Dua ribu delapan, Masjid Al-Hurriyyah, kampus IPB Bogor. Waktu dan
tempat dimana kita dipertemukan untuk pertama kalinya. Saat itu kita hanyalah
mahasiswa baru yang sangat mentah. Masih ingatkah saat itu saudaraku?. Ketika
itu gw melihat sosok laki-laki bertubuh besar dan berkulit agak gelap. Iya, itu
dirimu. Maaf, jujur saat pertama kali bertemu denganmu gw takut, dimata gw kau
terlihat sangat menyeramkan, gw berpikir kau itu seorang jagoan.
Ketakutan itu rupanya masih berlanjut ketika ternyata kita berada dalam
satu kelompok kecil yang sama. Ya, kita berada dalam satu kelompok mentoring
yang sama. Akhirnya kita berkenalan.Bla bla bla, ber-haha-hehe. Dan ternyata
kita memiliki cerita yang hampir mirip. Kau diterima di Kimia FMIPA UNJ dan gw
di Matematika FMIPA UNJ. Tapi akhirnya kita sama-sama tidak mengambil itu
karena kita lulus SNMPTN di jurusan yang sama, jurusan Statistika IPB. Kesan
menyeramkan dari visual gw pun luntur ketika perkenalan pertama itu membaur
menjadi sangat menyenangkan. Hari itu menjadi hari yang bersejarah buat kita
sebagai seorang sahabat. Aah, sepertinya gw tak pantas disebut sahabatmu.
Setiap jam perkuliahan kita selalu duduk paling depan, walaupun belum
tentu gw mengerti dengan materi yang diberikan oleh dosen. Tapi kau selalu
bersemangat ketika menyimak dosen mengajar, walau tak jarang gw melihatmu
tertidur. Setiap pulang kuliahpun kita jalan bareng bersama yang lainnya menuju
asrama. Bercanda dan tertawa. Sifatmu sangat konyol dan kocak, kesamaan sifat
inilah yang membuat kita menjadi sangat akrab. Aah, tapi tahu kah kau wahai
saudaraku? Sebenarnya gw sangat iri kepadamu. Ternyata kau sangat pintar,
nilai-nilai ujian pertamamu (UTS) sangat tinggi, Biologi, ya nilai Biologimu
tertinggi dikelas, begitupun dengan nilai-nilaimu yang lain. Gw kesal, gw iri
kepadamu. Dan sejak saat itu gw tidak hanya menganggapmu sebatas sahabat,
tetapi juga mejadikanmu sebagai saingan. Semenjak saat itu hingga semester
akhir, setiap ada pengumuman nilai ujian, pasti gw selalu melihat nilaimu,
membandingkan nilai gw dengan nilaimu.
Satu tahun kita tinggal di asrama, walaupun berbeda gedung tapi kita
tak jarang saling mengunjungi. Tugas-tugas kuliah yang sangat banyak itu
membuat kita saling mengunjungi kamar masing-masing. Lulus dari asrama kita
memutuskan untuk mengontrak sebuah rumah dekat kampus bersama yang lainnya. Gw
memiliki sebuah keluarga baru, bersama dirimu dan delapan orang lainnya.
Tinggal dalam satu atap membuat gw bisa melihat karakter dirimu dengan sangat
baik. Tidur, makan, solat, tadarus, bersih-bersih dan segala aktifitas kita
lalui bersama. Dan apakah kau masih ingat saudaraku? Setelah setengah tahun
kita mengontrak rumah itu, diliburan semester kita jalan-jalan ke Jogja.
Pertama menginap di rumah kakeknya Raka (dirimu menyebutnya Babeh), lalu
menginap dirumah kakek gw (dirimu akhirnya mengetahui nama panggilan gw) dan terakhir
kita menginap dirumah kakeknya Dipo. Candi Prambanan dan Candi Borobudur
menjadi saksi perjalanan kita, perjalanan hati para pelancong dari Bogor.
Banyak moment yang gw lalui bersamamu wahai saudaraku. Saat kita survey
dari Bogor keliling Jakarta naik sepeda motor, dua kali ban motor bocor. Saat
kita survey ke Jakarta Utara naik kereta api dan keretanya mogok. Saat kita ke
Jogja. Saat kita mabit di Masjid kampus. Saat kita mentoring. Saat kita nonton
bioskop. Saat kita belajar. Saat kita bermusyawarah. Saat kita berada dalam
satu kepanitiaan yang sama. Saat berada di kelas. Saat dirimu cerita tentang
kegalauanmu. Saat kau bingung dalam memutuskan sesuatu. Saat dirimu mengeluh
karena kepalamu sering sakit. Saat saat
saat yang lainnya yang sudah gw lalui bersamamu. Semoga kau masih ingat wahai
saudaraku.
Kau sudah gw anggap sebagai saudara, sahabat dan keluarga. Tapi gw tak
pantas rasanya kau anggap sebagai seperti itu.
Gw tidak ada disaat kau sedang sakit. Gw sibuk mengurusi kehidupan gw
sendiri. Hingga akhirnya kau divonis mengidap tumor otak. Saat mendengar berita
itu gw langsung buru-buru menelpon ibumu untuk mengklarifikasi berita tersebut.
Dan ternyata benar. Gw langsung down. Gw tak bisa berkata-kata lagi. Selama ini
kau selalu mengeluh kepada gw tentang dirimu yang sering sekali pusing.
Ternyata kau memiliki penyakit yang sangat ganas. Kau boleh tak memaafkanku
wahai saudaraku. Gw tak bisa berbuat banyak ketika kau berbaring di rumah sakit
di Jakarta dan sempat dirawat di Surabaya. Yang gw lakukan hanyalah berdoa
disetiap solat untuk kesembuhan dirimu. Gw hanya menjengukmu sekali. Ya hanya
sekali. Seorang sahabat hanya sekali menjenguk? Harusnya seminggu sekali gw
bisa mengunjungimu. Tapi gw terlalu sibuk dengan urusan gw sendiri di kampus.
Kau pasti kesepian, kau pasti butuh teman disaat-saat kritis. Maafkan gw. Maaf
gw tak ada disaat dirimu membutuhkan seorang teman. Penyesalan ini menjadi tak
berarti. Gw minta maaf Den, Gw minta maaf Den, Gw minta maaf. Maafkan gw wahai
Denny Andrian.
Beberapa operasi yang dilakukan sepertinya belum sanggup membuatmu
bertahan hingga kepalamu dibotak pelontos. Tapi alhamdulillah akhirnya Allah mengangkat
penyakitmu den, sayangnya tidak hanya penyakitmu saja yang diangkat, tetapi
juga rohmu. Innalillahi Wainailaihirojiun. Minggu pagi gw bangun sekitar pukul
05.00 dan langsung dapat berita duka tentang kematianmu. Beberapa menit gw tak
dapat membendung air mata ini. Gw langsung mandi, solat subuh dan langsung menuju
ke rumahmu, didaerah Jakarta Pusat. Selama perjalanan gw merasa bersalah karena
gw tidak ada didekatmu ketika dirimu berjuang untuk terus hidup. Gw merasa
menjadi makhluk yang tak berguna, seseorang yang membiarkan sahabatnya
sendirian dalam berjuang. Den, maafin gw den. Maafin gw.
Kau dimakamkan hari Minggu siang. Bibir bawah gw gigit sekeras-kerasnya
untuk membendung air mata ini jatuh menetesi tanah pemakamanmu. Saat dirimu
dimasukkan ke liang lahat, saat ayahmu mengazankanmu hingga kau ditutupi oleh
tanah. Gw hanya bisa menahan rasa yang begitu menusuk-nusuk hati gw ini. Den,
maafin gw.
Oiya, tahukah kau den? Ah gw yakin kau tahu. Beberapa bulan setelah kau
tiada akhirnya gw wisuda dan bekerja. Kantor gw berada tepat disamping tempat
peristirahatanmu. Gw sekarang bekerja didaerah Karet, disebelah area
pemakamanmu. Dari atas lantai 5 setelah selesai solat, gw selalu memandang
makammu. Tapi maaf, masih dapat dihitung dengan jari gw mengunjungi tempat
peristirahatanmu.
Selamat jalan sahabatku. Semoga kau ditempatkan ditempat yang layak di
sisi-Nya. Maafkan gw yang tidak bisa menjadi sahabat yang baik. Terima kasih
atas segala pengalaman hidup bersamamu. Terima kasih telah menerima gw apa adanya.
Terima kasih den, Maafin gw. Semoga kelak di Syurga-Nya kita masih bisa
dipertemukan kembali layaknya sahabat. Aamiin.
![]() |
| Alm. saat ospek. |
![]() |
| tweet terakhir Alm. |
![]() |
| status terakhir alm. |
![]() |
| Alm. ketika di Rumah Sakit. |
![]() |
| Alm.bersama teman-teman sejurusan. |
![]() |
| Alm.saat dimakamkan. |






Accidentally found your blog bro! And I am crying over this blog post ������. Gw masih inget kita nnton bareng Harry Potter 6 ternyata itu pertama dan terakhir bagi gw nonton bareng kalian dan Denny huhuhu ������
ReplyDeleteEh kita pernah nonton ramean ya? gw malah lupa hehe. Kirim doa buat Denny juga ya wen :). Barusan gw liat blog lu, wuiih udah byk bgt ya postingannya. Keren cara menulis lu. Gw taro di link sahabat yaa di sini:)
Delete