja”. Tak banyak yang dilakukan, tak banyak yang ditingkatkan, dan tak banyak yang dihasilkan. Dua ribu empat belas sebentar lagi pergi, hilang, dan segera diganti dengan tahun yang baru, tahun Masehi, tahun dua ribu lima belas.

Sepertinya baru kemarin membuat perjalanan selama satu tahun di tahun 2013 untuk menyambut tahun 2014. Sekarang, sudah membuat lagi tulisan tentang ini diakhir 2014. Ah, sudah lama juga tidak membuat tulisan. Setengah tahun lebih jari-jari ini tidak menari sesuai dengan otak dan hati. Selama ini jari-jari hanya dipaksa bergerak untuk mengais rezeki, hanya untuk sesuap nasi. “Alaaaah alasan saja”. Iya memang, itu alasan klasik mengapa jari-jari ini enggan untuk menulis lagi. “Dasar Pemalas, anget-anget tahi ayam. Menulis hanya kuat hitungan bulan saja. Setelah itu, ditinggalkan”.

Selama satu tahun di tahun 2014, harus diakui banyak yang dialami. “Yaiyalah, pasti banyak yang dialami. Tapi ada ga yang ditingkatkan atau dihasilkan? Nihil kan!!!”. Iya, memang benar tak banyak yang raga ini tingkatkan dan hasilkan. Namun, banyak hal yang sudah diterima dan menjadi pelajaran hidup yang berharga. Walaupun demikian, ada rasa bersalah dan merasa tidak puas dengan apa yang telah dicapai di tahun ini. Tak ada yang lebih pantas daripada permohonan maaf yang ditujukan langsung kepada Yang Maha Mencipta. Yang menciptakan sebegitu luarbiasanya kemampuan otak dan sebegitu kuatnya fisik pada raga ini. Maaf karena belum menjadi sosok manusia yang bersyukur, bersyukur dengan memanfaatkan seluruh apa yang telah dianugerahkan oleh Dia. Maaf ya Allah. Dan terima kasih atas segala curahan nikmat-Mu selama satu tahun ini.

Tahun depan mata ini, hidung ini, telinga ini, dan seluruh yang ada didalam dan menempel pada raga ini sudah berusia seperempat abad. “Wooow”. Duapuluh lima tahun. Bukan angka yang sedikit, dan juga bukan lagi usia yang mengedepankan ego dan nafsu semata. Banyak hal yang harus ditingkatkan pada tahun 2015. Target-target yang belum tercapai harus segera dicapai sebelum. “Sebelum apa?”. Sebelum memutuskan untuk melengkapi sebagian agama. “Maksudnya menikah?”. Yaa, menikah. “Memang punya modal apa sudah berani-berani membahas tentang menikah?” Sudah cukup ilmu, mental dan materi?”. Belum, memang belum, tapi selama tahun 2014 ini banyak hal yang sudah membuka mata hati untuk menatap kesana. Yang penting niatnya dulu kan?. Semoga Yang Maha Memiliki Hati segera memilihkan hati perempuan “terbaik” untuk melengkapi sebagian dari agama ini. Aamiin. Itu menjadi satu dari beberapa harapan di tahun 2015.

-Aku-