Ada berbagai cara untuk kita mendekatkan diri pada yang Maha Kuasa, salah satunya adalah dengan melihat betapa agungnya ciptaan Sang Kholik.

Weekend kemarin, Sabtu 12 April 2014 gw diberi kesempatan untuk bisa berkunjung ke daerah Cianjur. Tepatnya di Gunung Padang, yang mana disana terdapat peninggalan Situs Megalitikum. Lokasi Gunung Padang berada pada ketinggian 885 meter dpl, berlokasi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat (Jalur cianjur-Sukabumi).

Jarak dari kantor ke sana kurang lebih mencapai 137 km. Gw berangkat bareng dengan rekan-rekan sekantor, menggunakan 4 bus BlueBird dengan masing-masing berkapasitas 25 orang. Semua berkumpul jam 06.30 di kantor, dan bus jalan pukul 07.10. Seperti dugaan awal, kita terkena macet ketika masuk Ciawi, dan macet juga di daerah Sukabumi. Kondisi jalan masih dalam kondisi bagus, namun akses menuju ke kawasan Gunung Padang masih tergolong belum bagus. Jalan masih berbatu, belum di aspal, dan harus melewati rumah-rumah warga. Jalur hanya cukup untuk satu bus saja, jika ada mobil dari arah sebaliknya maka salah satu harus mengalah dengan mengarahkan stir ke pinggir, yang mana di pinggir berbatasan langsung dengan rumah warga dan jurang. Jika tidak hati-hati bisa jatuh. Dan jalannya melingkar untuk bisa mencapai puncak pintu gerbang Gunung Padang.


Alhamdulillah perjalanan cukup lama dan kita semua sampai pas azan Zuhur berkumandang. Bus hanya sampai gerbangnya saja, selebihnya kita semua harus jalan kaki sejauh 2 km dan menanjak. Sehabis solat Zuhur yang langsung di jamak dengan solat Asar, kita semua langsung naik. Jalannya sudah beraspal, tapi cukup curam, jadi perlu tenaga lebih untuk melangkahkan kaki. Lumayan untuk sekedar membakar lemak dalam tubuh. Ternyata tidak berhenti sampai disini, diatas ternyata masih ada loket untuk masuk ke Situs Megalitikumnya. Dan dari loket ini perjalanan mendaki yang sesungguhnya baru saja mulai.

Benar saja, kita semua harus mendaki ke atas dengan bantuan 385 anak tangga untuk bisa mencapai teras pertama. Anak tangga yang sudah ada sejak situs megalitum tersebut, tapi masih kokoh dan kuat, walaupun memang tidak rata. Kondisinya juga cukup curam, sehingga tak sedikit yang mengeluh ketika mendakinya.

Semua terbayarkan ketika sudah sampai di atas, kita disambut oleh tumpukan batu-batuan yang tersebar tak beraturan. Situs megalitikum ini di kelilingi oleh gunung-gunung. Pemandangan yang cukup indah jika dilihat dari atas. Subhanallah, sangat indah pemandangan yang terhampar di bawah. Banyak sekali cara Allah untuk mengingatkan, bahwa gw ini amatlah kecil, tak ada apa-apanya jika dibandingakan dengan kekuasaan-Nya.

Beberapa informasi gw dapatkan dari guide yang memandu kita melihat-lihat situs megalitikum disana. Gunung Padang itu suatu monumen yang besar. Punden berundak, tinggi lapisan pertamanya sampai 100 meteran. Luasnya 150 hektare atau 10 kali lebih besar dari bangunan Candi Borobudur. Nah buat yang ini gw masih belum percaya, kalau yang gw lihat itu tak sebesar Candi Borobudur. Lalu sang guide nya menjelaskan, itu jika semuanya telah selesai digali, karena batu-batuan tersebut masih ada dan ditemukan hingga sungai yang mengapit Gunung Padang ini. Dan gw hanya berguman, oooowh. Situs ini dibilang umurnya lebih dari 13.000 tahun (sebelum masehi), sudah ada sekitar 3 atau 4 carbon dating (pengukuran umur lapisan berdasarkan kandungan unsur karbon di lapisan tersebut), dan ini dilakukan oleh Guru Besar Geologi dari ITB yang merupakan Koordinator Tim Peneliti Mandiri Terpadu Gunung Padang.
sketsa, sumber: google
Penelitian terakhir berdasarkan hasil uji carbon dating di sebuah laboraturium terkemuka di AS menunjukkan angka sekitar 21.500 Sebelum Masehi. Dan  bila pengukuran ini dapat dipertanggungjawabkan keakurasiannya, ini menjadi bukti bahwa kebudayaan di Jawa merupakan yang tertua di dunia. Lebih tua dari peradaban Mesopotamia dan Piramida Giza di Mesir. Subhanallah.

Sang guide juga memaparkan tentang cerita-cerita peradaban Sunda. Katanya Sunda itu bukanlah suku, melainkan peradaban pertama di Jawa, dan mungkin di dunia. Situs ini dulunya juga ditempati oleh maung, yang dalam bahasa sunda artinya harimau. Tapi bukan harimau yang dimaksud, melainkan maung (manusia unggul), yang diyakini warga sekitar seperti para nabi atau para wali. Ada banyak jejak-jejak atau relief yang terukir di beberapa batu-batuan tersebut. Ada yang mirip keris kujang, ada yang bulat, ada yang seperti tapak kaki harimau dll.

Itu semua adalah kebudayaan. Dan kebudayaan di Indonesia masih banyak lagi. Alhamdulillah gw diterima di Direktorat Jenderal Kebudayaan, dan sekarang gw mulai tertarik dengan yang namanya kebudayaan. Bismillah.