Setiap cerita di sebuah novel, film, perwayangan, teater dan sejenisnya dipastikan ada yang namanya tokoh utama. Tokoh utama itu pasti ada. Biasanya satu orang, kalaupun kelompok pasti ada satu orang yang lebih menonjol. Nah tokoh utama ini selalu didesripsikan dengan sifat yang bagus-bagus, kalaupun ada yang jelek pasti ada satu sifat yang membuat tokoh utama tersebut terlihat lebih wooow keren. Kalau tidak percaya, coba buka lagi novel atau film yang kamu punya.

Sebagai tokoh utama, dia pasti memiliki tujuan atau ambisi. Dan selalu ada proses berjuang dalam mencapai tujuannya tersebut. Proses berjuang ini biasanya dimotivasi oleh keberadaan sang rival. Adanya rival dalam sebuah cerita akan membuat tokoh utama tersebut menjadi ingin lebih baik darinya, atau minimal sejajar. Oke kita ambil contoh, novel laskar pelangi, tokoh utamanya si Ikal dan ada rivalnya si Arai yang tak lain adalah sahabat sekaligus saudara jauhnya. Tokoh kartun pokemon, Ash sebagai trainer memiliki rival yaitu Gary teman sekaligus cucunya Prof Oak. Batman yang memiliki rival abadi si Joker sebagai musuhnya. Serta contoh pada cerita-cerita lainnya.

Setiap Sabtu biasanya gw lari pagi sendiri di Senayan, beberapa putaran. Ada banyak orang juga yang lari disana. Gw lari sebatas lari, tidak memperdulikan orang lain yang lari disekitar gw. Setiap minggu pagi biasanya gw sepedaan di CFD, satu putaran dari Semanggi muter hingga Monas, balik puteran Kemendikbud dan ke Semanggi lagi. Biasanya sepedaan juga biasa saja, karena sendiri yang penting sepedaan dan tidak memperdulikan orang lain yang lari atau sepedaan disekitar gw. Terus apa hubungannya sama paragraf sebelumnya? Tidak nyambung nih. Hahaha iya memang tidak nyambung.

Hingga pada suatu minggu ketika gw sepedaan bareng dengan sepupu, gw menyadari ada sesuatu yang penting. Dia begitu bersemangat mengayuh sepedanya dan melaju sangat kencang. Mau tidak mau gw mengejarnya agar tidak tertinggal jauh dan kembali sejajar dengan dia atau bisa didepan dia. Memang tidak ngebut-ngebutan, hanya ketika jalannya lowong kita mengayuh sepedanya lebih kencang. Tidak ada perlombaan juga, karena kita sekedar mencari keringat dan mencari happy. Mungkin ini juga akan terjadi ketika gw lari. Kalau ada ‘rival’nya pasti gw akan berlari lebih cepat untuk sejajar atau lebih dulu dari dia.

Hal yang disadari adalah seringkali kita merasa nyaman akan hidup yang sedang kita jalani sekarang. The power of dream. Kekuatan impian itu memang penting, ketika kita memiliki impian, kita akan fokus untuk menggapai impian tersebut dengan sekuat tenaga. Tapi itupun belum cukup. Kita juga harus memiliki rival. Keberadaan rival secara tidak langsung akan selalu mengingatkan posisi kita. Apakah masih aman, lebih baik darinya atau tertinggal jauh. Ketika kita sadar bahwa kita tertinggal, maka akan ada ambisi bahwa kita tidak mau kalah dan tertinggal. Ambisi inilah yang memberikan kita kekuatan untuk berjuang kembali.

Rival itu tidak harus berwujud seorang musuh. Dia ada bisa sebagai seorang adik, saudara, sahabat, kekasih, teman dan orang lain yang kita akui keberadaannya. Ingatlah, ketika engkau merasa berada di zona nyaman atau merasa tidak memiliki tantangan, coba ingat-ingat kembali siapa seorang yang bisa kau jadikan rival. Sudah sampai mana posisi dia sekarang?. Apakah posisimu tertinggal jauh darinya? Jika iya, kau harus berjuang dengan keluar dari zona nyamanmu sekarang. Bangkitkan kembali jiwa mudamu untuk berjuang lebih keras lagi.


Rival