Seberapa pentingkah membuat resolusi tahunan itu?
Gw pun juga tidak
terlalu tahu apa efeknya. Yang pasti dengan resolusi, hidup kita akan semakin
jelas mau dibawa kemana. Gw baru sekali membuat resolusi tahunan, yakni ketika
pergantian tahun 2008 ke 2009, saat itu gw masih tinggal di Asrama saat kuliah.
Hasilnya memang tidak sebagus apa yang ditulis, tapi juga tidak terlalu buruk
untuk dibanggakan. Walaupun memang kebanyakan dari target-target gw saat itu
banyak yang tidak terlaksana. Jika diingat kembali, gw hanya hangat saja di
awal tahun, selebihnya gw acuh dengan apa yang sudah gw tulis. Jadi untuk
membuat resolusi itu, sebagus apapun tidak akan berpengaruh kalau kita tidak
menjalankannya dengan serius. Naaah apalagi yang tidak membuat resolusi, hidup
berjalan mengikuti air mengalir. Ya seperti gw selama beberapa tahun ini. Ada
test ini langsung ikut, ada test itu langsung ikut, ada ini ada itu ya
ikut-ikut tanpa ada rencana di awal dan persiapan yang matang.
Tidak harus menunggu pergantian tahun, gw itu orang yang paling sering
berencana, tapi gw juga sering mengingkari rencana-rencana gw itu. Gw orang
yang sering membuat target-target, tapi gw juga sering mengkhianati
target-target gw itu. Ada apa dengan sosok seperti ini? Ada apa dengan gw?
Aaaah banyak yang telah gw sia-siakan. Rencana hanya sebatas rencana, dan
target hanya menjadi tahi ayam yang hangat di awal.
Momen pergantian tahun semoga bisa menjadi titik balik gw untuk berubah
jadi lebih baik. Menghargai apa-apa yang telah gw tulis, gw rencanakan dan gw
targetkan. Jangan lagi jadi laki-laki pengecut yang munafik, yang mengingkari
apa yang di tulis, yang hanya hangat di awal. Gw sadar gw bukan lagi siswa, gw
pun juga bukan lagi mahasiswa. Hambatan dan tantangan ke depan akan semakin
banyak. Kelak gw akan menikah dan memiliki anak-anak. Gw harus bisa menjauhkan
keluarga gw dari “siksa api neraka”, yang artinya menjauhkan keluarga gw kini
dan nanti dari kemiskinan, penderitaan dan kesengsaraan. Naaah gw harus ingat
ini!!!.
Seperti yang tadi gw ceritakan bahwa
gw memang suka berencana,
kertas-kertas yang isinya target dan action-pun menempel di sudut ruang kamar
gw. Resolusi 2014 sebenarnya tak jauh-jauh dari apa yang pernah gw tuliskan di
kertas-kertas tersebut. Ketika gw mau posting resolusi 2014, gw merasa sudah
melupakan sesuatu yang sangat penting. Sesuatu yang telah lama hilang dari diri
gw. Apa itu? “Hati”. Hati gw mungkin sudah lama sekali membatu, akibat dari
fluktuasi iman gw yang tak pernah stabil. Bahkan turun sangat tajam, tidak
diimbangi dengan kenaikkan yang signifikan. Ini gw sadari ketika gw melihat
kembali
goresan tahun 2013. Selama ini gw diselimuti dengan kemunafikan.

Gw rela memulai lagi dari nol, dari awal, dari dasar. Resolusi tahun
2014 ini gw fokus untuk membersihkan hati gw. Karena ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik
maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh;
ketahuilah bahwa dia adalah hati. Itu potongan Hadist Riwayat Al-Bukhari
dan Muslim yang tiba-tiba terngiang ketika membuat resolusi 2014. Gw yakin
ketika hati gw kembali berfungsi sebagaimana mestinya, terlahir seperti
fitrahnya ia diciptakan, maka segala kebaikan dan kesuksesan akan mengikuti
diri gw.
Bismillah action for “hati” :
-
Solat tepat waktu di Masjid
-
Tahajud minimal 4 rakaat per-malam
-
Duha minimal 4 rakaat per-hari
-
Puasa sunnah Senin-Kamis
-
Tadarus minimal 5 lembar (10 halaman) per-hari
-
Hafalan surat Al-Ghashiyah (88) s/d An-Naas
(114)
Yang harus gw perhatikan adalah solat subuh di masjid dan tahajud, yang
selama ini sangat berat dalam menjalankan kewajiban tersebut.
Konsekuensinya adalah gw harus bisa menjaga diri agar hati tetap
bersih. Menjaga hafalan dengan tidak berbuat maksiat. Jaga hati, mata, tangan
dan mulut. Karena ketika sekali saja berbuat maksiat maka untuk memulai
kembalinya sangat sulit dan itupun mulai lagi dari awal. Jadi jangan
sia-siakan.
Agar resolusi ini tetap berjalan dan tidak hangat-hangat tahi ayam maka
gw harus bisa mengevaluasinya setiap 3 bulan sekali, yakni Maret, Juni,
September dan Desember. Evaluasi ini gw harapkan mampu membuat gw tetap
konsisten dan istiqomah. Ini memang resolusi 2014, tapi gw yakin ketika ini
bisa berjalan setahun maka akan bisa menjadi sebuah kebiasaan seumur hidup.
Walaupun gw fokus untuk hati, tetapi gw juga harus tetap mempersiapkan diri
menggapai target jangka panjang gw. Karena ini untuk hati maka gw harus melakukannya
dengan sepenuh hati. Segala kebaikan dan kesuksesan akan mengikuti diri gw jika
gw mampu mengendalikan diri gw sendiri.
Gw sadar ketika tulisan ini diposting di blog maka gw memiliki tanggung
jawab yang lebih besar untuk melaksanakannya, karena jika tidak maka gw pantas
disebut munafik. Dan buat siapapun yang baca tulisan ini, mohon doanya buat gw.
Terima kasih.
Jakarta, 3 Januari 2014