Masih ingat artikel gw sebelumnya yang berjudul Kalah Sebelum Berperang?. Karena momen itu gw jadi lebih mempersiapkan diri untuk
ikut tes di Kementerian ESDM. Hasilnya? Gagal lagi, gagal di TKDnya lagi.
Perasaannya? Sakit, karena gw sudah belajar tentang undang-undang, pasal-pasal,
dan ketika gagal itu rasanya tidak mengenakkan, kesel. Beda saat gw gagal di
Kemenkeu, itu malah bisa cenge-ngesan, karena memang gw tidak ada persiapan
apa-apa.
Kesempatan terakhir gw jatuh di Kemendikbud. Alhamdulillah
gw lulus pada tahap TKD, gw peringkat pertamanya. Dan yang datang di tahap TKB
ada sekitar 18 orang termasuk gw untuk memperebutkan 2 tempat. Ternyata TKB itu
soalnya statistika banget, sesuai dengan kebidangan ilmu masing-masing. Disini gw
merasakan manfaat pernah menjadi asisten dosen mata kuliah Metode Statistika dan Analis Data Kategorik.
Lancar jaya saat mengerjakannya, padahal sudah setahun tidak bersentuhan dengan
teori-teori statistika semenjak lulus. Alhamdulillah.
Butuh waktu dua bulan untuk menunggu hasil dari TKB
tersebut. Setiap hari pasti buka web-nya untuk melihat, setiap hari bisa 2-3
kali, hasilnya selalu belum ada pengumuman. Waktu yang sangat lama, karena
kementerian lainnya sudah ada pengumuman finalnya, bahkan sudah ada yang mulai
masa Pra-Jabatannya.
Februari tanggal 26 tahun 2014 menjadi waktu yang besejarah
buat para penanti hasil final kemendikbud di belahan bumi Indonesia, termasuk
gw. Tepat pukul 20.45 WIB pengumuman tersebut muncul di situs resminya Kemendikbud.
Alhamdulillah nama gw termasuk dalam daftar nama yang lulus CPNS Kemendikbud,
tepatnya di Direktorat Jenderal Kebudayaan, sebagai Analis Data Kekayaan
Budaya.
Alhamdulillah pemberkasan sudah selesai dan sekarang menanti
turunnya SK dari Badan Kepegawaian Negara (BKN). Tidak bisa ditentukan
kapannya, bisa sekitar 2-3 bulan. Berarti status gw sekarang masih CCPNS, Calon
CPNS. Setelah menjadi CPNS nanti masih harus ikut Pra-Jabatan. Menjadi PNS pun
harus lulus masa Pra-Jabatan saat CPNS. Semoga semua dilancarkan, aamiin. Mohon
bantuan doa dari semuanya.
Ada beberapa yang nanya, mengapa gw mau jadi PNS? Pertanyaan
dasar yang membuat gw memerlukan waktu yang cukup lama untuk menemukan
jawabannya. Hal yang membuat gw lama berpikir adalah tentang teman-teman
gw. Loh ko? Apa hubungannya sama teman-teman?. Gw bertanya-tanya, teman-teman
gw yang cerdas, pintar, genius, yang IPK-nya di atas rata-rata tidak ada yang
jadi PNS. Mereka berkarir di perusahaan BUMN dan Swasta. Gw memang tidak
sepintar mereka, tapi mengapa mereka tidak ingin jadi PNS ya? Gw mencoba
menghilangkan image buruk tentang PNS. Andaikan mereka ikut tes CPNS, sudah
pasti mereka akan lulus, gw yakin.
Kemudian, teman-teman gw yang semasa kuliahnya sangat aktif
berorganisasipun tidak ada yang jadi PNS. Mereka kebanyakan terjun di dunia
wirausaha, mereka mengembangkan usaha dari nol dan membuka lapangan pekerjaan
untuk warga sekitar. Gw memang aktif berorganisasi semasa kuliah dari tingkat
satu hingga tingkat akhir. Namun di tingkat akhir, gw tidak total dalam
menjalaninya, bisa dibilang “cacat”, gw menyesal tidak total, padahal itu tahun
terakhir gw di kampus.
Posisi gw tidak terlalu pintar dan tidak terlalu aktif berorganisasi. Pas-pasan, middle class, kelas medioker. Justru harusnya lebih banyak teman-teman gw yang cerdas dan aktif berorganisasi berada di lingkungan pemerintahan. Karena di sana keputusan yang menyangkut publik dibuat. Bila kita semua ingin jadi warga negara yang baik hanya dengan jadi pembayar pajak yang baik, lalu siapa yang mengelola APBN dari uang pajak kita? Urusan pangan, pendidikan, kesehatan, perumahan, transportasi, infrastruktur, siapa yang memutuskan? Yang memutuskan adalah mereka-mereka yang berada di wilayah pemerintahan.
Posisi gw tidak terlalu pintar dan tidak terlalu aktif berorganisasi. Pas-pasan, middle class, kelas medioker. Justru harusnya lebih banyak teman-teman gw yang cerdas dan aktif berorganisasi berada di lingkungan pemerintahan. Karena di sana keputusan yang menyangkut publik dibuat. Bila kita semua ingin jadi warga negara yang baik hanya dengan jadi pembayar pajak yang baik, lalu siapa yang mengelola APBN dari uang pajak kita? Urusan pangan, pendidikan, kesehatan, perumahan, transportasi, infrastruktur, siapa yang memutuskan? Yang memutuskan adalah mereka-mereka yang berada di wilayah pemerintahan.
Semua kembali pada niat masing-masing. Bismillah, gw sudah
menetapkan hati untuk lanjut dan berkarir menjadi PNS di Kemendikbud. Semoga gw
bisa menjaga idealis gw di sana. Aamiin.


0 komentar:
Post a Comment