Tuesday, December 30, 2014
Posted on Tuesday, December 30, 2014 by De Budi Sudarsono
Sunday, June 29, 2014
Saat masih anak-anak, gw sangat senang menyambut bulan ramadhan. Dulu, yang membuat gw senang adalah pulang sekolah jadi cepet, bisa main bareng teman-teman sebaya setelah solat teraweh serta subuh, dan bakal dibelikan pakaian baru menjelang lebaran. Tapi puasanya? Setengah hari, hahaha. Ya walaupun setiap tahun ada peningkatan bisa puasa pool [full]. Nah tapi dulu bisa puasa pool itu karena ada motivasinya. Bukan motivasi dari Mario Teguh. Motivasinya adalah jika gw berhasil puasa pool sebulan penuh maka gw akan diberikan uang yang banyak di hari lebaran. Hanya demi uang loh hahaha.
Sekarang sudah kepala dua, usia yang pastinya memiliki motivasi tersendiri dan pasti berbeda dengan saat masih anak-anak untuk bisa berpuasa di bulan Ramadhan. Tidak hanya berpuasa saja, tapi beribadah secara utuh. Lalu apa? Berharap akan pahala yang banyak karena di bulan ini Allah memberikan banyak bonus? Atau karena ingin masuk syurga? Kalau yang seperti itu dijadikan motivasi berarti sama saja dengan gw saat menjadi anak-anak. Motivasinya hanya karena uang. Artinya kita beribadah kepada Allah tidaklah ikhlas, hanya karena kita mengharapkan sesuatu.
Loh? Apakah itu salah? Oh tentu tidak. Kita memang diperintahkan untuk selalu berdoa, meminta sesuatu hanya kepada Allah. Tapi, jika motivasinya tetap seperti itu, gw bisa menjamin bahwa itu tidaklah bertahan lama. Ada loh yang lebih penting dari itu. Namanya ridho. Bukan ridho anaknya pak lurah loh ya. Ridhonya Allah. Wah susah nih yang kayak begini. Kalau sudah ridho itu urusan Allah. Kita hanya bisa ikhtiar saja. Caranya bagaimana? Kuncinya adalah ikhlas dalam beribadah kepada Allah.
Setiap solat kan kita selalu berdoa di takbiratul ikhram. Inna solati wanu suki wama yahya wama mati lillahirobbil alamin. Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Taala. Dan Allah menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada Allah. Kuncinya ikhlas. Mempraktekkan ikhlas itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Syusah. Keseringan kita akan khusuk solat, puasa dan sedekah kalau kita ada maunya. Misalnya lagi ujian semesteran atau lagi tes masuk kerja. Tapi kalau kita lagi tidak ada yang diinginkan maka solatnya yang penting solat, bahkan mungkin ada yang meninggalkannya.
Gw juga masih proses belajar ikhlas. Sulit tapi jika pelan-pelan dan terus menerus dicoba pasti bisa. Nah, hari ini tepat 1 Ramadhan 1435H. Jadikan ini sebagai momentum untuk kita belajar lebih ikhlas lagi. Indikator keberhasilannya adalah setelah bulan ini selesai maka ada perbaikan diri dan perilaku kita, dan lebih ikhlas lagi kepada Allah. Dan jika tidak ada perbaikan, sama saja, bahkan lebih buruk, maka kita gagal dan termasuk dalam orang-orang yang rugi.
De Budi Sudarsono
Posted on Sunday, June 29, 2014 by De Budi Sudarsono
Tuesday, May 20, 2014
![]() |
| Berangkat dari Muara Angke |
![]() |
| pagi hari di pantai perawan |
![]() |
| spot snorkeling di bintangrama |
![]() |
| momen sunrise |
![]() |
| langit mendung ketika sunset |
![]() |
| sunset pantai perawan |
| snorkeling |
![]() |
| berkat tongsis :D |
Posted on Tuesday, May 20, 2014 by De Budi Sudarsono
Friday, May 09, 2014
Posted on Friday, May 09, 2014 by De Budi Sudarsono
Tuesday, April 29, 2014
Posted on Tuesday, April 29, 2014 by De Budi Sudarsono
Wednesday, April 23, 2014
“Ditunjuk menjadi pelatih Manchester United, salah satu klub sepakbola terbesar di dunia jelas merupakan suatu kebanggaan untuk saya. Mengambil alih setelah periode panjang dari stabilitas (permainan) dan kesuksesan menjadi tantangan besar, tetapi itu salah satu yang saya nikmati dan tidak pernah berpikir panjang untuk mengambil kesempatan ini.”
“Skala pekerjaan pelatih di United sangat besar, tetapi saya tidak pernah menjauh dari kerja keras dan hal itu juga berlaku untuk para staf pelatih. Saya mengucapkan terima kasih atas dedikasi dan loyalitas mereka sepanjang musim lalu.”
“Kami sepenuhnya fokus dan berkomitmen untuk proses pembangunan mendasar yang diperlukan skuad senior. Target ini harus dicapai demi memberi hasil positif di Premier League dan Liga Champions.”
“Namun selama masa transisi ini, penampilan dan hasilnya tidak sesuai seperti yang diharapkan Manchester United dan penggemarnya. Saya mengerti rasa frustrasi mereka.”
“Dalam waktu yang singkat di United, saya telah belajar akan tempat-tempat khusus di Old Trafford. Saya ingin berterima kasih kepada staf United karena sambutan hangat mereka dan menganggap saya bagian dari keluarga mereka sejak awal saya tiba.”
“Dan tentu saja, saya juga berterima kasih kepada para fans yang telah mendukung saya sepanjang musim ini. Saya berharap yang terbaik untuk para fans dan klub di masa depan.”
“Saya percaya bahwa seorang pelatih tidak akan pernah berhenti belajar selama kariernya dan saya tahu saya akan mengambil pengalaman berharga dari waktu saya selama menjabat pelatih United.”
“Saya tetap bangga karena membawa United melaju hingga ke perempatfinal Liga Champions musim ini dan saya tetap berterima kasih kepada Sir Alex Ferguson karena mempercayai kemampuan saya dan memberi kesempatan untuk mengelola Manchester United.”
Posted on Wednesday, April 23, 2014 by De Budi Sudarsono
Popular Posts
-
Dua orang yang dulu gw kenal di kampus sebatas kakak kelas, senior. Begitupun dengan detik ini, gw tidak tahu banyak tentang mereka. Ket...
-
Bukan hanya masa depan saja yang menyimpan misteri, seperti yang pernah gw bahas di postingan “ Akhirat tidak Kekal ”, tetapi masa lalu ...
-
Beberapa bulan yang lalu, gw memposting tentang Pasar Modal . Gw mempelajarinya dalam satu hari, hanya tentang pengertiannya saja sih. K...






















