Tuesday, December 31, 2013


Ko gw merasa aneh ya kenapa setiap tahun baru segera datang semuanya berbondong-bondong merayakan dengan suka-cita, yang anehnya lagi ini dilakukan secara berlebihan (banyak panggung berjamuran di malam tahun baru). Entah sudah menjadi sebuah kebiasaan atau memang tidak mengetahui hakekat dari pergantian tahun itu sendiri. Jika dipikir-pikir kan arti datangnya tahun baru itu berarti semakin dekat kita dengan kematian, semakin berkurangnya umur kita. Nyatanya tanpa disadari kitapun juga larut akan suka-cita itu. Aktifitas apa yang biasanya dilakukan ketika menyambut tahun baru? Kalau gw (mikir keras mengingat-ingat), hmmmm kadang hanya di rumah bersama keluarga sambil nonton TV yang acaranya kebanyakan acara musik atau film, kadang juga bersama teman-teman SMA kumpul disalah satu rumah teman sambil bakar-bakar jagung dan ayam, pernah juga hanya di kontrakan dan dilewati dengan tidur doank. Hal yang paling jarang gw lakukan adalah “Muhasabah Diri”, ini baru sekali gw lakukan, tepatnya saat gw di Bogor, saat menyambut tahun 2010, saat dikontrakan gw yang pertama.

Sebentar lagi tahun ini (2013) dalam hitungan jam segera berakhir dan tahun barupun (2014) segera datang. Satu tahun memang tak terasa, padahal baru saja kemarin gw lulus kuliah dan keluar SKL, eh sekarang sudah harus berganti tahun lagi. Sebelum membuat Resolusi untuk satu tahun kedepan, gw ingin me”review” apa-apa saja yang telah gw lakukan dan alami selama satu tahun ke belakang ini. Sebagai sebuah rujuan untuk membuat resolusi tahun depan dan sebagai pembelajaran agar tidak terjatuh dilubang yang sama lagi.

...[Mikir keras mengingat-ingat]...

Januari
Gw masih santai karena baru dapat SKL, baru mulai buat CV untuk melamar pekerjaan. Ikut Job Fair di Senayan, menebar pesona kebeberapa perusahaan, salah satunya adalah BRI (Program Pengembangan Staf). Di akhir bulan ikut psikotest dan interview di Adira (sebagai staf Risk). Baru membuat blog dan mencoba untuk menulis di blog.

Februari
Kesana-kemari memenuhi panggilan psikotest dan interview. Dalam satu waktu, di hari Jumat, di akhir bulan ini ada 3 panggilan, semuanya dari Bank. BTPN sebagai MMDP, Bukopin sebagai MT Audit dan BRI sebagai PPS. Gw memutuskan untuk ikut yang BRI, disini baru test awal, interview awal. Memulai kursus bahasa inggris di English First (EF) selama 4 bulan.

Maret
Masih menjadi pengangguran dan menjadi laki-laki “panggilan”. Beberapa ada yang tidak gw penuhi undangannya, karena bentrok maupun karena perusahaan ataupun posisinya tidak sesuai. Ikut psikotes-TOEFL-interview HRDnya BRI. Dua hari sebelum tanggal kelahiran gw, gw diterima di Adira sebagai staf Risk Management.

April
Gw lolos BRI ke tahap interview direksi. Gw resign dari Adira (baru sebulan kerja, yang padahal belum tentu gw di terima di BRI). Akhir bulan gw di wisuda.

Mei
Alhamdulillah gw lolos interview direksi BRI, selanjutnya tahap Medical Check-up yang 90% pasti lolos. Ternyata gw termasuk yang 10%nya. Gw marah sama Allah, iman gw dalam posisi paling lemah, menyalahkan Allah. Bulan terakhir kursus bahasa inggris di EF.

Juni
Mencoba untuk bangkit dan segera move-on. Apply ke Bisnis Indonesia sebagai staf statistician. Ikut psikotest dan interview di Bisnis Indonesia.

Juli
Awal bulan mulai kerja di Bisnis Indonesia.

Agustus
Lolos pemberkasan tahap awal di Bank Indonesia. Tidak ikut psikotest dan TOEFL karena belum siap dan waktunya di jam kerja.

September
Ikut mendaftar CPNS di Kemenkeu, ESDM, BPS dan Kemendikbud.

Oktober
Test di Kemenkeu dan ESDM, langsung gagal di tahap TKD awal CAT. Tidak ikut test BPS karena di Riau.

November
Ikut test awal Tes Kemampuan Dasar (TKD) di Kemendikbud.

Desember
Ikut test kedua Tes Kemampuan Bidang (TKB) di kemendikbud. Sudah setengah tahun kerja di Bisnis Indonesia.

Selama satu tahun ini sebagian besar waktu dipergunakan untuk ikut seleksi kerja, baik itu di swasta, BUMN hingga PNS. Setelah masuk di dunia kerja di Perusahaan Swasta (masuk pukul 12.00 s/d 21.00), waktu pagi hingga siang belum digunakan secara produktif dan maksimal, seringnya digunakan hanya untuk sarapan kemudian tidur lagi. Kemampuan excel bertambah dan wawasan tentang Pasar Modal serta perkembangan kondisi ekonomi di Indonesia mulai terbangun. Namun skill statistika yang merupakan background pendidikan gw hingga sekarang belum digunakan sebagaimana mestinya. Hasil kursus EF nol besar. Masih seperti keledai yang selalu jatuh di lubang yang sama, masih suka berbuat yang dilarang oleh Allah. Tidak seharusnya gw marah ke Allah gara-gara terus-menerus mengalami kegagalan dalam hidup, contoh terbaru yang gagal di BRI. Hafalan An-Naba hilang. Beberapa surah di Juz Ama juga mulai hilang-hilangan. Sehari hanya tadarus selembar saja, bahkan pernah/sering tidak membaca Al-Quran dalam sehari.

Semoga tahun depan dan seterusnya bisa jauh lebih baik lagi. Yang buruk-buruk segera ditinggalkan dan yang baik-baik makin ditingkatkan.



Posted on Tuesday, December 31, 2013 by De Budi Sudarsono

No comments

Tuesday, December 17, 2013


Boi boi boi, mana nih katanya kantor lu sekarang deket sama rumah gw? Aah bohong lu boi. Masa minimal seminggu sekali aja lu ga mau sih berkunjung ke rumah gw? Apakah gw punya salah sama lu boi? Atau pekerjaan lu di kantor sebegitu banyaknya kah sampai-sampai berat sekali melangkahkan kaki lu ke rumah gw?Gw kangen sama lu boi. Hmmm masih ingat ga lu boi kapan kita terakhir berbincang-bincang sampe mulut kita berbusa gara-gara tertawa? Aah pasti lu ga inget kan boi..

Boi, kabar teman-teman statistik gmn? Udah pada lulus semua kan? Apa ada yang belum? Kalau teman-teman mentoring kita gimana kabar mereka? Gw kangen nih boi, mereka juga ga pernah maen ke rumah gw.

Ohiya pasti diantara teman-teman kita udah ada yang nikah ya? Wah boi maaf banget nih gw jadinya ga bisa dateng ke acara sakral mereka, kalau lu dateng tolong salamin ya semoga teman-teman gw yang nikah bisa menjadi keluarga yang samara, begitupun dengan lu boi, jangan kelamaan lah, nunggu apa lagi buruan nikah. Kalau lu udah punya anak, ajak anak lu maen ke rumah gw, pasti gw bakal seneng banget punya ponakan, hehehe.

Boi, ingat ga boi saat langit sebiru hari itu, birunya bagai langit terang benderang, sebiru hari kita bersama di sana.

Boi, ingat ga boi saat seindah hari itu, indahnya bak permadani taman syurga, seindah hati kita walau gw tahu bahwa kita kan terpisah.

Boi bukankah hati kita telah lama menyatu, menyatu dalam tali kisah persahabatan illahi kan ya, pegang erat tangan gw terakhir kalinya boi, anggaplah tangan gw ada disebelah lu, hapus air mata lu meski kita sudah terpisah. Selamat tinggal teman, tetaplah berjuang semoga kita bertemu kembali. Kenang masa indah kita sebiru hari itu.

Seseorang yang merindukan lu boi..
Salam buat teman-teman ya..

Posted on Tuesday, December 17, 2013 by De Budi Sudarsono

2 comments

Thursday, December 12, 2013


#Pasti. Semua kosakata yang ada dibumi ini #pasti hanyalah buatan manusia saja. Apapun itu jenis bahasanya. Walaupun memang #pasti ada campur tangan Tuhan didalamnya. Seperti halnya kosakata GAGAL. KEGAGALAN.

Bagi gw,  ketika membicarakan tentang KEGAGALAN, itu seperti membuka luka lama, sakit karena mengingat masa-masa itu lagi. Ya kapan-kapan akan gw ceritakan tentang perjalanan rasa itu dipostingan gw berikutnya. Yang semestinya patut kita perhatikan adalah cara kita menerima KEGAGALAN tersebut. Hmmm, gw pun hanya menjadi seorang yang menduga-duga. Mungkin doa atau harapan kita tersebut gagal karena Allah mengabulkan doa-doa kita yang lainnya. Misalnya kita berdoa minta keselamatan di dunia dan akhirat. Terus kita berdoa minta diluluskan menjadi anggota TNI. Eh ternyata kita gagal masuk TNI, itu karena Allah mengabulkan doa kita yang minta keselamatan didunia dan akhirat. Mungkin saja kalau doa masuk TNI itu dikabulkan terus kita melupakan Allah dan kita tidak selamat didunia apalagi di akhirat. Ya lagi-lagi gw hanya bisa menduga-duga saja. Yang #pasti Allah tahu jalan yang terbaik buat kita. Walaupun buat gw mungkin saja kita sangat berat sekali menerima yang namanya KEGAGALAN. Ah ini berarti indikasi kita belum ikhlas.

Ikhlas itu progres yang sangat lama. Ketika menerima sebuah KEGAGALAN, gw belum bisa langsung ikhlas. Ada perasaan sakit yang menusuk-nusuk. Hanya butuh waktu. Ya seperti sekarang ini, saat gw menulis tulisan ini. Seketika gw baru sadar bahwa gw selama ini hanya bekerja sendirian. Gw hanya mengandalkan diri gw sendiri. Dan selebihnya, soal hasil barulah gw memasrahkan diri kepada yang Maha Memutuskan. Memang seharusnya seperti ini kan ya? Ahh pemikiran seperti inilah yang membuat gw tidak ikhlas menerima KEGAGALAN. Ketika sudah berjuang tetapi hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan pasti sangat terguncang.

Terguncangnya gw ketika gagal bisa dibilang karena iman yang masih naik-turun, mungkin malah turun terus.

Harusnya gw bisa berkolaborasi dengan Allah, dari awal hingga akhir sebuah proses. Karena sekarang bukan lagi zamanya Aku, tapi zamannya Kita. Ya, Aku dengan-Mu ya Allah.


Ini bukan tentang Aku, tapi tentang Kita. Aku denganmu keluargaku. Yaa, Aku denganmu Mama, Bapak dan Adikku.

Ini bukan lagi tentang Aku, tapi tentang Kita. Aku dengan perasaan dan harapanmu Mbah Putri.

Ini bukan lagi tentang Aku seorang, tapi Kita. Aku dengan sepupuku, dengan saudaraku.

Ini bukan lagi tentang Aku, tapi tentang Kita. Aku denganmu wahai temanku, sahabat-sahabatku.

Kalimat-kalimat itu yang sampai sekarang terus terngiang-ngiang dipikiran gw. Semoga ini bisa memberi power yang positif buat kehidupan gw.

Semalam, ketika sangat berat untuk bangun di sepertiga malam. Kalimat itu terngiang lagi. “Sekarang bukan lagi tentang Aku, tapi Kita, Aku dengan Allah”. Ada kekuatan yang akhirnya gw bangun, wudhu dan solat. Efek yang langsung gw rasakan karena melibatkan Allah, bukan diakhir, tapi berkolaborasi.

Harapan gw, inipun bisa menjadi mantra buat gw dalam membantu mama dan bapak bekerja. Menuruti kemauan adik. Menjaga perasaan mbah putri di alam sana, mencapai harapan mbah putri agar cucu laki-laki pertamanya ini sukses. Membantu tanpa pamrih sepupu-sepupu gw. Dan menjadi sahabat yang baik buat teman-teman gw.


Berharap dengan ini gw bisa lebih menerima yang namanya KEGAGALAN. Melakukan sesuatu bukan hanya buat gw. Dan ketika malas melakukan sesuatu, segera ingat mantra ini dan bangkit, ingat efeknya itu bukan hanya ke gw, tapi kita. Karena sekarang bukan lagi zamannya Aku. Tapi zamannya Kita. 

Posted on Thursday, December 12, 2013 by De Budi Sudarsono

1 comment

Monday, December 09, 2013


Dua ribu delapan, Masjid Al-Hurriyyah, kampus IPB Bogor. Waktu dan tempat dimana kita dipertemukan untuk pertama kalinya. Saat itu kita hanyalah mahasiswa baru yang sangat mentah. Masih ingatkah saat itu saudaraku?. Ketika itu gw melihat sosok laki-laki bertubuh besar dan berkulit agak gelap. Iya, itu dirimu. Maaf, jujur saat pertama kali bertemu denganmu gw takut, dimata gw kau terlihat sangat menyeramkan, gw berpikir kau itu seorang jagoan.

Ketakutan itu rupanya masih berlanjut ketika ternyata kita berada dalam satu kelompok kecil yang sama. Ya, kita berada dalam satu kelompok mentoring yang sama. Akhirnya kita berkenalan.Bla bla bla, ber-haha-hehe. Dan ternyata kita memiliki cerita yang hampir mirip. Kau diterima di Kimia FMIPA UNJ dan gw di Matematika FMIPA UNJ. Tapi akhirnya kita sama-sama tidak mengambil itu karena kita lulus SNMPTN di jurusan yang sama, jurusan Statistika IPB. Kesan menyeramkan dari visual gw pun luntur ketika perkenalan pertama itu membaur menjadi sangat menyenangkan. Hari itu menjadi hari yang bersejarah buat kita sebagai seorang sahabat. Aah, sepertinya gw tak pantas disebut sahabatmu.

Setiap jam perkuliahan kita selalu duduk paling depan, walaupun belum tentu gw mengerti dengan materi yang diberikan oleh dosen. Tapi kau selalu bersemangat ketika menyimak dosen mengajar, walau tak jarang gw melihatmu tertidur. Setiap pulang kuliahpun kita jalan bareng bersama yang lainnya menuju asrama. Bercanda dan tertawa. Sifatmu sangat konyol dan kocak, kesamaan sifat inilah yang membuat kita menjadi sangat akrab. Aah, tapi tahu kah kau wahai saudaraku? Sebenarnya gw sangat iri kepadamu. Ternyata kau sangat pintar, nilai-nilai ujian pertamamu (UTS) sangat tinggi, Biologi, ya nilai Biologimu tertinggi dikelas, begitupun dengan nilai-nilaimu yang lain. Gw kesal, gw iri kepadamu. Dan sejak saat itu gw tidak hanya menganggapmu sebatas sahabat, tetapi juga mejadikanmu sebagai saingan. Semenjak saat itu hingga semester akhir, setiap ada pengumuman nilai ujian, pasti gw selalu melihat nilaimu, membandingkan nilai gw dengan nilaimu.

Satu tahun kita tinggal di asrama, walaupun berbeda gedung tapi kita tak jarang saling mengunjungi. Tugas-tugas kuliah yang sangat banyak itu membuat kita saling mengunjungi kamar masing-masing. Lulus dari asrama kita memutuskan untuk mengontrak sebuah rumah dekat kampus bersama yang lainnya. Gw memiliki sebuah keluarga baru, bersama dirimu dan delapan orang lainnya. Tinggal dalam satu atap membuat gw bisa melihat karakter dirimu dengan sangat baik. Tidur, makan, solat, tadarus, bersih-bersih dan segala aktifitas kita lalui bersama. Dan apakah kau masih ingat saudaraku? Setelah setengah tahun kita mengontrak rumah itu, diliburan semester kita jalan-jalan ke Jogja. Pertama menginap di rumah kakeknya Raka (dirimu menyebutnya Babeh), lalu menginap dirumah kakek gw (dirimu akhirnya mengetahui nama panggilan gw) dan terakhir kita menginap dirumah kakeknya Dipo. Candi Prambanan dan Candi Borobudur menjadi saksi perjalanan kita, perjalanan hati para pelancong dari Bogor.

Banyak moment yang gw lalui bersamamu wahai saudaraku. Saat kita survey dari Bogor keliling Jakarta naik sepeda motor, dua kali ban motor bocor. Saat kita survey ke Jakarta Utara naik kereta api dan keretanya mogok. Saat kita ke Jogja. Saat kita mabit di Masjid kampus. Saat kita mentoring. Saat kita nonton bioskop. Saat kita belajar. Saat kita bermusyawarah. Saat kita berada dalam satu kepanitiaan yang sama. Saat berada di kelas. Saat dirimu cerita tentang kegalauanmu. Saat kau bingung dalam memutuskan sesuatu. Saat dirimu mengeluh karena kepalamu sering sakit.  Saat saat saat yang lainnya yang sudah gw lalui bersamamu. Semoga kau masih ingat wahai saudaraku.

Kau sudah gw anggap sebagai saudara, sahabat dan keluarga. Tapi gw tak pantas rasanya kau anggap sebagai seperti itu.

Gw tidak ada disaat kau sedang sakit. Gw sibuk mengurusi kehidupan gw sendiri. Hingga akhirnya kau divonis mengidap tumor otak. Saat mendengar berita itu gw langsung buru-buru menelpon ibumu untuk mengklarifikasi berita tersebut. Dan ternyata benar. Gw langsung down. Gw tak bisa berkata-kata lagi. Selama ini kau selalu mengeluh kepada gw tentang dirimu yang sering sekali pusing. Ternyata kau memiliki penyakit yang sangat ganas. Kau boleh tak memaafkanku wahai saudaraku. Gw tak bisa berbuat banyak ketika kau berbaring di rumah sakit di Jakarta dan sempat dirawat di Surabaya. Yang gw lakukan hanyalah berdoa disetiap solat untuk kesembuhan dirimu. Gw hanya menjengukmu sekali. Ya hanya sekali. Seorang sahabat hanya sekali menjenguk? Harusnya seminggu sekali gw bisa mengunjungimu. Tapi gw terlalu sibuk dengan urusan gw sendiri di kampus. Kau pasti kesepian, kau pasti butuh teman disaat-saat kritis. Maafkan gw. Maaf gw tak ada disaat dirimu membutuhkan seorang teman. Penyesalan ini menjadi tak berarti. Gw minta maaf Den, Gw minta maaf Den, Gw minta maaf. Maafkan gw wahai Denny Andrian.

Beberapa operasi yang dilakukan sepertinya belum sanggup membuatmu bertahan hingga kepalamu dibotak pelontos. Tapi alhamdulillah akhirnya Allah mengangkat penyakitmu den, sayangnya tidak hanya penyakitmu saja yang diangkat, tetapi juga rohmu. Innalillahi Wainailaihirojiun. Minggu pagi gw bangun sekitar pukul 05.00 dan langsung dapat berita duka tentang kematianmu. Beberapa menit gw tak dapat membendung air mata ini. Gw langsung mandi, solat subuh dan langsung menuju ke rumahmu, didaerah Jakarta Pusat. Selama perjalanan gw merasa bersalah karena gw tidak ada didekatmu ketika dirimu berjuang untuk terus hidup. Gw merasa menjadi makhluk yang tak berguna, seseorang yang membiarkan sahabatnya sendirian dalam berjuang. Den, maafin gw den. Maafin gw.

Kau dimakamkan hari Minggu siang. Bibir bawah gw gigit sekeras-kerasnya untuk membendung air mata ini jatuh menetesi tanah pemakamanmu. Saat dirimu dimasukkan ke liang lahat, saat ayahmu mengazankanmu hingga kau ditutupi oleh tanah. Gw hanya bisa menahan rasa yang begitu menusuk-nusuk hati gw ini. Den, maafin gw.

Oiya, tahukah kau den? Ah gw yakin kau tahu. Beberapa bulan setelah kau tiada akhirnya gw wisuda dan bekerja. Kantor gw berada tepat disamping tempat peristirahatanmu. Gw sekarang bekerja didaerah Karet, disebelah area pemakamanmu. Dari atas lantai 5 setelah selesai solat, gw selalu memandang makammu. Tapi maaf, masih dapat dihitung dengan jari gw mengunjungi tempat peristirahatanmu.

Selamat jalan sahabatku. Semoga kau ditempatkan ditempat yang layak di sisi-Nya. Maafkan gw yang tidak bisa menjadi sahabat yang baik. Terima kasih atas segala pengalaman hidup bersamamu. Terima kasih telah menerima gw apa adanya. Terima kasih den, Maafin gw. Semoga kelak di Syurga-Nya kita masih bisa dipertemukan kembali layaknya sahabat. Aamiin.

 
Alm. saat ospek.
tweet terakhir Alm.
status terakhir alm.
Alm. ketika di Rumah Sakit.



Alm.bersama teman-teman sejurusan.


Alm.saat dimakamkan.


































Posted on Monday, December 09, 2013 by De Budi Sudarsono

2 comments