Tuesday, January 28, 2014


Hari ini boleh dikatakan hari yang cukup bersejarah buat gw. Sore setelah solat ashar seperti biasa gw menyempatkan ke ruang baca yang ada di kantor untuk membaca surat kabar [koran]. Alih-alih semenjak kerja, gw jadi rutin baca koran, yang wajib gw baca pasti koran Harian Bisnis Indonesia dan Harian Bola. Sedikit banyak jadi menambah wawasan gw tentang dunia ekonomi, dan menambah kecintaan gw di dunia olahraga.

Ketika asik membaca Harian Bola edisi hari ini (Selasa, 28 Januari 2014), gw dikejutkan oleh sebuah tulisan. Tulisan yang memang tak asing lagi buat gw. Paragraf pertamalah yang membuat gw yakin bahwa itu adalah tulisan gw yang gw kirim ke Redaksi Harian Bola hari Kamis yang lalu. Hanya saja judulnya di ganti. Yang gw kirim judulnya “Fans Layar Kaca”, tetapi di koran ditulis “Rapor Setan Merah”.

Luar biasa senang sekali tulisan gw bisa di muat di koran sebesar Harian Bola, koran yang terbit untuk nasional, bukan koran lokal. Berarti banyak yang baca tulisan gw, ya walaupun berada pada kolom Forum Pembaca. Ini pertama kalinya tulisan gw dimuat, dan tertera nama gw, De Budi Sudarsono. Terakhir nama gw pernah masuk koran ketika gw lulus SNMPTN.

Mungkin untuk kebanyakan orang ini bukanlah suatu yang istimewa, apalagi buat para jurnalis yang memang kesehariannya selalu membuat tulisan-tulisan di halaman surat kabar. Tetapi buat gw ini menjadi sebuah katalis untuk terus menulis. Ya memang gw menulis hanya untuk kepuasan tersendiri saja. Malah kebanyakan tulisan gw ya tentang pengalaman pribadi.

Oiya tulisan yang gw maksud ini adalah tulisan yang pernah gw posting beberapa hari yang lalu di blog gw ini, judulnya Fans Layar Kaca. Tetapi yang gw kirim ke Redaksi Harian Bola tidak semua paragraf, hanya beberapa paragraf yang penting saja. Terima kasih Harian Bola yang telah mau menerbitkan tulisan gw di korannya hari ini.

Posted on Tuesday, January 28, 2014 by De Budi Sudarsono

4 comments

Thursday, January 23, 2014


Musim ini (2013/2014) menjadi musim yang begitu buruk untuk klub sekaliber Manchester United (MU). Setelah ditinggal manager berkarisma Sir Alex Ferguson (SAF), The Reds Devil seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Sepertinya peran David Moyes (DM) sebagai penerus SAF tidak [belum] mampu meneruskan tongkat estafet kejayaan MU. Awal musim semua fans percaya bahwa DM akan mampu memberikan pengaruh yang baik untuk tim, karena memang DM direkomendasikan langsung oleh SAF. Tapi setelah setengah musim berjalan rekor burukpun menghampiri MU. Old Trafford tidak lagi menjadi angker, beberapa kali MU tunduk di kandang bukan oleh tim-tim Big Four saja, melainkan tim-tim medioker seperti West Brom, Tottenham dan Everton.

Ujung tombak kian tumpul setelah Robin Van Persie (RVP) dan Wayne Rooney cidera, sekarang hanya mengandalkan Welbeck dan Chicarito didepan. Di sisi tengah pun semakin rapuh setelah ditinggal pensiun Paul Scholes, sekarang hanya mengandalkan Carrick yang semakin menua dan Cleaverly yang hanya mampu mengumpan bola-bola datar saja, Phil Jones juga dipaksakan menjadi gelandang yang seharusnya posisi terbaiknya adalah bek tengah. Sisi sayap kanan tidak sekencang musim-musim sebelumnya, Valencia mulai kehilangan speed, power bahkan [mungkin] mental juaranya, padahal tipe permainan MU sangat mengandalkan permainan dari sayap. Sisi sayap kiri muncul nama baru, Janujaz menjadi pemain muda yang bersinar musim ini bersama MU, dia pun digadang-gadang menjadi penerus Cristiano Ronaldo, walaupun gesit tapi Janujaz belum memiliki body yang bagus, sehingga mudah sekali terjatuh ketika harus berduel dengan lawan. Pemain asal Jepang Sinji Kawaga pun sering ditempatkan oleh DM menjadi sayap kiri, yang padahal posisi terbaiknya adalah posisi tepat dibelakang penyerang, sama seperti ketika dia berseragam Dortmund. Paling parahnya lagi diposisi pertahanan, kini terlihat sekali pertahanan MU amat keropos, Vidic dan Ferdinand sudah menua, Evan masih belum konsisten. Bek kiri masih mengandalkan Evra yang terlihat masa bodoh karena musim depan ia ingin meninggalkan MU, sedangkan Buttner tidak sigap untuk balik ke pertahanan ketika ia membantu menyerang dari sisi kiri. Bek kanan masih dipercayai oleh Rafael, pemain yang sering membahayakan lawan oleh aksi heroiknya. Pertahanan paling terakhir tetap De Gea yang menjadi kiper andalan MU, sejauh ini dia tak mampu berbuat lebih baik seperti musim sebelumnya.

Pemaparan gw diatas mungkin terlihat lemah karena tidak dilengkapi oleh data statistik. Tapi ini gw tulis berdasarkan oleh apa yang gw lihat ketika menyaksikan setiap MU bertanding. Perasaan kesal dan emosi menjadi satu ketika menontonnya, setiap pertandingan serasa menjadi Big Match walaupun melawan tim-tim semenjana. Sepertinya bukan hanya gw saja yang merasakan itu, gw yakin fans MU diseluruh belahan dunia pun memiliki perasaan seperti itu. Dan gw disini hanya bermaksud menilai kondisi MU saat ini, belum berani memberikan rekomendasi apa yang harusnya dilakukan oleh MU.

David Moyes pasti mengalami tekanan yang begitu dahsyat, tekanan datang dari mana-mana, beberapa diantaranya lewat fans dan media. Disatu sisi kesel tapi disisi lain gw merasa kasian melihat kerutan diwajahnya makin banyak. Gw berharap semoga performa buruk MU tak berlangsung lama, dan segera kembali ke performa terbaiknya.

Gw hanyalan fans layar kaca, bukan fans fanatik seperti yang lainnya. Itupun hanya nonton jika MU ditanyangkan di TV lokal saja. Jersey dan jaket-nya saja gw masih beli yang KW, yang mungkin harganya sepersepuluh harga aslinya. Asesoris lainnya pun gw tidak punya, seperti topi, tas bahkan gantungan kuncinya pun gw ga punya. Kalaupun MU tour ke Indonesia mungkin gw juga tidak akan nonton langsung ke Senayan untuk menyaksikan para pemainnya. Gw juga tidak bergabung ke dalam fans base MU yang ada di Indonesia. Sekali lagi gw hanyalah fans layar kaca yang hanya mengikuti perkembangan tim kesayangan gw melalui TV, koran dan media sosial.

Sekedar membangkitkan memori lama, zaman kecil gw hanya mengenal beberapa pemain seperti Delpiero, Van der Sar, Nedved, Salas, Zidane, Close. Gw senang sepak bola sejak kelas 3 SD, tapi baru kenal MU ketika kelas 2 SMP. Itupun dari permainan Football Manager 2003/2004 di komputer. Saat itu gw pilih MU karena warnanya merah. Yang gw ingat MU masih diperkuat oleh Ronaldo, Bartez, Van Nisterooy sedangkan Wayne Rooney masih di Everton. Kelas 3 SMP gw sempat suka sama Liverpool yang warnanya merah juga, ini gara-gara gw nonton final Liga Champion antara Liverpool vs Ac Milan, dan Liverpool menang padahal sempat kalah terlebih dahulu 3-0. Saat itu gw suka MU dan Liverpool, tapi terlalu egois sepertinya kalau gw punya dua tim favorit, akhirnya ketika SMA gw memutuskan untuk mendukung MU sebagai tim kesayangan gw. Sejak itu gw selalu mengikuti perkembangan MU, ya walaupun hanya sekedar fans layar kaca saja. 

Posted on Thursday, January 23, 2014 by De Budi Sudarsono

2 comments

Friday, January 17, 2014


Belajar menyolatkan jenazah pertama kali gw lakukan saat SMA, itupun juga hanya demi mendapatkan nilai Agama Islam. Saat itu kelas 2 SMA, praktek menyolatkan jenazahnya di mushola dan gw diberi kesempatan untuk menjadi model jenazahnya (read: pocong), memakai kain serba putih dan berbaring di shaf paling depan. Sedangkan teman-teman yang lain sibuk menghafal niat dan doa-doa di setiap takbirnya, sambil sesekali cenge-ngesan melihat gw berubah menjadi pria berjubah putih yang sambil komat-kamit menghafal doa-doanya juga.

Siang ini gw ikut menyolatkan jenazah di Masjid dekat kantor gw. Syukur alhamdulillah sang imam solat Jumat mengingatkan kembali niat solat jenazah untuk mayat perempuan, serta bacaan dan doa disetiap takbirnya. Padahal dulu (ketika SMA) gw hafal, walaupun hanya demi seonggok nilai agama. Terakhir gw ikut solat jenazah tahun lalu (2013), jenazah yang gw solati itu adalah sahabat gw sendiri, Denny Andrian, yang bulan depan tepat satu tahun kepergiannya di dunia ini.

Ada yang berbeda dengan solat jenazah yang tadi siang gw lakukan. Ada perasaan disentil pelan tapi begitu menyesakkan. Gw cepat atau lambat pasti akan ada diposisi tersebut, bukan lagi jadi model untuk hafalan solat, tapi benar-benar jadi pemeran utamanya. Apakah nanti akan ada yang menyolati jenazah gw? Kalaupun ada apakah banyak yang mau menyolatkan gw? Apakah banyak yang mau mengantar jenazah gw ke liang lahat?


Belum sempat gw menjawab pertanyaan gw itu sendiri, muncul lagi pertanyaan yang lain. Gw nantinya mati dalam kondisi seperti apa ya? Gw mati di hari apa ya? Betapa beruntungnya jenazah ini meninggal malam Jumat 01.00 dini hari. Karena berdasarkan hasdist, “Tidak ada seorang muslim pun yang meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at kecuali Allah akan menjaganya dari fitnah kubur.” hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad no. 6582 dan At-Tirmidzi no. 1074. Mbah kakung juga meninggal di malam jumat dan yang berziarah sangat banyak. Tiba-tiba gw jadi iri, apakah bisa gw nanti juga meninggal di malam jumat?

Jika boleh memilih, gw ingin meninggal di malam jumat ketika sujud terakhir solat Tahajud. Gw yakin semua juga mau meninggal dalam kondisi seperti ini, dalam kondisi yang baik tentunya. Namun gw dan kita tidak akan pernah tahu kapan Malaikat Izrail menyapa kita. Menyapa dengan ramah disertai senyuman ikhlas atau menyapa dengan muka seram. Ah gw tidak sanggup membayangkannya. Apakah nanti ketika di akhir Malaikat Izrail menyelesaikan misinya gw sanggup melafalkan dua kalimat syahadat?

Pertanyaan-pertanyaan itu yang muncul ketika siang ini gw menyolatkan jenazah. Gw tidak sanggup menjawabnya, begitu menyesakkan ketika pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul. Seperti disentil Allah dengan pelan namun begitu terasa sesaknya. Apa jangan-jangan nanti gw mati dalam keadaan berbuat maksiat? Ah, lagi-lagi pertanyaan-pertanyaan sejenisnya bermunculan lagi.

Semoga kita semua dapat meninggalkan dunia ini dengan cara yang baik, dalam keadaan Husnul Khotimah. Amin.

Posted on Friday, January 17, 2014 by De Budi Sudarsono

1 comment

Friday, January 03, 2014


Seberapa pentingkah membuat resolusi tahunan itu? Gw pun juga tidak terlalu tahu apa efeknya. Yang pasti dengan resolusi, hidup kita akan semakin jelas mau dibawa kemana. Gw baru sekali membuat resolusi tahunan, yakni ketika pergantian tahun 2008 ke 2009, saat itu gw masih tinggal di Asrama saat kuliah. Hasilnya memang tidak sebagus apa yang ditulis, tapi juga tidak terlalu buruk untuk dibanggakan. Walaupun memang kebanyakan dari target-target gw saat itu banyak yang tidak terlaksana. Jika diingat kembali, gw hanya hangat saja di awal tahun, selebihnya gw acuh dengan apa yang sudah gw tulis. Jadi untuk membuat resolusi itu, sebagus apapun tidak akan berpengaruh kalau kita tidak menjalankannya dengan serius. Naaah apalagi yang tidak membuat resolusi, hidup berjalan mengikuti air mengalir. Ya seperti gw selama beberapa tahun ini. Ada test ini langsung ikut, ada test itu langsung ikut, ada ini ada itu ya ikut-ikut tanpa ada rencana di awal dan persiapan yang matang.

Tidak harus menunggu pergantian tahun, gw itu orang yang paling sering berencana, tapi gw juga sering mengingkari rencana-rencana gw itu. Gw orang yang sering membuat target-target, tapi gw juga sering mengkhianati target-target gw itu. Ada apa dengan sosok seperti ini? Ada apa dengan gw? Aaaah banyak yang telah gw sia-siakan. Rencana hanya sebatas rencana, dan target hanya menjadi tahi ayam yang hangat di awal.

Momen pergantian tahun semoga bisa menjadi titik balik gw untuk berubah jadi lebih baik. Menghargai apa-apa yang telah gw tulis, gw rencanakan dan gw targetkan. Jangan lagi jadi laki-laki pengecut yang munafik, yang mengingkari apa yang di tulis, yang hanya hangat di awal. Gw sadar gw bukan lagi siswa, gw pun juga bukan lagi mahasiswa. Hambatan dan tantangan ke depan akan semakin banyak. Kelak gw akan menikah dan memiliki anak-anak. Gw harus bisa menjauhkan keluarga gw dari “siksa api neraka”, yang artinya menjauhkan keluarga gw kini dan nanti dari kemiskinan, penderitaan dan kesengsaraan. Naaah gw harus ingat ini!!!.

Seperti yang tadi gw ceritakan bahwa gw memang suka berencana, kertas-kertas yang isinya target dan action-pun menempel di sudut ruang kamar gw. Resolusi 2014 sebenarnya tak jauh-jauh dari apa yang pernah gw tuliskan di kertas-kertas tersebut. Ketika gw mau posting resolusi 2014, gw merasa sudah melupakan sesuatu yang sangat penting. Sesuatu yang telah lama hilang dari diri gw. Apa itu? “Hati”. Hati gw mungkin sudah lama sekali membatu, akibat dari fluktuasi iman gw yang tak pernah stabil. Bahkan turun sangat tajam, tidak diimbangi dengan kenaikkan yang signifikan. Ini gw sadari ketika gw melihat kembali goresan tahun 2013. Selama ini gw diselimuti dengan kemunafikan.

Gw rela memulai lagi dari nol, dari awal, dari dasar. Resolusi tahun 2014 ini gw fokus untuk membersihkan hati gw. Karena ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati. Itu potongan Hadist Riwayat Al-Bukhari dan Muslim yang tiba-tiba terngiang ketika membuat resolusi 2014. Gw yakin ketika hati gw kembali berfungsi sebagaimana mestinya, terlahir seperti fitrahnya ia diciptakan, maka segala kebaikan dan kesuksesan akan mengikuti diri gw.



Bismillah action for “hati” :
-    Solat tepat waktu di Masjid
-    Tahajud minimal 4 rakaat per-malam
-    Duha minimal 4 rakaat per-hari
-    Puasa sunnah Senin-Kamis
-    Tadarus minimal 5 lembar (10 halaman) per-hari
-    Hafalan surat Al-Ghashiyah (88) s/d An-Naas (114)

Yang harus gw perhatikan adalah solat subuh di masjid dan tahajud, yang selama ini sangat berat dalam menjalankan kewajiban tersebut.

Konsekuensinya adalah gw harus bisa menjaga diri agar hati tetap bersih. Menjaga hafalan dengan tidak berbuat maksiat. Jaga hati, mata, tangan dan mulut. Karena ketika sekali saja berbuat maksiat maka untuk memulai kembalinya sangat sulit dan itupun mulai lagi dari awal. Jadi jangan sia-siakan.

Agar resolusi ini tetap berjalan dan tidak hangat-hangat tahi ayam maka gw harus bisa mengevaluasinya setiap 3 bulan sekali, yakni Maret, Juni, September dan Desember. Evaluasi ini gw harapkan mampu membuat gw tetap konsisten dan istiqomah. Ini memang resolusi 2014, tapi gw yakin ketika ini bisa berjalan setahun maka akan bisa menjadi sebuah kebiasaan seumur hidup.

Walaupun gw fokus untuk hati, tetapi gw juga harus tetap mempersiapkan diri menggapai target jangka panjang gw. Karena ini untuk hati maka gw harus melakukannya dengan sepenuh hati. Segala kebaikan dan kesuksesan akan mengikuti diri gw jika gw mampu mengendalikan diri gw sendiri.

Gw sadar ketika tulisan ini diposting di blog maka gw memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk melaksanakannya, karena jika tidak maka gw pantas disebut munafik. Dan buat siapapun yang baca tulisan ini, mohon doanya buat gw. Terima kasih.

Jakarta, 3 Januari 2014


Posted on Friday, January 03, 2014 by De Budi Sudarsono

No comments