Friday, March 20, 2015

Ternyata berbeda prajab yang dibayangkan dengan yang baru dijalankan kemarin. Berbeda karena peraturan yang membuatnya berbeda. Teman-teman instansi lain yang melaksanakan prajabatan tahun kemarin (2014) masih dengan pola lama. Pola militer selama tiga minggu. Yang terbayangkan ketika seorang teman bercerita tentang bagaimana dia melewati masa prajabatannya, woooow seru banget. Namun sayang, pola prajab tahun ini sudah berubah. Sepertinya bakal garing. Krik krik krik.

Pola baru prajabatan ini seperti masa kuliah, lebih tepatnya miniatur masa kuliah. Ada jam perkuliahan, ujian komprehensif, seminar kolokium, penelitian, dan sidang akhir. Sesi yang kemarin dilaksanakan baru sampai seminar kolokium. Nah penelitiannya itu selama off prajab, yakni ketika dikantor selama 13 hari kerja. Sedangkan sidang akhirnya saat on prajab kedua, setelah penelitian di kantor. Masa on prajab kedua ini akan berlangsung selama 3 hari.

Semua serba teratur. Senam pagi pukul 05.30 WIB. Sarapan pukul 06.30 – 07.30 WIB. Apel pagi pukul 07.30 – 08.00 WIB. Dan masuk perkuliahan pukul 08.00 hingga malam hari pukul 21.15 WIB. Disela-sela itu ada jam makan siang pukul 13.00-14.00 WIB dan makan malam pukul 18.00-19.00 WIB. Malam harinya masih harus mengerjakan tugas, begadang hingga pukul 04.00 dini hari. Hampir setiap hari seperti ini.

Kuliahnya memang berbeda dengan masa kuliah S1 dulu. Kuliahnya lebih interaktif antara dosen dengan para pesertanya. Kuliah ini tidak semata-mata memindahkan isi buku modul yang tebal kedalam otak masing-masing. Tapi bagaimana isi modul tersebut terinternalisasi dan mengkristal ke dalam diri para peserta prajab. Syarat agar materi yang diberikan terinternalisasi maka para peserta harus melakukannya di unit kerjanya masing-masing, sehingga setiap peserta harus merancang kegiatan yang akan dilakukan diunit kerjanya dengan menerapkan materi yang selama ini diberikan. Nah rancangan tersebut di seminarkan dihadapan penguji apakah layak atau tidak dilakukan di unit kerjanya. Sehari sebelum seminar, seluruh peserta menghadapi ujian komprehensif, ujian ini adalah ujian tertulis tentang seluruh materi yang diberikan.

Sekilas semua itu garing. Namun yang membuat masa prajabatan itu berkesan adalah disana menemukan sebuah keluarga baru. Teman-teman yang berasal dari unit kerja berbeda, dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia, dari Pulau Sumatera hingga Pulau Papua. Teman-teman seangkatan yang gokil, gila, ga punya malu, namun cerdas dan bersahabat. Semoga kelak kami dipertemukan kembali dalam keadaan yang lebih baik lagi. Sukses untuk kita semua. Aamiin.

Angkatan 4, nomor 10

Posted on Friday, March 20, 2015 by De Budi Sudarsono

No comments

Tuesday, February 17, 2015

Setiap cerita di sebuah novel, film, perwayangan, teater dan sejenisnya dipastikan ada yang namanya tokoh utama. Tokoh utama itu pasti ada. Biasanya satu orang, kalaupun kelompok pasti ada satu orang yang lebih menonjol. Nah tokoh utama ini selalu didesripsikan dengan sifat yang bagus-bagus, kalaupun ada yang jelek pasti ada satu sifat yang membuat tokoh utama tersebut terlihat lebih wooow keren. Kalau tidak percaya, coba buka lagi novel atau film yang kamu punya.

Sebagai tokoh utama, dia pasti memiliki tujuan atau ambisi. Dan selalu ada proses berjuang dalam mencapai tujuannya tersebut. Proses berjuang ini biasanya dimotivasi oleh keberadaan sang rival. Adanya rival dalam sebuah cerita akan membuat tokoh utama tersebut menjadi ingin lebih baik darinya, atau minimal sejajar. Oke kita ambil contoh, novel laskar pelangi, tokoh utamanya si Ikal dan ada rivalnya si Arai yang tak lain adalah sahabat sekaligus saudara jauhnya. Tokoh kartun pokemon, Ash sebagai trainer memiliki rival yaitu Gary teman sekaligus cucunya Prof Oak. Batman yang memiliki rival abadi si Joker sebagai musuhnya. Serta contoh pada cerita-cerita lainnya.

Setiap Sabtu biasanya gw lari pagi sendiri di Senayan, beberapa putaran. Ada banyak orang juga yang lari disana. Gw lari sebatas lari, tidak memperdulikan orang lain yang lari disekitar gw. Setiap minggu pagi biasanya gw sepedaan di CFD, satu putaran dari Semanggi muter hingga Monas, balik puteran Kemendikbud dan ke Semanggi lagi. Biasanya sepedaan juga biasa saja, karena sendiri yang penting sepedaan dan tidak memperdulikan orang lain yang lari atau sepedaan disekitar gw. Terus apa hubungannya sama paragraf sebelumnya? Tidak nyambung nih. Hahaha iya memang tidak nyambung.

Hingga pada suatu minggu ketika gw sepedaan bareng dengan sepupu, gw menyadari ada sesuatu yang penting. Dia begitu bersemangat mengayuh sepedanya dan melaju sangat kencang. Mau tidak mau gw mengejarnya agar tidak tertinggal jauh dan kembali sejajar dengan dia atau bisa didepan dia. Memang tidak ngebut-ngebutan, hanya ketika jalannya lowong kita mengayuh sepedanya lebih kencang. Tidak ada perlombaan juga, karena kita sekedar mencari keringat dan mencari happy. Mungkin ini juga akan terjadi ketika gw lari. Kalau ada ‘rival’nya pasti gw akan berlari lebih cepat untuk sejajar atau lebih dulu dari dia.

Hal yang disadari adalah seringkali kita merasa nyaman akan hidup yang sedang kita jalani sekarang. The power of dream. Kekuatan impian itu memang penting, ketika kita memiliki impian, kita akan fokus untuk menggapai impian tersebut dengan sekuat tenaga. Tapi itupun belum cukup. Kita juga harus memiliki rival. Keberadaan rival secara tidak langsung akan selalu mengingatkan posisi kita. Apakah masih aman, lebih baik darinya atau tertinggal jauh. Ketika kita sadar bahwa kita tertinggal, maka akan ada ambisi bahwa kita tidak mau kalah dan tertinggal. Ambisi inilah yang memberikan kita kekuatan untuk berjuang kembali.

Rival itu tidak harus berwujud seorang musuh. Dia ada bisa sebagai seorang adik, saudara, sahabat, kekasih, teman dan orang lain yang kita akui keberadaannya. Ingatlah, ketika engkau merasa berada di zona nyaman atau merasa tidak memiliki tantangan, coba ingat-ingat kembali siapa seorang yang bisa kau jadikan rival. Sudah sampai mana posisi dia sekarang?. Apakah posisimu tertinggal jauh darinya? Jika iya, kau harus berjuang dengan keluar dari zona nyamanmu sekarang. Bangkitkan kembali jiwa mudamu untuk berjuang lebih keras lagi.


Rival

Posted on Tuesday, February 17, 2015 by De Budi Sudarsono

No comments

Wednesday, January 14, 2015

Laki-laki memiliki lika-likunya sendiri. Seliar apapun dia, sejahat apapun dia, pasti ingin yang terbaik untuk dirinya dan orangtuanya. Pun untuk istri dan anaknya kelak. Apalagi untuk yang telah menciptakan dia. Kata perempuan menjadi laki-laki itu “katanya” mudah. Laki-laki itu simpel dan tidak ribet. Kata perempuan menjadi laki-laki itu “katanya” enak. Tidak perlu merasakan bagaimana rasanya haid dan sakitnya proses persalinan. Tapi bagi laki-laki, menjadi laki-laki itu “sulit”. Sulit karena harus bertanggung jawab atas para perempuannya. Tepatnya empat orang perempuan. Yakni ibunya, saudara perempuannya, istrinya serta anak perempuannya. Menjadi lima dengan dirinya sendiri. Masihkah ada yang bilang menjadi laki-laki itu mudah dan enak?

Laki-laki (kebanyakan) diusia remaja yang beranjak dewasa pasti memiliki perasaan was-was. Khawatir yang berlebihan, mengkhawatirkan tentang masa depannya. Bagaimana pekerjaannya, siapa perempuan yang mau dengannya, kapan menikah, apakah cukup tabungannya untuk menikah, bagaimana nasib anak-anaknya kelak, dan kekhawatiran-kekhawatiran yang lainnya.

Dalam kehidupan ini ada ujian disetiap levelnya, diawal dan diakhir level pasti ada ujiannya. Ujian untuk melihat apakah kita pantas untuk mengarungi level berikutnya yang lebih tinggi. Dimulai dari bangku sekolah, dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), menjadi mahasiswa di Perguruan Tinggi, hingga menghadapai dunia pasca kampus di dunia kerja. Hingga pada suatu saat seorang laki-laki harus meminang perempuan yang dicintainya. Setiap level memiliki ujian dan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Namun pada level ini ujiannya bukan dengan sebuah pena yang menari-nari diatas tumpukan kertas ujian. Pada level ini, lagi-lagi seorang yang berjenis kelamin laki-laki harus menunjukkan keberaniannya. Keberanian untuk berdiskusi dengan orangtuanya tentang rencana dia akan menikah. Dan bukan hanya itu saja, tetapi juga harus berani bersama orangtuanya untuk mendatangai keluarga perempuan yang dicintainya.

Jika setiap level pada jenjang pendidikan hingga dunia kerja itu jelas waktu kapan harus ujiannya, namun level ini sangat berbeda, tidak tahu kapan harus ujian, tidak jelas dan terserah. Bisa dalam waktu cepat, namun bisa juga dalam waktu yang sangat lama. Semua tergantung dari si laki-lakinya tersebut. Cepat atau lama, pasti ada waktunya. Tetapi jika laki-laki sudah mencintai seorang perempuan, dia harus siap. Siap dari segala sisi. Niat, mental dan ilmu. Siap kapanpun harus siap. Karena ketika perempuan itu sudah siap namun kita belum siap, siap-siaplah kita akan kehilangannya, karena dia akan memilih laki-laki yang lebih siap. Perempuan itu butuh bicaramu, keberanianmu, dan juga kepastianmu.

Apakah masih ada yang berpikir menjadi laki-laki itu mudah? (“dan para perempuanpun menjawab menjadi seorang perempuan juga tidaklah mudah”)


-Aku-

Posted on Wednesday, January 14, 2015 by De Budi Sudarsono

No comments