Bayi yg baru saja dilahirkan ke dunia tak bisa memilih ibu yg melahirkannya dan tak bisa  memilih ayah. Sang bayi lahir atas kehendak Allah dan mengamanahkannya kepada ibu ayahnya.
Sadar atau tidak kita sadari perkembangan kita dari mulai bayi hingga sampai detik ini kita dihadapkan oleh banyak pilihan, tidak hanya satu. Klo saat kita lahir kita tidak bisa memilih namun saat kita lahir ke dunia, di kehidupan yg sekarang ini banyak sekali pilihan. Ketika masih kanak-kanak kita tak pernah memikirkan apa dampaknya, tapi kita menikmati apa yg sedang kita kerjakan. Tak ada kekhawatiran dan penyesalan. Sedangkan sekarang, saat kita mulai dewasa, maka kita sering sekali bingung dalam memutuskan sesuatu, dan tidak sedikit yang menyesali keputusannya.

Ketika saat kita makan ayam, padahal di meja makan ada ikan, udang, cumi dll, itu termasuk dalam banyaknya pilihan dan kita harus memutuskan, lalu kita memutuskan untuk memakan daging ayam. Ini contoh banyaknya pilihan yang mungkin kita tidak perlu berfikir untuk memutuskannya. Namun bukan hal seperti itu yang mau gw bahas.

Sering sekali gw bingung dalam mengambil sebuah keputusan, keputusan yg taruhannya adalah masa depan. Dulu gw keterima di Matematika UNJ, disana gw udah bayar dan tinggal ikut Ospek. Ga lama setelah itu gw keterima di Statistika IPB dengan biaya masuk yg lebih besar dibandingkan di UNJ. Sebenarnya saat itu yg membuat gw bingung adalah gw udah bayar. tp setelah meminta pendapat dari wali kelas guru gw waktu SMA akhirnya gw putuskan untuk masuk IPB. Ada sesuatu yg akhirnya gw korbankan. Beberapa bulan yg lalu gw keterima di Perusahan Pembiayaan yang Terkenal dan sedang berkembang, sebut saja X. Setelah kerja satu bulan gw dapet kabar bahwa gw lolos sampai tahap akhir di Bank milik BUMN yg terkenal, sebut saja Y. Nah disini gw bingung, gw sangat ingin masuk di Y tp gw sekarang udah di X. Benar2 memakan energi yg cukup besar untuk memikirknya. Peluang gw untuk masuk Y sudah cukup besar, namun tetap ada peluang gagal walaupun kecil. Yang gw khawatirkan sebenarnya adalah peluang yg gagalnya ini. Karena ketika gw memutuskan untuk keluar dari X dan mengikuti proses seleksi tahap akhir dan ternyata tidak lolos, maka gw ga dapet di X ataupun di Y, alhasil nganggur lagi. Gw minta pendapat dari tmn2 gw yg udah keterima di Y, pada dasarnya mereka mendukung gw untuk tetap melanjutkan perjuangan gw untuk ikut di Y, karena gw ikut seleksi di Y dari akhir Januari hingga April, bukan waktu yg sebentar untuk seorang  fresh graduate. Lagi-lagi gw kebanyakan mikir, gw mikir ga enak klo gw keluar dari X, karena disana gw baru mau sebulan kerja dan ada senior IPB dalam satu divisi gw. Ada perasaan ga enak sama beliau jika gw ko baru masuk sebulan udah keluar. Akhirnya gw minta izin sama mama untuk keluar dari X dan ikut selesi akhir di Y, dengan taruhan klo gw ga lolos di Y maka gw juga akan kehilangan di X. Mama begitu bijak, beliau menyarankan agar gw tetap di X dulu, sambil ikut proses di Y, jadi ketika gagal dan ga masuk di Y masih bisa kerja di X. Mungkin bakal banyak juga yg berfikir demikian, karena gw juga memikirkan hal itu. Tp saat itu lagi lagi dan lagi gw kebanyakan mikir, gw berfikir nanti klo gw semakin lama di X maka bakal semakin banyak amanah kerjaan atau jobdesk yang diberikan bos buat gw, dan jika mau keluar baru sebulan kemudian setelah mengajukan surat pengunduran diri. Akhirnya gw lepas X dan gw ikuti seleksi di Y. Hasil akhirnya adalah Senior gw di X marah dan gw di Y ga lolos pada tahap medical check up yg 90% pasti lolos, sebagai bonusnya gw nganggur lg.

Contoh lainnya yg ringan adalah saat kemarin setelah jenguk teman yg sakit dan di rawat di RS, gw pulang naik busway. Gw udah bayar tiket busway, dan ternyata yg nunggu busway sangat banyak dan berdesak-desakan. Dan busway nya pun tak kunjung datang. Saat itu gw masih menunggu dan karena lama akhirnya gw memutuskan untuk naik kopaja aja, mengorbankan tiket busway. Saat gw nyebrang dan agak jauh dari busway, sambil nunggu kopaja lewat gw merhatiin shelter busway nya. Dan ada 6 busway yg lewat. Dari seberang gw hanya bisa ketawa, nyesel sih sedikit, tapi dari sini gw berpikir bahwa ketika lu udah memutuskan sesuatu lu juga harus siap mengambil resikonya. Dan seringnya apa yg kita korbankan itu terlihat begitu cepat di hadapan kita, inilah alasan mengapa kita menyesal. Dari sini gw juga mencoba bijak, karena keputusan yg gw ambil pastinya juga akan ada hasilnya, kendaraannya beda tetapi tempat tujuannya sama.

Pilihan itu banyak sekali ketika kita banyak berfikir, dan bingung mengambil keputusan itu karena kita belum yakin dengan jalan hidup yang akan kita tempuh. Tentukanlah kita mau menjadi apa, karena itu bisa menjadi penuntun kita ketika kita sedang bingung memutuskan. Putuskan dari banyaknya pilihan tersebut yang bisa mengantarkan menuju impian kita, ketika keputusan yang kita ambil gagal dan diberikan oleh Allah jalur lain, maka percayalah bahwa jalur tersebut akan mengantarkan kita menuju impian kita, tentunya dengan usaha yang lebih keras lagi.