Seorang anak berusia 9 tahun meminta orantuanya untuk membeli sebuah video game, seorang anak berusia 15 tahun meminta dibelikan sepeda motor dan anak berusia 20 tahun meminta orangtuanya untuk membelikannya mobil. Ketiga anak tersebut sama-sama meminta sesuatu kepada orangtuanya, namun belum tentu mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tentu bukan karena orangtuanya tidak menyayangi anak-anak mereka, tetapi karena anak-anak belum siap untuk menerima pemberian tersebut.
Orangtua akan melihat apakah anaknya sudah siap atau belum untuk menerimanya. Apabila orangtua melihat rapor anaknya banyak angka merah, tentu saja anak ini dikategorikan belum siap untuk menerima video game, jangan2 jika dibelikan akan membuat dia tambah malas dan menambah angka merah di rapornya. Sama halnya dengan anak yang minta dibelikan motor dan mobil, orangtua sangat ingin sekali membelikan apa yang diminta oleh anaknya. Namun sayang, mereka terpaksa menunda keinginan anaknya karena si anak belum siap untuk menerimanya.
Banyak orang berdoa kepada Allah untuk meminta keberhasilan, kesuksesan, kekayaan, rezeki yang halal dan lancar seperti air yang mengalir serta jenjang karier yang bagus. Allah sama halnya dengan orangtua kita, Allah ingin memberikan apa yang kita inginkan dan kita minta. Namun kitalah yang belum siap untuk menerima apa yang kita minta. Kita sering kali tidak siap untuk membenahi diri kita untuk menerima anugerah dari Allah. Kita masih memiliki kebiasaan2 buruk seperti bermalas-malasan, menunda, mengeluh, berkhayalan, berbuat maksiat, bahkan menyalahkan orang lain. Kita belum siap untuk menerima pemberian dari Allah baik secara mental maupun pengetahuan.
Analogi di atas bisa menjadi renungan kita khususnya gw mengapa doa-doa kita kadang tak dikabulkan oleh Allah. Ya, karena kita belum siap untuk menerimanya, perlu usaha keras, doa serta keyakinan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Latihlah mental kita agar kuat dan tak lari ketika menghadapi cobaan dan masalah. Berjuanglah terus mendapatkan dan mengasah ilmu sesuai bidang yang ingin kita capai. Dan jika itu semua sudah kita miliki, selebihnya ikhlaskan kepada Allah. Karena Allah lebih tahu mana yang terbaik untuk kita. Ketika kita gagal mendapatkan apa yang kita inginkan, maka alangkah baiknya bila kita instropeksi diri, melihat diri kita lebih dalam lagi, jika mental dan ilmu sudah kuat namun masih gagal, mungkin dikarenakan perbuatan dosa kita di masa lalu, atau kurangnya bersilaturahim dengan saudara dan kerabat, atau kita pernah menyakiti ibu ayah kita. Sudah saatnya kita memperbaiki diri dengan bertaobat, jadilah pria yang sejati, yang dapat dipegang janji dan tobatnya, minta maaf kepada orangtua kita karena pasti kita pernah membuat meraka sakit hati dengan segala ucapan dan perbuatan kita, dan perbanyaklah silaturahim kerumah sanak keluarga, sahabat dan kawan-kawan lama.
Percayalah apapun keputusan Allah terhadap kita, itu adalah yang terbaik buat kita. Jangan menyalahkan Allah karena kegagalan kita, liat lah lebih dekat dan kau bisa menilai lebih bijaksana. Lihat segalanya yang telah Allah berikan untuk kita, baik yang kita minta atau yang tidak kita minta. Maka nikmat mana kah yang kau dustakan?. Jika kita sudah berusaha, selebihnya biarlah Allah yang memutuskan apakah kita layak atau tidak menerimanya, jika tidak layak maka Allah pasti akan menunjukkan yang layak untuk kita. So bersabarlah dan tetaplah berusaha.
Persiapkanlah dirimu dengan mental yang kuat, ilmu yang luas serta keikhlasan dan berharap keridhoan-Nya, maka kita akan menerima hasil dari susah payahnya kita, pastinya yang terbaik untuk kita.
“BERSIAPLAH MENDAPATKAN APA YANG KITA INGINKAN!!!”