Dua belas tahun yang lalu, kisaran tahun 2000an gw masih duduk di bangku
sekolah dasar. Orang tua gw menitipkan anak laki-lakinya yang “guanteng” ini ke
Yayasan Sekar Laut PT. Pelni, SDS Barunawati. Gw menimba ilmu di sana selama
kurang lebih delapan tahun, dua tahun di TK-nya dan enam tahun di SD-nya.
Banyak kenangan yang terukir disana. Zaman ketika gw masih bocah ingusan yang
kecil, item dan sedikit cengeng. Sedikit loh ya, hahaha.
Dua belas tahun berlalu, Allah memberikan gw kesempatan untuk kembali
menginjakkan kaki ke gedung yang besar ini (maklum, isinya dari TK hingga SMA,
hehe). Kondisinya sekarang sedang dalam renovasi, akan makin besar lagi ini
sepertinya. Sebenarnya jarak antara rumah ke sekolah gw itu tidaklah begitu
jauh. Dalam waktu sekitar 20 menit bisa ditempuh dengan sepeda motor. Tapi
tidak ada kesempatan untuk masuk ke dalam. Untuk apa masuk ke dalam? Toh gw
tidak punya keperluan apa-apa dan gw juga belum jadi siapa-siapa. Kalau kesana
paling hanya sekedar melewati depannya saja, sambil mencuri-curi melihat ke
dalam.
Tadi pagi gw ke sana, ke SD gw itu, sekolah swasta, iya namanya SDS Barunawati. Sepanjang jalan di koridor menuju ke Tata Usaha gw senyam-senyum sendiri sambil melihat ke seluruh penjuru sekolah. Gedung yang sangat angker karena dulunya adalah kuburan Belanda. Ya itu gosip/cerita seram yang beredar saat gw masih berseragam putih-merah. Anak-anak SMP sedang pelajaran Olahraga di lapangan, yang laki-laki terlihat asyik bermain bola plastik dengan kaki telanjang. Persis seperti zaman gw dulu, dan selesai bermain telapak kaki langsung melepuh karena “kapalan”. Anak-anak kelas satu berdiri didepan pintu sambil berbaris dan ditemani orang tua mereka. Memori gw langsung teringat ketika awal masuk SD. Pintu Tata Usaha (TU) pun akhirnya tepat di depan mata. Dan gw masuk ke dalam.
“Glek”, suara pintu yang gw buka,
sambil gw ketok-ketok dan berucap salam, Assalamualaikum.
Ohiya, gw ke sana karena ada keperluan, mau melegalisir Ijazah SD.
Di dalam TU gw bertemu sama seorang yang tak asing lagi buat gw, tapi
beliau sekarang gemuk dan lebih berwibawa. Pak Purwanto, guru sekaligus wali
kelas saat gw duduk di kelas enam SD. Langsung gw salim dan mencium tangan
beliau. Beliau berusaha berpikir keras untuk mengingat-ingat siapa sosok
laki-laki tampan yang sedang berada tepat di hadapannya ini, hahaha.
Pak Pur mempersilahkan gw untuk masuk ke ruangannya. Ternyata beliau
sudah menjadi Kepala Sekolah di SDS Barunawati. Woow, pantas terlihat gemuk
berisi dan berwibawa, hehe. Setelah bercerita ini-itu sepertinya beliau ingat
gw itu yang mana. Sepertinya loh ya hahaha, karena maklum guru kan muridnya
banyak, tiap tahun ganti muridnya. Tapi tetep kita ngobrolin angkatan si ini
lah, si itulah. Obrolan terhenti ketika ada sosok guru berjilbab biru agak
besar tetapi pendek masuk ke dalam. Sambil melempar senyum ke gw dan bertanya
siapa ya? Gw pun ikut senyum dan langsung berdiri dari tempat duduk dan segera
menghampiri perempuan tersebut. Langsung gw cium tangannya, Bu Asih bagaimana
kabarnya? Sehat kan ya?. Gw tatap wajahnya, beliau masih senyum dengan mata
yang berkaca-kaca. Mungkin dalam hatinya bertanya siapa ya ini laki-laki tampan
yang tahu nama saya?, hahaha.
Alhamdulillah Bu Asih masih ingat sama gw, ketika beliau melihat pas poto
3x4 yang tertempel di pojok kiri bawah ijazah gw. Iya ibu ingat, muka kamu ibu
ingat ko sambil ketawa ibunya. Bu Asih juga masih ingat kalau gw dulu sepupuan
sama Ismail, beliau masih ingat kalau ibu gw bersaudara sama ibunya Ismail. Obrolan
kita bertiga seputar angkatan gw saat zaman masih bocah. Gw tanya Bu Ani (wali
kelas 1 SD) dan Bu Tri (wali kelas 2 dan 5 SD), dan mereka ternyata sudah jadi
PNS di SD lain. Pak Sam (wali kelas 4 SD) sudah meninggal dunia, innalillahi wa
innailaihi rojiun. Pak Acep guru Agama masih mengajar, dan Bu Aida guru
Olahraga juga masih mengajar. Pak Arifin, kepala sekolah zaman gw rupanya baru
tahun lalu pensiun dan di gantikan oleh Pak Pur.
Kurang lebih setengah jam obrolan gw bersama dua guru yang sangat gw
hormati itu. Cukup setengah jam untuk melepas rindu seorang murid terhadap
gurunya, sambil meminta doa restu untuk kesuksesan gw ke depannya.
Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru. Namamu akan selalu hidup dalam
sanubariku. Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku. Sebagai prasasti terima
kasihku, Tuk pengabdianmu. Engkau sebagai pelita dalam kegelapan. Engkau laksana embun penyejuk
dalam kehausan. Engkau patriot pahlawan bangsa. Tanpa tanda jaaasa.
Lagu Hymne Guru yang sering gw dendangkan saat upacata bendera setiap
hari senin ini, sekarang gw dendangkan kembali. Begitu sesak, begitu terasa
pengabdian mereka. Terima kasih Bu Asih dan Pak Pur.

0 komentar:
Post a Comment