#Pasti. Semua kosakata yang ada dibumi ini #pasti hanyalah buatan manusia saja. Apapun itu jenis bahasanya. Walaupun memang #pasti ada campur tangan Tuhan didalamnya. Seperti halnya kosakata GAGAL. KEGAGALAN.

Bagi gw,  ketika membicarakan tentang KEGAGALAN, itu seperti membuka luka lama, sakit karena mengingat masa-masa itu lagi. Ya kapan-kapan akan gw ceritakan tentang perjalanan rasa itu dipostingan gw berikutnya. Yang semestinya patut kita perhatikan adalah cara kita menerima KEGAGALAN tersebut. Hmmm, gw pun hanya menjadi seorang yang menduga-duga. Mungkin doa atau harapan kita tersebut gagal karena Allah mengabulkan doa-doa kita yang lainnya. Misalnya kita berdoa minta keselamatan di dunia dan akhirat. Terus kita berdoa minta diluluskan menjadi anggota TNI. Eh ternyata kita gagal masuk TNI, itu karena Allah mengabulkan doa kita yang minta keselamatan didunia dan akhirat. Mungkin saja kalau doa masuk TNI itu dikabulkan terus kita melupakan Allah dan kita tidak selamat didunia apalagi di akhirat. Ya lagi-lagi gw hanya bisa menduga-duga saja. Yang #pasti Allah tahu jalan yang terbaik buat kita. Walaupun buat gw mungkin saja kita sangat berat sekali menerima yang namanya KEGAGALAN. Ah ini berarti indikasi kita belum ikhlas.

Ikhlas itu progres yang sangat lama. Ketika menerima sebuah KEGAGALAN, gw belum bisa langsung ikhlas. Ada perasaan sakit yang menusuk-nusuk. Hanya butuh waktu. Ya seperti sekarang ini, saat gw menulis tulisan ini. Seketika gw baru sadar bahwa gw selama ini hanya bekerja sendirian. Gw hanya mengandalkan diri gw sendiri. Dan selebihnya, soal hasil barulah gw memasrahkan diri kepada yang Maha Memutuskan. Memang seharusnya seperti ini kan ya? Ahh pemikiran seperti inilah yang membuat gw tidak ikhlas menerima KEGAGALAN. Ketika sudah berjuang tetapi hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan pasti sangat terguncang.

Terguncangnya gw ketika gagal bisa dibilang karena iman yang masih naik-turun, mungkin malah turun terus.

Harusnya gw bisa berkolaborasi dengan Allah, dari awal hingga akhir sebuah proses. Karena sekarang bukan lagi zamanya Aku, tapi zamannya Kita. Ya, Aku dengan-Mu ya Allah.


Ini bukan tentang Aku, tapi tentang Kita. Aku denganmu keluargaku. Yaa, Aku denganmu Mama, Bapak dan Adikku.

Ini bukan lagi tentang Aku, tapi tentang Kita. Aku dengan perasaan dan harapanmu Mbah Putri.

Ini bukan lagi tentang Aku seorang, tapi Kita. Aku dengan sepupuku, dengan saudaraku.

Ini bukan lagi tentang Aku, tapi tentang Kita. Aku denganmu wahai temanku, sahabat-sahabatku.

Kalimat-kalimat itu yang sampai sekarang terus terngiang-ngiang dipikiran gw. Semoga ini bisa memberi power yang positif buat kehidupan gw.

Semalam, ketika sangat berat untuk bangun di sepertiga malam. Kalimat itu terngiang lagi. “Sekarang bukan lagi tentang Aku, tapi Kita, Aku dengan Allah”. Ada kekuatan yang akhirnya gw bangun, wudhu dan solat. Efek yang langsung gw rasakan karena melibatkan Allah, bukan diakhir, tapi berkolaborasi.

Harapan gw, inipun bisa menjadi mantra buat gw dalam membantu mama dan bapak bekerja. Menuruti kemauan adik. Menjaga perasaan mbah putri di alam sana, mencapai harapan mbah putri agar cucu laki-laki pertamanya ini sukses. Membantu tanpa pamrih sepupu-sepupu gw. Dan menjadi sahabat yang baik buat teman-teman gw.


Berharap dengan ini gw bisa lebih menerima yang namanya KEGAGALAN. Melakukan sesuatu bukan hanya buat gw. Dan ketika malas melakukan sesuatu, segera ingat mantra ini dan bangkit, ingat efeknya itu bukan hanya ke gw, tapi kita. Karena sekarang bukan lagi zamannya Aku. Tapi zamannya Kita.