Laki-laki memiliki lika-likunya sendiri. Seliar apapun dia, sejahat apapun dia, pasti ingin yang terbaik untuk dirinya dan orangtuanya. Pun untuk istri dan anaknya kelak. Apalagi untuk yang telah menciptakan dia. Kata perempuan menjadi laki-laki itu “katanya” mudah. Laki-laki itu simpel dan tidak ribet. Kata perempuan menjadi laki-laki itu “katanya” enak. Tidak perlu merasakan bagaimana rasanya haid dan sakitnya proses persalinan. Tapi bagi laki-laki, menjadi laki-laki itu “sulit”. Sulit karena harus bertanggung jawab atas para perempuannya. Tepatnya empat orang perempuan. Yakni ibunya, saudara perempuannya, istrinya serta anak perempuannya. Menjadi lima dengan dirinya sendiri. Masihkah ada yang bilang menjadi laki-laki itu mudah dan enak?
Laki-laki (kebanyakan) diusia remaja yang beranjak dewasa pasti memiliki perasaan was-was. Khawatir yang berlebihan, mengkhawatirkan tentang masa depannya. Bagaimana pekerjaannya, siapa perempuan yang mau dengannya, kapan menikah, apakah cukup tabungannya untuk menikah, bagaimana nasib anak-anaknya kelak, dan kekhawatiran-kekhawatiran yang lainnya.

Dalam kehidupan ini ada ujian disetiap levelnya, diawal dan diakhir level pasti ada ujiannya. Ujian untuk melihat apakah kita pantas untuk mengarungi level berikutnya yang lebih tinggi. Dimulai dari bangku sekolah, dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), menjadi mahasiswa di Perguruan Tinggi, hingga menghadapai dunia pasca kampus di dunia kerja. Hingga pada suatu saat seorang laki-laki harus meminang perempuan yang dicintainya. Setiap level memiliki ujian dan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Namun pada level ini ujiannya bukan dengan sebuah pena yang menari-nari diatas tumpukan kertas ujian. Pada level ini, lagi-lagi seorang yang berjenis kelamin laki-laki harus menunjukkan keberaniannya. Keberanian untuk berdiskusi dengan orangtuanya tentang rencana dia akan menikah. Dan bukan hanya itu saja, tetapi juga harus berani bersama orangtuanya untuk mendatangai keluarga perempuan yang dicintainya.
Jika setiap level pada jenjang pendidikan hingga dunia kerja itu jelas waktu kapan harus ujiannya, namun level ini sangat berbeda, tidak tahu kapan harus ujian, tidak jelas dan terserah. Bisa dalam waktu cepat, namun bisa juga dalam waktu yang sangat lama. Semua tergantung dari si laki-lakinya tersebut. Cepat atau lama, pasti ada waktunya. Tetapi jika laki-laki sudah mencintai seorang perempuan, dia harus siap. Siap dari segala sisi. Niat, mental dan ilmu. Siap kapanpun harus siap. Karena ketika perempuan itu sudah siap namun kita belum siap, siap-siaplah kita akan kehilangannya, karena dia akan memilih laki-laki yang lebih siap. Perempuan itu butuh bicaramu, keberanianmu, dan juga kepastianmu.
Apakah masih ada yang berpikir menjadi laki-laki itu mudah? (“dan para perempuanpun menjawab menjadi seorang perempuan juga tidaklah mudah”)