Tuesday, February 17, 2015

Setiap cerita di sebuah novel, film, perwayangan, teater dan sejenisnya dipastikan ada yang namanya tokoh utama. Tokoh utama itu pasti ada. Biasanya satu orang, kalaupun kelompok pasti ada satu orang yang lebih menonjol. Nah tokoh utama ini selalu didesripsikan dengan sifat yang bagus-bagus, kalaupun ada yang jelek pasti ada satu sifat yang membuat tokoh utama tersebut terlihat lebih wooow keren. Kalau tidak percaya, coba buka lagi novel atau film yang kamu punya.

Sebagai tokoh utama, dia pasti memiliki tujuan atau ambisi. Dan selalu ada proses berjuang dalam mencapai tujuannya tersebut. Proses berjuang ini biasanya dimotivasi oleh keberadaan sang rival. Adanya rival dalam sebuah cerita akan membuat tokoh utama tersebut menjadi ingin lebih baik darinya, atau minimal sejajar. Oke kita ambil contoh, novel laskar pelangi, tokoh utamanya si Ikal dan ada rivalnya si Arai yang tak lain adalah sahabat sekaligus saudara jauhnya. Tokoh kartun pokemon, Ash sebagai trainer memiliki rival yaitu Gary teman sekaligus cucunya Prof Oak. Batman yang memiliki rival abadi si Joker sebagai musuhnya. Serta contoh pada cerita-cerita lainnya.

Setiap Sabtu biasanya gw lari pagi sendiri di Senayan, beberapa putaran. Ada banyak orang juga yang lari disana. Gw lari sebatas lari, tidak memperdulikan orang lain yang lari disekitar gw. Setiap minggu pagi biasanya gw sepedaan di CFD, satu putaran dari Semanggi muter hingga Monas, balik puteran Kemendikbud dan ke Semanggi lagi. Biasanya sepedaan juga biasa saja, karena sendiri yang penting sepedaan dan tidak memperdulikan orang lain yang lari atau sepedaan disekitar gw. Terus apa hubungannya sama paragraf sebelumnya? Tidak nyambung nih. Hahaha iya memang tidak nyambung.

Hingga pada suatu minggu ketika gw sepedaan bareng dengan sepupu, gw menyadari ada sesuatu yang penting. Dia begitu bersemangat mengayuh sepedanya dan melaju sangat kencang. Mau tidak mau gw mengejarnya agar tidak tertinggal jauh dan kembali sejajar dengan dia atau bisa didepan dia. Memang tidak ngebut-ngebutan, hanya ketika jalannya lowong kita mengayuh sepedanya lebih kencang. Tidak ada perlombaan juga, karena kita sekedar mencari keringat dan mencari happy. Mungkin ini juga akan terjadi ketika gw lari. Kalau ada ‘rival’nya pasti gw akan berlari lebih cepat untuk sejajar atau lebih dulu dari dia.

Hal yang disadari adalah seringkali kita merasa nyaman akan hidup yang sedang kita jalani sekarang. The power of dream. Kekuatan impian itu memang penting, ketika kita memiliki impian, kita akan fokus untuk menggapai impian tersebut dengan sekuat tenaga. Tapi itupun belum cukup. Kita juga harus memiliki rival. Keberadaan rival secara tidak langsung akan selalu mengingatkan posisi kita. Apakah masih aman, lebih baik darinya atau tertinggal jauh. Ketika kita sadar bahwa kita tertinggal, maka akan ada ambisi bahwa kita tidak mau kalah dan tertinggal. Ambisi inilah yang memberikan kita kekuatan untuk berjuang kembali.

Rival itu tidak harus berwujud seorang musuh. Dia ada bisa sebagai seorang adik, saudara, sahabat, kekasih, teman dan orang lain yang kita akui keberadaannya. Ingatlah, ketika engkau merasa berada di zona nyaman atau merasa tidak memiliki tantangan, coba ingat-ingat kembali siapa seorang yang bisa kau jadikan rival. Sudah sampai mana posisi dia sekarang?. Apakah posisimu tertinggal jauh darinya? Jika iya, kau harus berjuang dengan keluar dari zona nyamanmu sekarang. Bangkitkan kembali jiwa mudamu untuk berjuang lebih keras lagi.


Rival

Posted on Tuesday, February 17, 2015 by De Budi Sudarsono

No comments

Wednesday, January 14, 2015

Laki-laki memiliki lika-likunya sendiri. Seliar apapun dia, sejahat apapun dia, pasti ingin yang terbaik untuk dirinya dan orangtuanya. Pun untuk istri dan anaknya kelak. Apalagi untuk yang telah menciptakan dia. Kata perempuan menjadi laki-laki itu “katanya” mudah. Laki-laki itu simpel dan tidak ribet. Kata perempuan menjadi laki-laki itu “katanya” enak. Tidak perlu merasakan bagaimana rasanya haid dan sakitnya proses persalinan. Tapi bagi laki-laki, menjadi laki-laki itu “sulit”. Sulit karena harus bertanggung jawab atas para perempuannya. Tepatnya empat orang perempuan. Yakni ibunya, saudara perempuannya, istrinya serta anak perempuannya. Menjadi lima dengan dirinya sendiri. Masihkah ada yang bilang menjadi laki-laki itu mudah dan enak?

Laki-laki (kebanyakan) diusia remaja yang beranjak dewasa pasti memiliki perasaan was-was. Khawatir yang berlebihan, mengkhawatirkan tentang masa depannya. Bagaimana pekerjaannya, siapa perempuan yang mau dengannya, kapan menikah, apakah cukup tabungannya untuk menikah, bagaimana nasib anak-anaknya kelak, dan kekhawatiran-kekhawatiran yang lainnya.

Dalam kehidupan ini ada ujian disetiap levelnya, diawal dan diakhir level pasti ada ujiannya. Ujian untuk melihat apakah kita pantas untuk mengarungi level berikutnya yang lebih tinggi. Dimulai dari bangku sekolah, dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), menjadi mahasiswa di Perguruan Tinggi, hingga menghadapai dunia pasca kampus di dunia kerja. Hingga pada suatu saat seorang laki-laki harus meminang perempuan yang dicintainya. Setiap level memiliki ujian dan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Namun pada level ini ujiannya bukan dengan sebuah pena yang menari-nari diatas tumpukan kertas ujian. Pada level ini, lagi-lagi seorang yang berjenis kelamin laki-laki harus menunjukkan keberaniannya. Keberanian untuk berdiskusi dengan orangtuanya tentang rencana dia akan menikah. Dan bukan hanya itu saja, tetapi juga harus berani bersama orangtuanya untuk mendatangai keluarga perempuan yang dicintainya.

Jika setiap level pada jenjang pendidikan hingga dunia kerja itu jelas waktu kapan harus ujiannya, namun level ini sangat berbeda, tidak tahu kapan harus ujian, tidak jelas dan terserah. Bisa dalam waktu cepat, namun bisa juga dalam waktu yang sangat lama. Semua tergantung dari si laki-lakinya tersebut. Cepat atau lama, pasti ada waktunya. Tetapi jika laki-laki sudah mencintai seorang perempuan, dia harus siap. Siap dari segala sisi. Niat, mental dan ilmu. Siap kapanpun harus siap. Karena ketika perempuan itu sudah siap namun kita belum siap, siap-siaplah kita akan kehilangannya, karena dia akan memilih laki-laki yang lebih siap. Perempuan itu butuh bicaramu, keberanianmu, dan juga kepastianmu.

Apakah masih ada yang berpikir menjadi laki-laki itu mudah? (“dan para perempuanpun menjawab menjadi seorang perempuan juga tidaklah mudah”)


-Aku-

Posted on Wednesday, January 14, 2015 by De Budi Sudarsono

No comments

Tuesday, December 30, 2014

Lagi dan lagi. Tiga ratus enam puluh lima hari terlewati dengan “begitu saja”. Tak banyak yang dilakukan, tak banyak yang ditingkatkan, dan tak banyak yang dihasilkan. Dua ribu empat belas sebentar lagi pergi, hilang, dan segera diganti dengan tahun yang baru, tahun Masehi, tahun dua ribu lima belas.

Sepertinya baru kemarin membuat perjalanan selama satu tahun di tahun 2013 untuk menyambut tahun 2014. Sekarang, sudah membuat lagi tulisan tentang ini diakhir 2014. Ah, sudah lama juga tidak membuat tulisan. Setengah tahun lebih jari-jari ini tidak menari sesuai dengan otak dan hati. Selama ini jari-jari hanya dipaksa bergerak untuk mengais rezeki, hanya untuk sesuap nasi. “Alaaaah alasan saja”. Iya memang, itu alasan klasik mengapa jari-jari ini enggan untuk menulis lagi. “Dasar Pemalas, anget-anget tahi ayam. Menulis hanya kuat hitungan bulan saja. Setelah itu, ditinggalkan”.

Selama satu tahun di tahun 2014, harus diakui banyak yang dialami. “Yaiyalah, pasti banyak yang dialami. Tapi ada ga yang ditingkatkan atau dihasilkan? Nihil kan!!!”. Iya, memang benar tak banyak yang raga ini tingkatkan dan hasilkan. Namun, banyak hal yang sudah diterima dan menjadi pelajaran hidup yang berharga. Walaupun demikian, ada rasa bersalah dan merasa tidak puas dengan apa yang telah dicapai di tahun ini. Tak ada yang lebih pantas daripada permohonan maaf yang ditujukan langsung kepada Yang Maha Mencipta. Yang menciptakan sebegitu luarbiasanya kemampuan otak dan sebegitu kuatnya fisik pada raga ini. Maaf karena belum menjadi sosok manusia yang bersyukur, bersyukur dengan memanfaatkan seluruh apa yang telah dianugerahkan oleh Dia. Maaf ya Allah. Dan terima kasih atas segala curahan nikmat-Mu selama satu tahun ini.

Tahun depan mata ini, hidung ini, telinga ini, dan seluruh yang ada didalam dan menempel pada raga ini sudah berusia seperempat abad. “Wooow”. Duapuluh lima tahun. Bukan angka yang sedikit, dan juga bukan lagi usia yang mengedepankan ego dan nafsu semata. Banyak hal yang harus ditingkatkan pada tahun 2015. Target-target yang belum tercapai harus segera dicapai sebelum. “Sebelum apa?”. Sebelum memutuskan untuk melengkapi sebagian agama. “Maksudnya menikah?”. Yaa, menikah. “Memang punya modal apa sudah berani-berani membahas tentang menikah?” Sudah cukup ilmu, mental dan materi?”. Belum, memang belum, tapi selama tahun 2014 ini banyak hal yang sudah membuka mata hati untuk menatap kesana. Yang penting niatnya dulu kan?. Semoga Yang Maha Memiliki Hati segera memilihkan hati perempuan “terbaik” untuk melengkapi sebagian dari agama ini. Aamiin. Itu menjadi satu dari beberapa harapan di tahun 2015.

-Aku-






     

Posted on Tuesday, December 30, 2014 by De Budi Sudarsono

No comments

Sunday, June 29, 2014

Saat masih anak-anak, gw sangat senang menyambut bulan ramadhan. Dulu, yang membuat gw senang adalah pulang sekolah jadi cepet, bisa main bareng teman-teman sebaya setelah solat teraweh serta subuh, dan bakal dibelikan pakaian baru menjelang lebaran. Tapi puasanya? Setengah hari, hahaha. Ya walaupun setiap tahun ada peningkatan bisa puasa pool [full]. Nah tapi dulu bisa puasa pool itu karena ada motivasinya. Bukan motivasi dari Mario Teguh. Motivasinya adalah jika gw berhasil puasa pool sebulan penuh maka gw akan diberikan uang yang banyak di hari lebaran. Hanya demi uang loh hahaha.

Sekarang sudah kepala dua, usia yang pastinya memiliki motivasi tersendiri dan pasti berbeda dengan saat masih anak-anak untuk bisa berpuasa di bulan Ramadhan. Tidak hanya berpuasa saja, tapi beribadah secara utuh. Lalu apa? Berharap akan pahala yang banyak karena di bulan ini Allah memberikan banyak bonus? Atau karena ingin masuk syurga? Kalau yang seperti itu dijadikan motivasi berarti sama saja dengan gw saat menjadi anak-anak. Motivasinya hanya karena uang. Artinya kita beribadah kepada Allah tidaklah ikhlas, hanya karena kita mengharapkan sesuatu.

Loh? Apakah itu salah? Oh tentu tidak. Kita memang diperintahkan untuk selalu berdoa, meminta sesuatu hanya kepada Allah. Tapi, jika motivasinya tetap seperti itu, gw bisa menjamin bahwa itu tidaklah bertahan lama. Ada loh yang lebih penting dari itu. Namanya ridho. Bukan ridho anaknya pak lurah loh ya. Ridhonya Allah. Wah susah nih yang kayak begini. Kalau sudah ridho itu urusan Allah. Kita hanya bisa ikhtiar saja. Caranya bagaimana? Kuncinya adalah ikhlas dalam beribadah kepada Allah.

Setiap solat kan kita selalu berdoa di takbiratul ikhram. Inna solati wanu suki wama yahya wama mati lillahirobbil  alamin. Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Taala. Dan Allah menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada Allah. Kuncinya ikhlas. Mempraktekkan ikhlas itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Syusah. Keseringan kita akan khusuk solat, puasa dan sedekah kalau kita ada maunya. Misalnya lagi ujian semesteran atau lagi tes masuk kerja. Tapi kalau kita lagi tidak ada yang diinginkan maka solatnya yang penting solat, bahkan mungkin ada yang meninggalkannya.

Gw juga masih proses belajar ikhlas. Sulit tapi jika pelan-pelan dan terus menerus dicoba pasti bisa. Nah, hari ini tepat 1 Ramadhan 1435H. Jadikan ini sebagai momentum untuk kita belajar lebih ikhlas lagi. Indikator keberhasilannya adalah setelah bulan ini selesai maka ada perbaikan diri dan perilaku kita, dan lebih ikhlas lagi kepada Allah. Dan jika tidak ada perbaikan, sama saja, bahkan lebih buruk, maka kita gagal dan termasuk dalam orang-orang yang rugi.

De Budi Sudarsono

Posted on Sunday, June 29, 2014 by De Budi Sudarsono

No comments

Tuesday, May 20, 2014


“manfaatin waktu muda lo bud buat traveling, mumpung masih muda”. #sambilsenyum

Kalimat perpisahan yang gw peroleh dari senior rekan kerja saat hari terakhir gw bekerja. Mas Pudjo. Beliau ini sudah berkali-kali mendaki segala macam gunung. Cerita dan foto-foto yang berhasil diabadikannya bikin ngiri. Itulah mengapa nasehat dari Mas Pudjo begitu hangat, penuh dengan magis.

Pari Island. Rupanya destinasi pertama gw jatuh ke pulau itu. Pulau yang ada di Kepulauan Seribu. Perjalanan menuju kesana butuh waktu kurang lebih 3 jam dari Muara Angke dengan bantuan kapal laut. Bukan waktu yang sebentar terombang-ambing di lautan dengan kapal laut biasa. Alhasil gw mabok laut, rasanya bener-bener mual. Gw langsung menjauh sambil membawa kantong kresek alfa yang berwarna putih. “Hweeeeeek”. Muntahan pertama berhasil mendarat dengan selamat ke dalam kantong. Yes. Dan dilanjutkan oleh muntahan-muntahan berikutnya. Hasilnya, seperempat kantong kresek tersebut terisi dengan muntahan gw. Kondisi saat itu lemes dan ingin secepatnya sampai kembali ke daratan.

Sesampainya di dermaga Pulau Pari kekuatan gw kembali seperti sedia kala, sehat walafiat. Wooow, subhanallah pelajaran yang didapat adalah bahwa kodratnya manusia memang diciptakan dari tanah, dan kita tak akan bisa hidup tanpa daratan, seindah apapun itu lautan.
Gw bersama tim tidak menyewa homestay disana, melainkan kemping, iya kemping, pakai tenda. Butuh 15 menit dari darmaga Pulau Pari ke Pantai Perawan, spot untuk mendirikan tenda tepat di pinggir pantai. Pemandangan pantai saat itu tidak terlihat indah, air lautnya masih surut. Tapi surutnya air laut tidak menyurutkan semangat kita untuk mendirikan 4 tenda, untuk 15 orang. Ternyata mendirikan tenda itu seru, saking serunya angin dari laut tiba-tiba berhembus dengan kuatnya. Empat tenda kita yang baru setengah jadi tak kuat menahan hembusannya, robohlah tenda kita. Haha. Tapi akhirnya dengan keuletan dan kesungguhan empat tenda berhasil kita dirikan. Hwoooo. 
Setelah makan siang dan solat agenda kita adalah snorkeling. Namun sayang, terlalu siang (pukul 14.14). ternyata sudah habis kapal-kapal yang akan membawa kita ke spot-spot snorkeling. Kecewa mah pasti, tapi tetep yakin kalau besok pagi akan jauh lebih indah saat snorkeling. Sebagai gantinya siang hingga sore hari kita manfaatin bersenang-senang berenang di Pantai Perawan. Air sudah mulai pasang, pemandangan sepanjang lautan begitu indah, garis pantai sangat jauh dari lautan, bibit mangrove yang menggoda dan  berjejer pulau-pulau kecil yang ditumbuhi pepohonan. Cuaca tidak panas dan tidak mendung, pas untuk kita berenang-renang, berfoto-foto ria. Layaknya anak kecil yang baru ketemu laut, ya begitulah kita. Namun sayang, kita tidak mendapatkan momen sunset, ketika matahari ingin kembali tertidur, cuaca malahan mendung. Tapi walaupun begitu, tidak mengurangi keindahan sunsetnya.

Malam hari kita manfaatkan untuk mengenal satu sama lain dibawah gerimis hujan, tawa canda semuanya lepas, tak ada yang jaim. Satu malam yang sungguh berkesan. Muncullah satu quote yang keren, “dari kami, jadi kita”.

Sekitar pukul 23.00 sudah pada mulai mengantuk. Yang cewek sudah memasuki tenda-tendanya. Yang cowok masih diluar tenda, beralaskan matras dan dinaungi oleh terpal. Sambil tidur-tiduran, dan tiba-tiba “hwuuuuusssssss”. Angin darat yang datangnya dari laut sangat amat kencang. Serem. Ini berlangsung sangat lamaa. Gw berempat yang tidur diluar sadar tapi tidak bangun, masih memenjamkan mata sambilberdoa supaya tenda-tendanya tidak roboh. Rupanya kita berempat nyerah dan langsung masuk ke tenda. Saat itu sempat lihat HP, waktu menunjukkan pukul 01.30. Entah kapan angin kencang itu berhenti, karena kita semua melanjukan kembali tidur kita masing-masing.

Gw bangun lebih awal dibandingkan yang lainnya dan langsung ke warung untuk numpang ngecharge HP. Sambil beli air mineral yang gw gunakan untuk gosok gigi. Suara air lautnya sungguh mendamaikan hati dan menggoda. Saat azan subuh berkumandang, gw manfaatkan momen ini untuk solat di pinggir pantai dengan beralaskan matras dan langsung di bawah langit. Belum pernah merasakan nikmatnya solat subuh seperti ini. Rasa tenang yang mendamaikan. Riak-riak air laut membuat air mata ini mengalir. Aah, betapa bersyukurnya diberi kesempatan seperti ini. Ketika salam menengok ke kanan, air mata tak kunjung henti, saat melihat lautan, makin teringat bahwasanya dosa-dosa gw banyaknya seperti lautan itu. Dan gw hanyalah makhluk yang lemah, seperti butiran pasir di pantai ini.

Momen sunrise memang banyak ditunggu. Pagi itu menjadi ajang mereka untuk berfoto ria. Tak terkecuali gw, walaupun hanya punya kamera HP dan hanya bisa jepret doank ya tidak apa-apalah yang penting diabadikan hehe.

Setelah sarapan kita langsung bergegas menuju darmaga untuk menuju spot-spot snorkeling menggunakan perahu kecil. Sebenarnya ada 3 spot yang akan kita tuju, namun karena takut kelamaan dan kesiangan kita hanya 2 spot saja. Spot pertama di Bintangrama dan yang kedua di Terumbuluar. Oooh gini toh rasanya snorkeling, berenang di tengah laut dengan bantuan pelampung, kaki katak dan kacamata renang. Melihat indahnya terumbu karang yang besar-besar. Melihat ikan-ikan yang berwarna-warni mendekat ketika kita memberinya serpihan roti. Tak henti-hentinya tersenyum saat melihat kedalam laut, Subhanallah dan Allahu Akbar. Snorkeling menjadi ajang yang pas untuk melihat betapa indahnya ciptaan Allah di lautan. Jika dispot pertama yang kita lihat adalah indahnya terumbu karang dan ikan-ikan, namun di spot kedua kita hanya melihat terumbu karangnya saja, ikan-ikannya hanya sedikit. Nah yang lebih kerenya lagi, kita baru sadar kalau ternyata banyak ubur-ubur kecil. Efeknya? Kita semua terkena sengatan yang menimbulkan rasa gatal. Tangan gw merah terkena sengatannya. Saking penasarannya gw akhirnya berhasil menangkap satu ubur-ubur tersebut. Hanya untuk dilihat dan difoto saja ko, setelah itu gw lepas kembali ke habitatnya, di lautan yang indah.

Selesai berbilas dan bersih-besih kita langsung melipat tenda dan mengumpulkan sampah-sampah untuk dibuang ke tempat sampah. Kapal yang menjemput kita datang pukul 12.00.

Thanks Pulau Pari.

Berangkat dari Muara Angke
pagi hari di pantai perawan

spot snorkeling di bintangrama

momen sunrise

langit mendung ketika sunset

sunset pantai perawan

snorkeling
berkat tongsis :D


Posted on Tuesday, May 20, 2014 by De Budi Sudarsono

No comments

Friday, May 09, 2014


Untuk Anakku kelak,

Anakku, kau harus mengenal nenek dan kakekmu dengan sebaik-baiknya. Memangnya kenapa kau harus tahu? Karena mereka adalah orangtua dari ayahmu ini. Tanpa mereka, ayahmu tidak mungkin tumbuh seperti ini, dan tanpa mereka mungkin kau tidak tak akan pernah terlahir di muka bumi ini.

Ada banyak sekali yang ingin ayah ceritakan kepadamu tentang nenek dan kakekmu. Cerita perjuangan mereka dari mereka kecil di keluarga mereka masing-masing sampai mereka berjuang untuk menghidupi ayah dan tantemu, adik ayah.

Anakku, mereka kemarin baru saja menunaikan ibadah umroh di Arab Saudi, di Mekah dan Madinah. Mungkin ibadah seperti ini untuk kebanyakan orang adalah sesuatu yang biasa, sesuatu yang sering mereka laksanakan, sesuatu yang mudah mereka lakukan. Tapi tidak untuk sebagian orang, termasuk nenek dan kakekmu. Dan ketika ayah tahu bahwa mereka berencana ingin berangkat umroh, ada perasaan bangga, dan wooow subhanallah.

Kau tahu apa alasannya kenapa ayahmu begitu terkejut bangga?
Dengarkan dan perhatikan baik-baik nak.

Pertama, tidak semua orang bisa diberi kesempatan untuk pergi ke tanah suci Mekah untuk bisa bertamu langsung ke rumah Allah, tanpa terkecuali orang kaya sekalipun. Panggilan itu datangnya dari Allah, dan jika hatinya belum dipanggil maka tidak akan pernah mau untuk bertamu ke sana. Dan alhamdulillah nenek dan kakekmu diberi kesempatan itu.

Kedua, mereka tidaklah terlalu pandai dalam membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Ayah juga jarang melihat mereka duduk untuk membaca Al-Quran. Hingga pada suatu saat, ketika ayahmu masih kuliah, ayah melihat nenekmu memanggil guru ngaji untuk datang ke rumah, hampir setiap sore. Kemudian kakekmu juga, memanggil ustadz untuk belajar mengaji setiap malam hari Senin dan Rabu. Ayah yakin mereka tidak hanya belajar mengaji saja, tapi guru ngaji mereka juga memberikan pengetahuan tentang agama islam secara luas. Mungkin karena ini mereka memutuskan untuk berangkat umroh.

Ketiga, untuk pergi umroh memang tak semahal pergi haji. Tapi tak sedikit juga uang yang harus dikeluarkan. Anakku, nenek dan kakekmu tumbuh dikeluarga yang serba kekurangan. Dari kecil mereka sudah terbiasa bekerja keras, dan diumur mereka yang sudah tua mereka bisa menikmati hasil kerja keras mereka.

Apa yang bisa kau ambil dari tiga pelajaran di atas anakku?
Ya, tidak ada kata terlambat untuk belajar. Ayah berharap kelak kau menjadi anak yang pandai, yang kepandaianmu bisa memberikan kebermanfaatan untuk dirimu, keluargamu, agamamu dan negaramu. Dan jagalah selalu hatimu dari segala kejahatan, karena hidayah Allah akan datang kepada mereka yang mencari dan mendekatkan diri kepada-Nya. Semoga kau bisa diberi kesempatan untuk bertamu ke rumah Allah juga, dengan ilmu dan hartamu sendiri, seperti nenek dan kakekmu. Aamiin.

Tahukah kau anakku sayang?
Jumat pagi ayah mengantar mereka ke tempat kumpul para rombongan jamaah yang ingin berangkat umroh. Sabtu siang tiba-tiba kakekmu menelpon ayah. Loh ada apa ini? Muncul perasaan yang buruk telah terjadi. Dan ternyata mereka belum berangkat, masih di hotel bandara Soekarno-Hatta. Kakekmu bercerita bahwa rombongan mereka di tipu oleh travel yang akan memberangkatan mereka. Satu rombongan ada sekitar 60an jamaah. Dan setengahnya sudah berangkat, setengahnya lagi belum termasuk kakek dan nenekmu. Travelnya kabur dan meninggalkan mereka di bandara. Kakekmu berpesan kepada ayah supaya merahasiakan hal ini dari siapapun, termasuk kepada tantemu. Setelah telpon dari kakekmu, ayah tidak bisa tenang, gelisah. Selalu berdoa setiap saat semoga mereka diberikan kesempatan untuk benar-benar pergi umroh dan  diberikan keselamatan kepada kakek dan nenekmu dalam perjalanan ke sana dan pulang ke rumah kembali. Sore hari gantian ayah yang menelpon kakekmu, tapi belum ada kabar lagi tentang keberangkatan mereka. Malamnya jam 9an juga ayah telpon lagi tapi tetap belum ada kepastian. Lalu kakekmu berpesan, yasudah tenang saja, doakan semoga semuanya lancar dan diberikan yang terbaik. Malam harinya tetap saja ayahmu ini tak bisa tidur nyenyak, masih kepikiran. Kondisinya ayah juga tidak bisa cerita kepada siapapun. Keesokan harinya, hari minggu dengar kabar kalau nenek dan kakekmu akhirnya berangkat. Agennya bertanggung jawab dengan menyewa travel lain untuk memberangkatkan setengah rombongan yang sempat terlantar di bandara. Alhamdulillah.

Anakku sayang, ketika kelak kau tumbuh besar, jangan kaget dengan kondisi dunia sekarang ini. Kau akan menemukan kejahatan dimana-mana. Temasuk kasus penipuan, seperti cerita diatas, untuk mau beribadah kepada Allah saja masih harus ditipu. Nak, ayah berharap kau bisa menjaga dirimu dengan baik. Jaga hatimu dan jaga pikiranmu, supaya kau selalu terhindar dari segala kejahatan, aamiin.

Anakku yang ayah banggakan.
Sepulang dari umroh, nenekmu cerita. Bahwa setengah rombongan yang berangkat umroh duluan ternyata terlantar di bandara Arab. Mereka belum mendapat tiket pulang kembali ke tanah air. Ya karena travel yang memberangkatkan mereka sudah kabur. Ada perasaan kasian kepada setengah rombongan tersebut. Tetapi ada rasa bersyukur karena nenek dan kakekmu sudah selamat sampai rumah. Mereka sempat terlantar sebelum berangkat, tetapi diberi kelancaran ketika pulang.

Anakku sayang,
Allah bersama hamba-hambanya yang sabar. Allah juga sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Maka dari itu, ketika suatu saat engkau mendapatkan sebuah cobaan, ujian atau keburukan yang menimpamu jangan pernah sekali-kali menyalahkan Allah. Sabarlah anakku, percayalah bahwa kejadian yang menimpamu itu adalah cara Allah untuk menjagamu, cara Allah untuk membuatmu bertambah kuat. Percayalah nak.

Ayahmu,

Posted on Friday, May 09, 2014 by De Budi Sudarsono

4 comments