Untuk Anakku kelak,

Anakku, kau harus mengenal nenek dan kakekmu dengan sebaik-baiknya. Memangnya kenapa kau harus tahu? Karena mereka adalah orangtua dari ayahmu ini. Tanpa mereka, ayahmu tidak mungkin tumbuh seperti ini, dan tanpa mereka mungkin kau tidak tak akan pernah terlahir di muka bumi ini.

Ada banyak sekali yang ingin ayah ceritakan kepadamu tentang nenek dan kakekmu. Cerita perjuangan mereka dari mereka kecil di keluarga mereka masing-masing sampai mereka berjuang untuk menghidupi ayah dan tantemu, adik ayah.

Anakku, mereka kemarin baru saja menunaikan ibadah umroh di Arab Saudi, di Mekah dan Madinah. Mungkin ibadah seperti ini untuk kebanyakan orang adalah sesuatu yang biasa, sesuatu yang sering mereka laksanakan, sesuatu yang mudah mereka lakukan. Tapi tidak untuk sebagian orang, termasuk nenek dan kakekmu. Dan ketika ayah tahu bahwa mereka berencana ingin berangkat umroh, ada perasaan bangga, dan wooow subhanallah.

Kau tahu apa alasannya kenapa ayahmu begitu terkejut bangga?
Dengarkan dan perhatikan baik-baik nak.

Pertama, tidak semua orang bisa diberi kesempatan untuk pergi ke tanah suci Mekah untuk bisa bertamu langsung ke rumah Allah, tanpa terkecuali orang kaya sekalipun. Panggilan itu datangnya dari Allah, dan jika hatinya belum dipanggil maka tidak akan pernah mau untuk bertamu ke sana. Dan alhamdulillah nenek dan kakekmu diberi kesempatan itu.

Kedua, mereka tidaklah terlalu pandai dalam membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Ayah juga jarang melihat mereka duduk untuk membaca Al-Quran. Hingga pada suatu saat, ketika ayahmu masih kuliah, ayah melihat nenekmu memanggil guru ngaji untuk datang ke rumah, hampir setiap sore. Kemudian kakekmu juga, memanggil ustadz untuk belajar mengaji setiap malam hari Senin dan Rabu. Ayah yakin mereka tidak hanya belajar mengaji saja, tapi guru ngaji mereka juga memberikan pengetahuan tentang agama islam secara luas. Mungkin karena ini mereka memutuskan untuk berangkat umroh.

Ketiga, untuk pergi umroh memang tak semahal pergi haji. Tapi tak sedikit juga uang yang harus dikeluarkan. Anakku, nenek dan kakekmu tumbuh dikeluarga yang serba kekurangan. Dari kecil mereka sudah terbiasa bekerja keras, dan diumur mereka yang sudah tua mereka bisa menikmati hasil kerja keras mereka.

Apa yang bisa kau ambil dari tiga pelajaran di atas anakku?
Ya, tidak ada kata terlambat untuk belajar. Ayah berharap kelak kau menjadi anak yang pandai, yang kepandaianmu bisa memberikan kebermanfaatan untuk dirimu, keluargamu, agamamu dan negaramu. Dan jagalah selalu hatimu dari segala kejahatan, karena hidayah Allah akan datang kepada mereka yang mencari dan mendekatkan diri kepada-Nya. Semoga kau bisa diberi kesempatan untuk bertamu ke rumah Allah juga, dengan ilmu dan hartamu sendiri, seperti nenek dan kakekmu. Aamiin.

Tahukah kau anakku sayang?
Jumat pagi ayah mengantar mereka ke tempat kumpul para rombongan jamaah yang ingin berangkat umroh. Sabtu siang tiba-tiba kakekmu menelpon ayah. Loh ada apa ini? Muncul perasaan yang buruk telah terjadi. Dan ternyata mereka belum berangkat, masih di hotel bandara Soekarno-Hatta. Kakekmu bercerita bahwa rombongan mereka di tipu oleh travel yang akan memberangkatan mereka. Satu rombongan ada sekitar 60an jamaah. Dan setengahnya sudah berangkat, setengahnya lagi belum termasuk kakek dan nenekmu. Travelnya kabur dan meninggalkan mereka di bandara. Kakekmu berpesan kepada ayah supaya merahasiakan hal ini dari siapapun, termasuk kepada tantemu. Setelah telpon dari kakekmu, ayah tidak bisa tenang, gelisah. Selalu berdoa setiap saat semoga mereka diberikan kesempatan untuk benar-benar pergi umroh dan  diberikan keselamatan kepada kakek dan nenekmu dalam perjalanan ke sana dan pulang ke rumah kembali. Sore hari gantian ayah yang menelpon kakekmu, tapi belum ada kabar lagi tentang keberangkatan mereka. Malamnya jam 9an juga ayah telpon lagi tapi tetap belum ada kepastian. Lalu kakekmu berpesan, yasudah tenang saja, doakan semoga semuanya lancar dan diberikan yang terbaik. Malam harinya tetap saja ayahmu ini tak bisa tidur nyenyak, masih kepikiran. Kondisinya ayah juga tidak bisa cerita kepada siapapun. Keesokan harinya, hari minggu dengar kabar kalau nenek dan kakekmu akhirnya berangkat. Agennya bertanggung jawab dengan menyewa travel lain untuk memberangkatkan setengah rombongan yang sempat terlantar di bandara. Alhamdulillah.

Anakku sayang, ketika kelak kau tumbuh besar, jangan kaget dengan kondisi dunia sekarang ini. Kau akan menemukan kejahatan dimana-mana. Temasuk kasus penipuan, seperti cerita diatas, untuk mau beribadah kepada Allah saja masih harus ditipu. Nak, ayah berharap kau bisa menjaga dirimu dengan baik. Jaga hatimu dan jaga pikiranmu, supaya kau selalu terhindar dari segala kejahatan, aamiin.

Anakku yang ayah banggakan.
Sepulang dari umroh, nenekmu cerita. Bahwa setengah rombongan yang berangkat umroh duluan ternyata terlantar di bandara Arab. Mereka belum mendapat tiket pulang kembali ke tanah air. Ya karena travel yang memberangkatkan mereka sudah kabur. Ada perasaan kasian kepada setengah rombongan tersebut. Tetapi ada rasa bersyukur karena nenek dan kakekmu sudah selamat sampai rumah. Mereka sempat terlantar sebelum berangkat, tetapi diberi kelancaran ketika pulang.

Anakku sayang,
Allah bersama hamba-hambanya yang sabar. Allah juga sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Maka dari itu, ketika suatu saat engkau mendapatkan sebuah cobaan, ujian atau keburukan yang menimpamu jangan pernah sekali-kali menyalahkan Allah. Sabarlah anakku, percayalah bahwa kejadian yang menimpamu itu adalah cara Allah untuk menjagamu, cara Allah untuk membuatmu bertambah kuat. Percayalah nak.

Ayahmu,