Tuesday, December 30, 2014

Lagi dan lagi. Tiga ratus enam puluh lima hari terlewati dengan “begitu saja”. Tak banyak yang dilakukan, tak banyak yang ditingkatkan, dan tak banyak yang dihasilkan. Dua ribu empat belas sebentar lagi pergi, hilang, dan segera diganti dengan tahun yang baru, tahun Masehi, tahun dua ribu lima belas.

Sepertinya baru kemarin membuat perjalanan selama satu tahun di tahun 2013 untuk menyambut tahun 2014. Sekarang, sudah membuat lagi tulisan tentang ini diakhir 2014. Ah, sudah lama juga tidak membuat tulisan. Setengah tahun lebih jari-jari ini tidak menari sesuai dengan otak dan hati. Selama ini jari-jari hanya dipaksa bergerak untuk mengais rezeki, hanya untuk sesuap nasi. “Alaaaah alasan saja”. Iya memang, itu alasan klasik mengapa jari-jari ini enggan untuk menulis lagi. “Dasar Pemalas, anget-anget tahi ayam. Menulis hanya kuat hitungan bulan saja. Setelah itu, ditinggalkan”.

Selama satu tahun di tahun 2014, harus diakui banyak yang dialami. “Yaiyalah, pasti banyak yang dialami. Tapi ada ga yang ditingkatkan atau dihasilkan? Nihil kan!!!”. Iya, memang benar tak banyak yang raga ini tingkatkan dan hasilkan. Namun, banyak hal yang sudah diterima dan menjadi pelajaran hidup yang berharga. Walaupun demikian, ada rasa bersalah dan merasa tidak puas dengan apa yang telah dicapai di tahun ini. Tak ada yang lebih pantas daripada permohonan maaf yang ditujukan langsung kepada Yang Maha Mencipta. Yang menciptakan sebegitu luarbiasanya kemampuan otak dan sebegitu kuatnya fisik pada raga ini. Maaf karena belum menjadi sosok manusia yang bersyukur, bersyukur dengan memanfaatkan seluruh apa yang telah dianugerahkan oleh Dia. Maaf ya Allah. Dan terima kasih atas segala curahan nikmat-Mu selama satu tahun ini.

Tahun depan mata ini, hidung ini, telinga ini, dan seluruh yang ada didalam dan menempel pada raga ini sudah berusia seperempat abad. “Wooow”. Duapuluh lima tahun. Bukan angka yang sedikit, dan juga bukan lagi usia yang mengedepankan ego dan nafsu semata. Banyak hal yang harus ditingkatkan pada tahun 2015. Target-target yang belum tercapai harus segera dicapai sebelum. “Sebelum apa?”. Sebelum memutuskan untuk melengkapi sebagian agama. “Maksudnya menikah?”. Yaa, menikah. “Memang punya modal apa sudah berani-berani membahas tentang menikah?” Sudah cukup ilmu, mental dan materi?”. Belum, memang belum, tapi selama tahun 2014 ini banyak hal yang sudah membuka mata hati untuk menatap kesana. Yang penting niatnya dulu kan?. Semoga Yang Maha Memiliki Hati segera memilihkan hati perempuan “terbaik” untuk melengkapi sebagian dari agama ini. Aamiin. Itu menjadi satu dari beberapa harapan di tahun 2015.

-Aku-






     

Posted on Tuesday, December 30, 2014 by De Budi Sudarsono

No comments

Sunday, June 29, 2014

Saat masih anak-anak, gw sangat senang menyambut bulan ramadhan. Dulu, yang membuat gw senang adalah pulang sekolah jadi cepet, bisa main bareng teman-teman sebaya setelah solat teraweh serta subuh, dan bakal dibelikan pakaian baru menjelang lebaran. Tapi puasanya? Setengah hari, hahaha. Ya walaupun setiap tahun ada peningkatan bisa puasa pool [full]. Nah tapi dulu bisa puasa pool itu karena ada motivasinya. Bukan motivasi dari Mario Teguh. Motivasinya adalah jika gw berhasil puasa pool sebulan penuh maka gw akan diberikan uang yang banyak di hari lebaran. Hanya demi uang loh hahaha.

Sekarang sudah kepala dua, usia yang pastinya memiliki motivasi tersendiri dan pasti berbeda dengan saat masih anak-anak untuk bisa berpuasa di bulan Ramadhan. Tidak hanya berpuasa saja, tapi beribadah secara utuh. Lalu apa? Berharap akan pahala yang banyak karena di bulan ini Allah memberikan banyak bonus? Atau karena ingin masuk syurga? Kalau yang seperti itu dijadikan motivasi berarti sama saja dengan gw saat menjadi anak-anak. Motivasinya hanya karena uang. Artinya kita beribadah kepada Allah tidaklah ikhlas, hanya karena kita mengharapkan sesuatu.

Loh? Apakah itu salah? Oh tentu tidak. Kita memang diperintahkan untuk selalu berdoa, meminta sesuatu hanya kepada Allah. Tapi, jika motivasinya tetap seperti itu, gw bisa menjamin bahwa itu tidaklah bertahan lama. Ada loh yang lebih penting dari itu. Namanya ridho. Bukan ridho anaknya pak lurah loh ya. Ridhonya Allah. Wah susah nih yang kayak begini. Kalau sudah ridho itu urusan Allah. Kita hanya bisa ikhtiar saja. Caranya bagaimana? Kuncinya adalah ikhlas dalam beribadah kepada Allah.

Setiap solat kan kita selalu berdoa di takbiratul ikhram. Inna solati wanu suki wama yahya wama mati lillahirobbil  alamin. Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Taala. Dan Allah menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada Allah. Kuncinya ikhlas. Mempraktekkan ikhlas itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Syusah. Keseringan kita akan khusuk solat, puasa dan sedekah kalau kita ada maunya. Misalnya lagi ujian semesteran atau lagi tes masuk kerja. Tapi kalau kita lagi tidak ada yang diinginkan maka solatnya yang penting solat, bahkan mungkin ada yang meninggalkannya.

Gw juga masih proses belajar ikhlas. Sulit tapi jika pelan-pelan dan terus menerus dicoba pasti bisa. Nah, hari ini tepat 1 Ramadhan 1435H. Jadikan ini sebagai momentum untuk kita belajar lebih ikhlas lagi. Indikator keberhasilannya adalah setelah bulan ini selesai maka ada perbaikan diri dan perilaku kita, dan lebih ikhlas lagi kepada Allah. Dan jika tidak ada perbaikan, sama saja, bahkan lebih buruk, maka kita gagal dan termasuk dalam orang-orang yang rugi.

De Budi Sudarsono

Posted on Sunday, June 29, 2014 by De Budi Sudarsono

No comments

Tuesday, May 20, 2014


“manfaatin waktu muda lo bud buat traveling, mumpung masih muda”. #sambilsenyum

Kalimat perpisahan yang gw peroleh dari senior rekan kerja saat hari terakhir gw bekerja. Mas Pudjo. Beliau ini sudah berkali-kali mendaki segala macam gunung. Cerita dan foto-foto yang berhasil diabadikannya bikin ngiri. Itulah mengapa nasehat dari Mas Pudjo begitu hangat, penuh dengan magis.

Pari Island. Rupanya destinasi pertama gw jatuh ke pulau itu. Pulau yang ada di Kepulauan Seribu. Perjalanan menuju kesana butuh waktu kurang lebih 3 jam dari Muara Angke dengan bantuan kapal laut. Bukan waktu yang sebentar terombang-ambing di lautan dengan kapal laut biasa. Alhasil gw mabok laut, rasanya bener-bener mual. Gw langsung menjauh sambil membawa kantong kresek alfa yang berwarna putih. “Hweeeeeek”. Muntahan pertama berhasil mendarat dengan selamat ke dalam kantong. Yes. Dan dilanjutkan oleh muntahan-muntahan berikutnya. Hasilnya, seperempat kantong kresek tersebut terisi dengan muntahan gw. Kondisi saat itu lemes dan ingin secepatnya sampai kembali ke daratan.

Sesampainya di dermaga Pulau Pari kekuatan gw kembali seperti sedia kala, sehat walafiat. Wooow, subhanallah pelajaran yang didapat adalah bahwa kodratnya manusia memang diciptakan dari tanah, dan kita tak akan bisa hidup tanpa daratan, seindah apapun itu lautan.
Gw bersama tim tidak menyewa homestay disana, melainkan kemping, iya kemping, pakai tenda. Butuh 15 menit dari darmaga Pulau Pari ke Pantai Perawan, spot untuk mendirikan tenda tepat di pinggir pantai. Pemandangan pantai saat itu tidak terlihat indah, air lautnya masih surut. Tapi surutnya air laut tidak menyurutkan semangat kita untuk mendirikan 4 tenda, untuk 15 orang. Ternyata mendirikan tenda itu seru, saking serunya angin dari laut tiba-tiba berhembus dengan kuatnya. Empat tenda kita yang baru setengah jadi tak kuat menahan hembusannya, robohlah tenda kita. Haha. Tapi akhirnya dengan keuletan dan kesungguhan empat tenda berhasil kita dirikan. Hwoooo. 
Setelah makan siang dan solat agenda kita adalah snorkeling. Namun sayang, terlalu siang (pukul 14.14). ternyata sudah habis kapal-kapal yang akan membawa kita ke spot-spot snorkeling. Kecewa mah pasti, tapi tetep yakin kalau besok pagi akan jauh lebih indah saat snorkeling. Sebagai gantinya siang hingga sore hari kita manfaatin bersenang-senang berenang di Pantai Perawan. Air sudah mulai pasang, pemandangan sepanjang lautan begitu indah, garis pantai sangat jauh dari lautan, bibit mangrove yang menggoda dan  berjejer pulau-pulau kecil yang ditumbuhi pepohonan. Cuaca tidak panas dan tidak mendung, pas untuk kita berenang-renang, berfoto-foto ria. Layaknya anak kecil yang baru ketemu laut, ya begitulah kita. Namun sayang, kita tidak mendapatkan momen sunset, ketika matahari ingin kembali tertidur, cuaca malahan mendung. Tapi walaupun begitu, tidak mengurangi keindahan sunsetnya.

Malam hari kita manfaatkan untuk mengenal satu sama lain dibawah gerimis hujan, tawa canda semuanya lepas, tak ada yang jaim. Satu malam yang sungguh berkesan. Muncullah satu quote yang keren, “dari kami, jadi kita”.

Sekitar pukul 23.00 sudah pada mulai mengantuk. Yang cewek sudah memasuki tenda-tendanya. Yang cowok masih diluar tenda, beralaskan matras dan dinaungi oleh terpal. Sambil tidur-tiduran, dan tiba-tiba “hwuuuuusssssss”. Angin darat yang datangnya dari laut sangat amat kencang. Serem. Ini berlangsung sangat lamaa. Gw berempat yang tidur diluar sadar tapi tidak bangun, masih memenjamkan mata sambilberdoa supaya tenda-tendanya tidak roboh. Rupanya kita berempat nyerah dan langsung masuk ke tenda. Saat itu sempat lihat HP, waktu menunjukkan pukul 01.30. Entah kapan angin kencang itu berhenti, karena kita semua melanjukan kembali tidur kita masing-masing.

Gw bangun lebih awal dibandingkan yang lainnya dan langsung ke warung untuk numpang ngecharge HP. Sambil beli air mineral yang gw gunakan untuk gosok gigi. Suara air lautnya sungguh mendamaikan hati dan menggoda. Saat azan subuh berkumandang, gw manfaatkan momen ini untuk solat di pinggir pantai dengan beralaskan matras dan langsung di bawah langit. Belum pernah merasakan nikmatnya solat subuh seperti ini. Rasa tenang yang mendamaikan. Riak-riak air laut membuat air mata ini mengalir. Aah, betapa bersyukurnya diberi kesempatan seperti ini. Ketika salam menengok ke kanan, air mata tak kunjung henti, saat melihat lautan, makin teringat bahwasanya dosa-dosa gw banyaknya seperti lautan itu. Dan gw hanyalah makhluk yang lemah, seperti butiran pasir di pantai ini.

Momen sunrise memang banyak ditunggu. Pagi itu menjadi ajang mereka untuk berfoto ria. Tak terkecuali gw, walaupun hanya punya kamera HP dan hanya bisa jepret doank ya tidak apa-apalah yang penting diabadikan hehe.

Setelah sarapan kita langsung bergegas menuju darmaga untuk menuju spot-spot snorkeling menggunakan perahu kecil. Sebenarnya ada 3 spot yang akan kita tuju, namun karena takut kelamaan dan kesiangan kita hanya 2 spot saja. Spot pertama di Bintangrama dan yang kedua di Terumbuluar. Oooh gini toh rasanya snorkeling, berenang di tengah laut dengan bantuan pelampung, kaki katak dan kacamata renang. Melihat indahnya terumbu karang yang besar-besar. Melihat ikan-ikan yang berwarna-warni mendekat ketika kita memberinya serpihan roti. Tak henti-hentinya tersenyum saat melihat kedalam laut, Subhanallah dan Allahu Akbar. Snorkeling menjadi ajang yang pas untuk melihat betapa indahnya ciptaan Allah di lautan. Jika dispot pertama yang kita lihat adalah indahnya terumbu karang dan ikan-ikan, namun di spot kedua kita hanya melihat terumbu karangnya saja, ikan-ikannya hanya sedikit. Nah yang lebih kerenya lagi, kita baru sadar kalau ternyata banyak ubur-ubur kecil. Efeknya? Kita semua terkena sengatan yang menimbulkan rasa gatal. Tangan gw merah terkena sengatannya. Saking penasarannya gw akhirnya berhasil menangkap satu ubur-ubur tersebut. Hanya untuk dilihat dan difoto saja ko, setelah itu gw lepas kembali ke habitatnya, di lautan yang indah.

Selesai berbilas dan bersih-besih kita langsung melipat tenda dan mengumpulkan sampah-sampah untuk dibuang ke tempat sampah. Kapal yang menjemput kita datang pukul 12.00.

Thanks Pulau Pari.

Berangkat dari Muara Angke
pagi hari di pantai perawan

spot snorkeling di bintangrama

momen sunrise

langit mendung ketika sunset

sunset pantai perawan

snorkeling
berkat tongsis :D


Posted on Tuesday, May 20, 2014 by De Budi Sudarsono

No comments

Friday, May 09, 2014


Untuk Anakku kelak,

Anakku, kau harus mengenal nenek dan kakekmu dengan sebaik-baiknya. Memangnya kenapa kau harus tahu? Karena mereka adalah orangtua dari ayahmu ini. Tanpa mereka, ayahmu tidak mungkin tumbuh seperti ini, dan tanpa mereka mungkin kau tidak tak akan pernah terlahir di muka bumi ini.

Ada banyak sekali yang ingin ayah ceritakan kepadamu tentang nenek dan kakekmu. Cerita perjuangan mereka dari mereka kecil di keluarga mereka masing-masing sampai mereka berjuang untuk menghidupi ayah dan tantemu, adik ayah.

Anakku, mereka kemarin baru saja menunaikan ibadah umroh di Arab Saudi, di Mekah dan Madinah. Mungkin ibadah seperti ini untuk kebanyakan orang adalah sesuatu yang biasa, sesuatu yang sering mereka laksanakan, sesuatu yang mudah mereka lakukan. Tapi tidak untuk sebagian orang, termasuk nenek dan kakekmu. Dan ketika ayah tahu bahwa mereka berencana ingin berangkat umroh, ada perasaan bangga, dan wooow subhanallah.

Kau tahu apa alasannya kenapa ayahmu begitu terkejut bangga?
Dengarkan dan perhatikan baik-baik nak.

Pertama, tidak semua orang bisa diberi kesempatan untuk pergi ke tanah suci Mekah untuk bisa bertamu langsung ke rumah Allah, tanpa terkecuali orang kaya sekalipun. Panggilan itu datangnya dari Allah, dan jika hatinya belum dipanggil maka tidak akan pernah mau untuk bertamu ke sana. Dan alhamdulillah nenek dan kakekmu diberi kesempatan itu.

Kedua, mereka tidaklah terlalu pandai dalam membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Ayah juga jarang melihat mereka duduk untuk membaca Al-Quran. Hingga pada suatu saat, ketika ayahmu masih kuliah, ayah melihat nenekmu memanggil guru ngaji untuk datang ke rumah, hampir setiap sore. Kemudian kakekmu juga, memanggil ustadz untuk belajar mengaji setiap malam hari Senin dan Rabu. Ayah yakin mereka tidak hanya belajar mengaji saja, tapi guru ngaji mereka juga memberikan pengetahuan tentang agama islam secara luas. Mungkin karena ini mereka memutuskan untuk berangkat umroh.

Ketiga, untuk pergi umroh memang tak semahal pergi haji. Tapi tak sedikit juga uang yang harus dikeluarkan. Anakku, nenek dan kakekmu tumbuh dikeluarga yang serba kekurangan. Dari kecil mereka sudah terbiasa bekerja keras, dan diumur mereka yang sudah tua mereka bisa menikmati hasil kerja keras mereka.

Apa yang bisa kau ambil dari tiga pelajaran di atas anakku?
Ya, tidak ada kata terlambat untuk belajar. Ayah berharap kelak kau menjadi anak yang pandai, yang kepandaianmu bisa memberikan kebermanfaatan untuk dirimu, keluargamu, agamamu dan negaramu. Dan jagalah selalu hatimu dari segala kejahatan, karena hidayah Allah akan datang kepada mereka yang mencari dan mendekatkan diri kepada-Nya. Semoga kau bisa diberi kesempatan untuk bertamu ke rumah Allah juga, dengan ilmu dan hartamu sendiri, seperti nenek dan kakekmu. Aamiin.

Tahukah kau anakku sayang?
Jumat pagi ayah mengantar mereka ke tempat kumpul para rombongan jamaah yang ingin berangkat umroh. Sabtu siang tiba-tiba kakekmu menelpon ayah. Loh ada apa ini? Muncul perasaan yang buruk telah terjadi. Dan ternyata mereka belum berangkat, masih di hotel bandara Soekarno-Hatta. Kakekmu bercerita bahwa rombongan mereka di tipu oleh travel yang akan memberangkatan mereka. Satu rombongan ada sekitar 60an jamaah. Dan setengahnya sudah berangkat, setengahnya lagi belum termasuk kakek dan nenekmu. Travelnya kabur dan meninggalkan mereka di bandara. Kakekmu berpesan kepada ayah supaya merahasiakan hal ini dari siapapun, termasuk kepada tantemu. Setelah telpon dari kakekmu, ayah tidak bisa tenang, gelisah. Selalu berdoa setiap saat semoga mereka diberikan kesempatan untuk benar-benar pergi umroh dan  diberikan keselamatan kepada kakek dan nenekmu dalam perjalanan ke sana dan pulang ke rumah kembali. Sore hari gantian ayah yang menelpon kakekmu, tapi belum ada kabar lagi tentang keberangkatan mereka. Malamnya jam 9an juga ayah telpon lagi tapi tetap belum ada kepastian. Lalu kakekmu berpesan, yasudah tenang saja, doakan semoga semuanya lancar dan diberikan yang terbaik. Malam harinya tetap saja ayahmu ini tak bisa tidur nyenyak, masih kepikiran. Kondisinya ayah juga tidak bisa cerita kepada siapapun. Keesokan harinya, hari minggu dengar kabar kalau nenek dan kakekmu akhirnya berangkat. Agennya bertanggung jawab dengan menyewa travel lain untuk memberangkatkan setengah rombongan yang sempat terlantar di bandara. Alhamdulillah.

Anakku sayang, ketika kelak kau tumbuh besar, jangan kaget dengan kondisi dunia sekarang ini. Kau akan menemukan kejahatan dimana-mana. Temasuk kasus penipuan, seperti cerita diatas, untuk mau beribadah kepada Allah saja masih harus ditipu. Nak, ayah berharap kau bisa menjaga dirimu dengan baik. Jaga hatimu dan jaga pikiranmu, supaya kau selalu terhindar dari segala kejahatan, aamiin.

Anakku yang ayah banggakan.
Sepulang dari umroh, nenekmu cerita. Bahwa setengah rombongan yang berangkat umroh duluan ternyata terlantar di bandara Arab. Mereka belum mendapat tiket pulang kembali ke tanah air. Ya karena travel yang memberangkatkan mereka sudah kabur. Ada perasaan kasian kepada setengah rombongan tersebut. Tetapi ada rasa bersyukur karena nenek dan kakekmu sudah selamat sampai rumah. Mereka sempat terlantar sebelum berangkat, tetapi diberi kelancaran ketika pulang.

Anakku sayang,
Allah bersama hamba-hambanya yang sabar. Allah juga sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Maka dari itu, ketika suatu saat engkau mendapatkan sebuah cobaan, ujian atau keburukan yang menimpamu jangan pernah sekali-kali menyalahkan Allah. Sabarlah anakku, percayalah bahwa kejadian yang menimpamu itu adalah cara Allah untuk menjagamu, cara Allah untuk membuatmu bertambah kuat. Percayalah nak.

Ayahmu,

Posted on Friday, May 09, 2014 by De Budi Sudarsono

4 comments

Tuesday, April 29, 2014


Sepuluh bulan bukanlah waktu yang lama untuk hitungan seseorang bekerja di sebuah perusahaan, malah bisa dibilang sebentar. Nanggung banget ya sepuluh bulan, padahal dua bulan lagi bakal genap menjadi satu tahun dan berakhir kontrak kerja yang ditanda-tangani di awal. Sepuluh bulan di sini dimulai saat pertama masuk 1 Juli 2013 dan berakhir hari ini 29 April 2014.

Yang setahun bekerja saja masih dipertanyakan pengalamannya, apalagi yang tidak sampai setahun. Sejujurnya pengalaman yang gw dapat disini juga tidaklah terlalu banyak. Tapi cukuplah untuk menjadi batu loncatan gw. Secara backgroud pendidikan (statistika), ilmu gw tidak bertambah, bahkan mungkin sudah luntur karena tidak pernah disentuh lagi, hahaha. Jika dilihat dari Excel, lumayan lah pengalaman disini, banyak formula-formula dan logika-logika yang gw temukan selama memecahkan persoalan disini. Nah yang banyak gw dapat disini adalah wawasan gw seputar perkembangan ekonomi dan bisnis. Data-data yang gw pegang disini adalah data-data Saham, Reksadana dan Unitlinked. Perpustakaan juga lengkap tentang perkembangan ekonomi Indonesia dan dunia. Teman disini bukan hanya sebatas rekan kerja saja, tapi sudah seperti keluarga. Ohiya yang paling tak terlupakan dan paling berkesan adalah berat badan gw yang naik signifikan, huahahahasem.


Hidup ini memang tidaklah cukup hanya bekerja saja, urusan rohani juga harus dipenuhi. Semenjak bekerja disini, solat wajib selalu gw kerjakan tepat waktu dan berjamaah di Masjid. Zuhur, Asar, Magrib dan Isya, ditambah sunnah qobliah badiah. Sebuah point penting yang gw dapat disini. Karena untuk solat tepat waktu dan berjamaah di Masjid itu tidaklah mudah. Sulit karena faktor malas. Karena disini, setiap hari kerja pasti tidak ketinggalan untuk tepat waktu dan berjamaah di Masjid. Semoga setelah lulus dari sini gw masih tetap istiqomah dalam menjalankannya. Aamiin.

Permohonan maaf gw tujukan kepada rekan kerja sekaligus keluarga gw disini. Untuk atasan, teman-teman sesama staf, dan OB. Maaf karena harus lulus duluan dan tidak bisa bersama-sama lagi di kantor. Maaf karena gw termasuk pribadi yang iseng dan tidak bisa diam, jika ada perbuatan dan kata-kata yang tidak berkenan mohon dibukakan pintu maaf yang seluas-luasnya.
 
Ucapan terima kasih juga gw berikan untuk semuanya, semua pihak yang telah memberikan gw banyak pelajaran moral dan pekerjaan. Arti sebuah profesionalitas dan kekeluargaan. Terima kasih karena sudah menjadi tempat gw untuk mengenal dunia pasca kampus. Semoga perusaahaan ini akan terus berkembang dan maju dari zaman ke zaman. Aamiin. Terima kasih Bisnis Indonesia.

Bersama Pak Erlan, Manager Layanan Data dan Tabel

Bersama Pak Ramon, Direktur BIRC



Posted on Tuesday, April 29, 2014 by De Budi Sudarsono

No comments

Wednesday, April 23, 2014


Pasca pemecatan Moyes sejujurnya gw tidak terlalu sedih, tapi entah mengapa gw kasian sama dia. Aaah, lemah dan terlalu sensi banget. Headline surat kabar olahraga di Inggris dan negara-negara Eropa isinya tentang pemecatan dengan foto Moyes terpajang memenuhi halaman cover.

Jika boleh menilai, ada beberapa hal yang bisa gw lihat dari Moyes. Pertama, Moyes tidak memilki musuh dengan sesama manager, dalam artian dia jarang melontarkan kalimat-kalimat yang mengundang kontrovesial apalagi sampai psywar, padahal sekali-kali ini perlu dilakukan. Kedua, punggawa MU seperti tidak percaya dan enggan dilatih sama Moyes. Ketiga, Moyes begitu kuat mental (jika dilihat dari luar) padahal banyak sekali yang tidak percaya, mencibir hingga menghinanya.

Nah, Ini Pernyataan Moyes Usai Di Pecat United :
Melalui League Managers Association (LMA), pelatih asal Skotlandia itu pun mengeluarkan pernyataan soal kenangan manis dan pahitnya selama menukangi Wayne Rooney cs, seperti dilansir Daily Star, Rabu (23/4/2014).

“Ditunjuk menjadi pelatih Manchester United, salah satu klub sepakbola terbesar di dunia jelas merupakan suatu kebanggaan untuk saya. Mengambil alih setelah periode panjang dari stabilitas (permainan) dan kesuksesan menjadi tantangan besar, tetapi itu salah satu yang saya nikmati dan tidak pernah berpikir panjang untuk mengambil kesempatan ini.”

“Skala pekerjaan pelatih di United sangat besar, tetapi saya tidak pernah menjauh dari kerja keras dan hal itu juga berlaku untuk para staf pelatih. Saya mengucapkan terima kasih atas dedikasi dan loyalitas mereka sepanjang musim lalu.”

“Kami sepenuhnya fokus dan berkomitmen untuk proses pembangunan mendasar yang diperlukan skuad senior. Target ini harus dicapai demi memberi hasil positif di Premier League dan Liga Champions.”

“Namun selama masa transisi ini, penampilan dan hasilnya tidak sesuai seperti yang diharapkan Manchester United dan penggemarnya. Saya mengerti rasa frustrasi mereka.”

“Dalam waktu yang singkat di United, saya telah belajar akan tempat-tempat khusus di Old Trafford. Saya ingin berterima kasih kepada staf United karena sambutan hangat mereka dan menganggap saya bagian dari keluarga mereka sejak awal saya tiba.”

“Dan tentu saja, saya juga berterima kasih kepada para fans yang telah mendukung saya sepanjang musim ini. Saya berharap yang terbaik untuk para fans dan klub di masa depan.”

“Saya percaya bahwa seorang pelatih tidak akan pernah berhenti belajar selama kariernya dan saya tahu saya akan mengambil pengalaman berharga dari waktu saya selama menjabat pelatih United.”

“Saya tetap bangga karena membawa United melaju hingga ke perempatfinal Liga Champions musim ini dan saya tetap berterima kasih kepada Sir Alex Ferguson karena mempercayai kemampuan saya dan memberi kesempatan untuk mengelola Manchester United.”

Jika diperhatikan, Moyes tidak berbicara tentang punggawa MU. Baik itu ucapan terimakasih atau menyindir. Apa yang sebenarnya terjadi antara mereka? Owh begitu kuat hati Moyes. Lagi-lagi gw merasa kasian.

Kubu Glazer sepertinya tidak mau terlalu jauh mengambil gambling. Selama kepemimpinan Moyes, harga saham MU cenderung menurun. Dan hari ini, sehari setelah Moyes dipecat, saham MU kembali melonjak naik sekitar 6,00%. Pemilik adalah pedagang, jadi kubu Glazer tidak mau terus-terusan merugi.



Terima kasih karena telah bersama MU selama 10 bulan. Gw mendukungmu, karena dirimu dipilih langsung oleh SAF. Tapi apa daya, pemilik klub lah yang memutuskan segalanya. Good Luck Pakde Moyes, semoga kesuksesan menyertaimu di masa yang akan datang.

Posted on Wednesday, April 23, 2014 by De Budi Sudarsono

No comments