Monday, March 24, 2014


Merdunya suara azan subuh kala itu membuat janin yang sudah sembilan bulan bersemayam di perut ibunya tak sabar untuk segera melihat indahnya dunia. Segala usaha telah ia lakukan, tapi memang belum waktunya. Kesabaran dia pun mulai tergerus, ia tak mau lagi bergantung dengan plasenta ibunya, ia ingin segera bisa hidup mandiri. Usahanya semakin keras untuk minta keluar. Sehingga sang ibunya pun mengeluh kesakitan. Dokter mengatakan kepada pria paruh baya yang mendampingi ibunya, yang tak lain adalah ayah dari anak yang akan lahir tersebut, bahwa sudah waktunya anak ini lahir.

Keringat menetes di pelipis dan membanjiri seluruh tubuh ibu hamil tersebut. Janin ini terus berusaha untuk keluar, tanpa tahu bagaimana sakit yang sedang di rasakan oleh ibunya, ia juga belum tahu bahwa ibunya sedang mempertaruhkan nyawa hanya untuk melihat dan mendengar tangisan anak yang akan ia lahirkan itu.

Sekitar pukul sepuluh WIB terdengar suara tangisan bayi. Laki-laki paruh baya tersebut langsung diberi kabar oleh dokter bahwa anaknya berjenis kelamin laki-laki, seorang jagoan ayahnya. Dia segera mengazankan di telinga kanan dan mengiqomatkan di telinga sebelah kiri bayi merah itu, dan terlihat perasaan lega dan senyuman disertai tangisan terlihat dari wajah ibunya.


Suasana yang terjadi duapuluhempat tahun yang lalu, seorang anak laki-laki dilahirkan dan diberi kesempatan untuk bisa mencicipi yang namanya kehidupan di dunia.

Alhamdulillah, puji syukur selalu gw panjatkan kepada Yang Maha Pencipta, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Allah SWT. Sabtu kemarin, 22 Maret tepat usia gw menginjak angka 24 tahun. Angka yang tidak sedikit, angka yang pastinya sudah dipercaya untuk bisa mempertanggungjawabkan segala yang telah gw lakukan.

Sesungguhnya dalam setiap detik yang berlalu, semakin berkurangnya waktu kita hidup di dunia ini. Tak ada yang tahu berapa lama lagi gw diberi kesempatan. Apakah tahun depan gw masih bisa merayakannya bersama orang-orang terdekat?. Aah gw tidak bisa menjamin. Masih banyak yang harus gw capai. Masih banyak yang belum gw lakukan. Masih banyak kebaikan-kebaikan yang harus gw amalkan, untuk menambah berat timbangan, agar tidak kalah beratnya dengan dosa-dosa gw yang telah berceceran.

Media sosial seperti Facebook telah menemani gw dari tahun 2009, dan dari tahun itu hingga 2013 tahun lalu, teman-teman gw selalu diingatkan bahwa tanggal 22 Maret adalah hari kelahiran gw. Banyak yang memberikan ucapan. Siapa yang tak senang jika orang lain tahu dan mengucapkan selamat kepada kita. Tapi tidak untuk tahun ini, akhir tahun 2013 gw sengaja menutup tanggal lahir gw di FB. Dan seperti dugaan gw, tidak ada yang ingat kalau gw ulang tahun. Hanya keluarga besar dan segelintir sahabat yang ingat dan memberikan ucapan via sms. Sedih? Pastinya sedih, tapi hanya tersenyum sendiri, dan sadar bahwa tak banyak orang yang mengenal sosok De Budi Sudarsono. 

Oh, ini membuat gw menjadi berfikir. Ketika nanti gw mati, apa yang orang lain ingat tentang gw? Gw bukannya mau menjadi orang terkenal yang memiliki ribuan penggemar. Gw hanya mau bahwa keberadaan gw saat di dunia ini meninggalkan jejak. Bukan sembarang jejak, tapi jejak yang mampu memberikan kebermanfaatan untuk banyak orang dan berefek domino, terus menerus walau jasad gw sudah tak berada di atas muka bumi.
Tapi? Ah masih banyak yang harus gw lakukan untuk bisa merealistiskan keinginan gw itu. Semoga disisa umur gw ini, gw bisa mewujudkannya. Aamiin.

Puji Syukur selalu ku panjatkan kehadirat Allah SWT. Terima kasih buat mama, bapak, dewi dan keluarga. Terima kasih buat sahabat dan teman-teman yang telah ingat tanggal kelahiran gw. Terima kasih atas doa dan ucapannya. Terima kasih.



Posted on Monday, March 24, 2014 by De Budi Sudarsono

No comments

Friday, March 14, 2014


Bukan hanya masa depan saja yang menyimpan misteri, seperti yang pernah gw bahas di postingan “Akhirat tidak Kekal”, tetapi masa lalu (sejarah/pra-sejarah) juga menjadi sebuah misteri.

Cerita tentang manusia [yang katanya] pertama hidup di Bumi ini adalah Nabi Adam sudah sering kita dengar. Sejak masih duduk di Sekolah Dasar (SD), Taman Pendidikan Al-Quran (TPA), hingga ceramah-ceramah dari Ustadz/Ustadzah. Nabi Adam itu adalah manusia pertama yang diciptakan oleh Allah dari tanah. Kemudian Allah memerintah Malaikat, Jin dan Iblis untuk bersujud kepada Nabi Adam. Namun hanya Iblis yang durhaka dan membangkang terhadap perintah Allah tersebut. Oleh karena itu Iblis di usir dari [yang katanya] Syurga.

Nabi Adam kesepian tinggal sendirian di Syurga. Lalu Allah menciptakan Hawa sebagai pendampingnya yang diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam. Mereka hidup bahagia, tapi segalanya berubah ketika Iblis menyerang. Iblis membisikkan kepada keduanya untuk memakan buah [khuldi] yang dilarang oleh Allah. Namun karena bisikan Iblis tersebut mereka berdua memakannya. Alhasil pakaian yang melekat pada tubuh merekapun tiba-tiba hilang. Allah marah akibat perbuatan mereka, lalu mengirim mereka turun ke Bumi dan dipisahkan keduanya di tempat yang berbeda. Butuh waktu yang lama sehingga akhirnya mereka berdua bertemu kembali dan berkembang biak melahirkan keturunan-keturunan Nabi Adam dan lahirlah kita.

Kurang lebih seperti itulah cerita yang kita ketahui selama ini dengan versi yang berbeda-beda, tetapi intinya tetap sama. Cerita itupun gw terima mentah-mentah dan percaya karena bersumber langsung dari guru ngaji dan guru agama. Entah itu memang sebuah kenyataan, legenda atau mitos, tetap saja cerita tersebut yang selama ini kita terima.

Semakin dewasanya umur, diiringi dengan semakin ingin tahunya tentang segala sesuatu. Tak terkecuali tentang Nabi Adam. Pertanyaan gw sederhana, sebenarnya lebih dulu mana Nabi Adam, Manusia Purba atau Dinosaurus? Banyak film yang gw tonton memperlihatkan bahwa manusia purba dan Dinosaurus itu hidup berdampingan. Kalau manusia purba itu yang pertama berarti Nabi Adam juga manusia purba donk?

Pernah juga mendengar bahwa manusia purba itu adalah manusia yang dikutuk karena melanggar perintah Allah. Dan manusia pada masa itu poster tingginya pun juga besar setara dengan tinggi Dinosaurus. Kalau dibandingan dengan sekarang itu sama halnya seperti kita manusia dengan kuda atau zebra. Sebanding. Tetapi Dinosaurus punah karena tidak mau ikut naik ke dalam kapal yang dibuat oleh Nabi Nuh.

Ada lagi yang mengatakan bahwa dulu sebelum manusia tercipta ada makhluk lain seperti setengah dewa yang sering berbuat kerusakan dengan selalu berperang dan saling membunuh di muka Bumi. Sehingga makhluk tersebut dimusnahkan oleh Allah dan digantikan oleh spesies bernama manusia yang ditugaskan sebagai khalifah di muka bumi.

Masih banyak lagi versi-versi cerita yang pernah kita ketahui. Coba saja tanya di Mbah Google, pasti banyak sekali versi yang muncul. Gw tidak terlalu memusingkan mana yang benar dan mana yang paling benar. Seharusnya bisa gw cari tahu. Darimana? Dari yang telah tertulis dalam ayat-ayat cinta-Nya dan dari alam semesta ini, ilmu Qauliyah dan ilmu Kauniyah.


Hingga pada akhirnya gw dipertemukan oleh sebuah buku yang kontrovesial dengan penulis yang sama seperti buku Akhirat Tidak Kekal. Buku yang kali ini gw baca berjudul Ternyata Adam Dilahirkan. Nah loh!!! Berbanding terbalik dengan segala versi yang selama ini kita terima mentah-mentah.

Di dalam buku ini diceritakan tentang penciptaan Allah yang sebegitu rumit dan terencana. Dari mulai diciptakannya alam semesta, bumi hingga manusia. Penulis memiliki pemikiran yang unik, yang berbeda dengan kebanyakan orang termasuk gw. Penulis memadukan tafsir Al-Qur’an dengan ilmu-ilmu modern, seperti ilmu kedokteran, paleontologi dan astronomi. Penulis menuturkan cerita tentang sejarah bumi, penciptaan manusia dalam Al-Qur’an, kemudian penulis juga menceritakan tentang tabir genetika dan kemudian di bab terakhir menyatakan bahwa Nabi Adam itu ternyata dilahirkan.

Pemikiran penulis tak hanya memaparkan tentang makrokosmos seperti penciptaan alam semesta ini, tetapi juga ke mikrokosmos seperti bagian paling kecil dari sel-sel yang membentuk jaringan lalu organ dan akhirnya berbentuk makhluk hidup. Ah, dari pemaparan beliau ini mengingatkan gw ketika belajar biologi dan fisika. Biologi karena dulu pernah belajar tentang sel, jaringan, organ, genetik, asam amino dan blablablabla. Kemudian fisika tentang planet-planet, teori Big Bang dan lain sebagainya. Ini semua mengingatkan bahwa kita itu hanyalah makluk lemah yang tak berdaya, pandai-pandailah bersyukur pada yang Maha Kuasa, Maha Berencana, Maha Pencipta, Allah SWT.

Oke, intinya apa?
Gw mencoba menyimpulkan hasil dari pemikiran beliau. Penulis mengatakan dengan disertai ayat-ayat Al-Quran bahwa manusia pertama yang diciptakan bukanlah Nabi Adam, tetapi manusia sebelumnya, makhluk yang kita kenal sebagai manusia purba. Penulis menyebut manusia purba ini sebagai al-basyar yang artinya diciptakan dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan manusia (Nabi Adam) beserta keturunannya itu diciptakan dari tanah yang sudah gembur (saripati tanah atau pertemuan antara sperma dan ovum) lalu meniupkan ruh-Nya dan disebut al-insaan. Jadi Nabi Adam itu adalah al-insaan yang dilahirkan oleh al-basyar generasi awal. Penulis tidak menjelaskan siapa al-basyar yang pertama, namun penulis menjelaskan bahwa al-basyar diciptakan berbarengan atau langsung banyak.

Masa tersebut tak ada yang tahu, yang mengetahui hanya yang menciptakan, yakni Allah SWT. Namun kita diberi akal untuk berpikir. Sering kali di dalam ayat-ayat-Nya dibilang “....bagi kaum yang berfikir.”. Dan Allah juga akan mengangkat derajat untuk orang-orang yang berilmu. Mari sama-sama untuk terus belajar dan mencari tahu hal-hal yang baik dengan selalu dilandasakan oleh Al-Qur’an.

Yang mau baca bukunya bisa di cari di toko buku terdekat, Judulnya Ternyata Adam Dilahirkan, penulisnya Agus Mustofa. Atau jika ada yang mau minjam bisa hubungi gw.

“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam ruh-Nya dan Dia menjadikan kamu pendengaran, penglihatan, dan hati (tapi) sedikit sekali kamu bersyukur” [QS. As Sajdah (32): 9]

Wallahu a’alam bishshawab.

Posted on Friday, March 14, 2014 by De Budi Sudarsono

No comments

Tuesday, March 11, 2014


Masih ingat artikel gw sebelumnya yang berjudul Kalah Sebelum Berperang?. Karena momen itu gw jadi lebih mempersiapkan diri untuk ikut tes di Kementerian ESDM. Hasilnya? Gagal lagi, gagal di TKDnya lagi. Perasaannya? Sakit, karena gw sudah belajar tentang undang-undang, pasal-pasal, dan ketika gagal itu rasanya tidak mengenakkan, kesel. Beda saat gw gagal di Kemenkeu, itu malah bisa cenge-ngesan, karena memang gw tidak ada persiapan apa-apa.

Kesempatan terakhir gw jatuh di Kemendikbud. Alhamdulillah gw lulus pada tahap TKD, gw peringkat pertamanya. Dan yang datang di tahap TKB ada sekitar 18 orang termasuk gw untuk memperebutkan 2 tempat. Ternyata TKB itu soalnya statistika banget, sesuai dengan kebidangan ilmu masing-masing. Disini gw merasakan manfaat pernah menjadi asisten dosen mata kuliah Metode Statistika dan Analis Data Kategorik. Lancar jaya saat mengerjakannya, padahal sudah setahun tidak bersentuhan dengan teori-teori statistika semenjak lulus. Alhamdulillah.

Butuh waktu dua bulan untuk menunggu hasil dari TKB tersebut. Setiap hari pasti buka web-nya untuk melihat, setiap hari bisa 2-3 kali, hasilnya selalu belum ada pengumuman. Waktu yang sangat lama, karena kementerian lainnya sudah ada pengumuman finalnya, bahkan sudah ada yang mulai masa Pra-Jabatannya.

Februari tanggal 26 tahun 2014 menjadi waktu yang besejarah buat para penanti hasil final kemendikbud di belahan bumi Indonesia, termasuk gw. Tepat pukul 20.45 WIB pengumuman tersebut muncul di situs resminya Kemendikbud. Alhamdulillah nama gw termasuk dalam daftar nama yang lulus CPNS Kemendikbud, tepatnya di Direktorat Jenderal Kebudayaan, sebagai Analis Data Kekayaan Budaya.

Alhamdulillah pemberkasan sudah selesai dan sekarang menanti turunnya SK dari Badan Kepegawaian Negara (BKN). Tidak bisa ditentukan kapannya, bisa sekitar 2-3 bulan. Berarti status gw sekarang masih CCPNS, Calon CPNS. Setelah menjadi CPNS nanti masih harus ikut Pra-Jabatan. Menjadi PNS pun harus lulus masa Pra-Jabatan saat CPNS. Semoga semua dilancarkan, aamiin. Mohon bantuan doa dari semuanya.

Ada beberapa yang nanya, mengapa gw mau jadi PNS? Pertanyaan dasar yang membuat gw memerlukan waktu yang cukup lama untuk menemukan jawabannya. Hal yang membuat gw lama berpikir adalah tentang teman-teman gw. Loh ko? Apa hubungannya sama teman-teman?. Gw bertanya-tanya, teman-teman gw yang cerdas, pintar, genius, yang IPK-nya di atas rata-rata tidak ada yang jadi PNS. Mereka berkarir di perusahaan BUMN dan Swasta. Gw memang tidak sepintar mereka, tapi mengapa mereka tidak ingin jadi PNS ya? Gw mencoba menghilangkan image buruk tentang PNS. Andaikan mereka ikut tes CPNS, sudah pasti mereka akan lulus, gw yakin. 

Kemudian, teman-teman gw yang semasa kuliahnya sangat aktif berorganisasipun tidak ada yang jadi PNS. Mereka kebanyakan terjun di dunia wirausaha, mereka mengembangkan usaha dari nol dan membuka lapangan pekerjaan untuk warga sekitar. Gw memang aktif berorganisasi semasa kuliah dari tingkat satu hingga tingkat akhir. Namun di tingkat akhir, gw tidak total dalam menjalaninya, bisa dibilang “cacat”, gw menyesal tidak total, padahal itu tahun terakhir gw di kampus.

Posisi gw tidak terlalu pintar dan tidak terlalu aktif berorganisasi. Pas-pasan, middle class, kelas medioker.  Justru harusnya lebih banyak teman-teman gw yang cerdas dan aktif berorganisasi berada di lingkungan pemerintahan. Karena di sana keputusan yang menyangkut publik dibuat. Bila kita semua ingin jadi warga negara yang baik hanya dengan jadi pembayar pajak yang baik, lalu siapa yang mengelola APBN dari uang pajak kita? Urusan pangan, pendidikan, kesehatan, perumahan, transportasi, infrastruktur, siapa yang memutuskan? Yang memutuskan adalah mereka-mereka yang berada di wilayah pemerintahan.

Semua kembali pada niat masing-masing. Bismillah, gw sudah menetapkan hati untuk lanjut dan berkarir menjadi PNS di Kemendikbud. Semoga gw bisa menjaga idealis gw di sana. Aamiin.

Posted on Tuesday, March 11, 2014 by De Budi Sudarsono

No comments

Tuesday, March 04, 2014


Dua belas tahun yang lalu, kisaran tahun 2000an gw masih duduk di bangku sekolah dasar. Orang tua gw menitipkan anak laki-lakinya yang “guanteng” ini ke Yayasan Sekar Laut PT. Pelni, SDS Barunawati. Gw menimba ilmu di sana selama kurang lebih delapan tahun, dua tahun di TK-nya dan enam tahun di SD-nya. Banyak kenangan yang terukir disana. Zaman ketika gw masih bocah ingusan yang kecil, item dan sedikit cengeng. Sedikit loh ya, hahaha.

Dua belas tahun berlalu, Allah memberikan gw kesempatan untuk kembali menginjakkan kaki ke gedung yang besar ini (maklum, isinya dari TK hingga SMA, hehe). Kondisinya sekarang sedang dalam renovasi, akan makin besar lagi ini sepertinya. Sebenarnya jarak antara rumah ke sekolah gw itu tidaklah begitu jauh. Dalam waktu sekitar 20 menit bisa ditempuh dengan sepeda motor. Tapi tidak ada kesempatan untuk masuk ke dalam. Untuk apa masuk ke dalam? Toh gw tidak punya keperluan apa-apa dan gw juga belum jadi siapa-siapa. Kalau kesana paling hanya sekedar melewati depannya saja, sambil mencuri-curi melihat ke dalam.


Tadi pagi gw ke sana, ke SD gw itu, sekolah swasta, iya namanya SDS Barunawati. Sepanjang jalan di koridor menuju ke Tata Usaha gw senyam-senyum sendiri sambil melihat ke seluruh penjuru sekolah. Gedung yang sangat angker karena dulunya adalah kuburan Belanda. Ya itu gosip/cerita seram yang beredar saat gw masih berseragam putih-merah. Anak-anak SMP sedang pelajaran Olahraga di lapangan, yang laki-laki terlihat asyik bermain bola plastik dengan kaki telanjang. Persis seperti zaman gw dulu, dan selesai bermain telapak kaki langsung melepuh karena “kapalan”. Anak-anak kelas satu berdiri didepan pintu sambil berbaris dan ditemani orang tua mereka. Memori gw langsung teringat ketika awal masuk SD. Pintu Tata Usaha (TU) pun akhirnya tepat di depan mata. Dan gw masuk ke dalam.

“Glek”,  suara pintu yang gw buka, sambil gw ketok-ketok dan berucap salam, Assalamualaikum.

Ohiya, gw ke sana karena ada keperluan, mau melegalisir Ijazah SD.

Di dalam TU gw bertemu sama seorang yang tak asing lagi buat gw, tapi beliau sekarang gemuk dan lebih berwibawa. Pak Purwanto, guru sekaligus wali kelas saat gw duduk di kelas enam SD. Langsung gw salim dan mencium tangan beliau. Beliau berusaha berpikir keras untuk mengingat-ingat siapa sosok laki-laki tampan yang sedang berada tepat di hadapannya ini, hahaha.

Pak Pur mempersilahkan gw untuk masuk ke ruangannya. Ternyata beliau sudah menjadi Kepala Sekolah di SDS Barunawati. Woow, pantas terlihat gemuk berisi dan berwibawa, hehe. Setelah bercerita ini-itu sepertinya beliau ingat gw itu yang mana. Sepertinya loh ya hahaha, karena maklum guru kan muridnya banyak, tiap tahun ganti muridnya. Tapi tetep kita ngobrolin angkatan si ini lah, si itulah. Obrolan terhenti ketika ada sosok guru berjilbab biru agak besar tetapi pendek masuk ke dalam. Sambil melempar senyum ke gw dan bertanya siapa ya? Gw pun ikut senyum dan langsung berdiri dari tempat duduk dan segera menghampiri perempuan tersebut. Langsung gw cium tangannya, Bu Asih bagaimana kabarnya? Sehat kan ya?. Gw tatap wajahnya, beliau masih senyum dengan mata yang berkaca-kaca. Mungkin dalam hatinya bertanya siapa ya ini laki-laki tampan yang tahu nama saya?, hahaha.

Alhamdulillah Bu Asih masih ingat sama gw, ketika beliau melihat pas poto 3x4 yang tertempel di pojok kiri bawah ijazah gw. Iya ibu ingat, muka kamu ibu ingat ko sambil ketawa ibunya. Bu Asih juga masih ingat kalau gw dulu sepupuan sama Ismail, beliau masih ingat kalau ibu gw bersaudara sama ibunya Ismail. Obrolan kita bertiga seputar angkatan gw saat zaman masih bocah. Gw tanya Bu Ani (wali kelas 1 SD) dan Bu Tri (wali kelas 2 dan 5 SD), dan mereka ternyata sudah jadi PNS di SD lain. Pak Sam (wali kelas 4 SD) sudah meninggal dunia, innalillahi wa innailaihi rojiun. Pak Acep guru Agama masih mengajar, dan Bu Aida guru Olahraga juga masih mengajar. Pak Arifin, kepala sekolah zaman gw rupanya baru tahun lalu pensiun dan di gantikan oleh Pak Pur.

Kurang lebih setengah jam obrolan gw bersama dua guru yang sangat gw hormati itu. Cukup setengah jam untuk melepas rindu seorang murid terhadap gurunya, sambil meminta doa restu untuk kesuksesan gw ke depannya.

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru. Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku. Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku. Sebagai prasasti terima kasihku, Tuk pengabdianmu. Engkau sebagai pelita dalam kegelapan. Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan. Engkau patriot pahlawan bangsa. Tanpa tanda jaaasa.

Lagu Hymne Guru yang sering gw dendangkan saat upacata bendera setiap hari senin ini, sekarang gw dendangkan kembali. Begitu sesak, begitu terasa pengabdian mereka. Terima kasih Bu Asih dan Pak Pur.

Posted on Tuesday, March 04, 2014 by De Budi Sudarsono

No comments

Tuesday, February 18, 2014


Tak seperti biasanya, sebelum azan Ashar berkumandang Sabtu kemarin, sahabat gw tiba-tiba langsung masuk kamar. "Dan, ada agenda ga sore ini sampai besok?". Gw selalu dipanggil Komandan sama dia. Langsung gw jawab, "hmmm, ga ada sih sepertinya, memangnya kenapa? ko tumben tiba-tiba Uda nanyain agenda?". Gw biasa menyebutnya dengan sebutan Uda. Kemudian si Uda langsung mengutarakan keinginannya," kita ke Bogor sekarang yuk Dan, udah lama banget nih kita ga ke Bogor berduaan". Waduh ada angin apa nih si Uda ngajak ke Bogor berduaan. Memang, terakhir kali gw ke Bogor bareng Uda itu tahun kemarin, lumayan udah setengah tahun lebih, terakhir itu tepatnya pas tanggal 24 Mei 2013. Hebat ya masih inget, hahaha. Tanpa berpikir panjang gw langsung mengIYAkan keinginan si Uda ini. Oiya Uda itu singkatan dari kUda Besi gw yang berwana merah, hehe. Ya si Uda tak lain dan tak bukan adalah motor gw sendiri. :) #maksa


Gw akhirnya berangkat ke Bogor setelah solat Ashar. Ternyata tepat seperti dugaan gw, muaceeet. Oiya baru inget malem minggu soalnya, haha. Titik-titik macet menuju Bogor masih tetap sama kalau melewati jalan panjang lurus lewat Parung. Macetnya parah, dari depan Pondok Indah Mall sampai puteran Kampus UIN. Semua gara-gara UIN nih, rese banget emang tuh kampus, haha. Tapi diluar itu semua, gw menikmati perjalanan kali ini. Biasanya kalau ke Bogor pasti terbebani oleh pikiran-pikiran aneh, seperti tugas kuliah, skripsi, organisasi dll. Haha.

Beruntung gw masih punya sahabat yang masih mau menampung gw di Bogor, dikosan teman gw yang sedang melanjutkan studinya ke jenjang S2 di kota hujan. Oke, agenda gw ke Bogor sebenarnya hanya silaturahim saja, sama sahabat-sahabat gw dan seseorang yang gw harap dipertemukan dalam ikatan sucinya, aamiin. Ternyata tidak hanya itu saja yang didapat, gw malah dapat bonus plus-plus. Apa tuh?

Pertama, gw bertemu sahabat-sahabat seperjuangan masa kuliah, hanya beberapa saja yang datang. Mulai cerita banyak hal ini itu, tapi sayang saking malamnya gw hanya bisa jadi pendengar yang baik sambil tidur, hahaha. Salah satu yang dibahas adalah tentang salah satu sahabat kita juga, yang gw tahu dia lolos dan diterima jadi PNS di Kemendagri. Sebut saja mawar. Ternyata si mawar ini tak semata-mata langsung lolos, sebernarnya dia peringkat ke-3 dan yang diambil cuma satu saja. Loh terus ko bisa dia diterima? Nah, jadi si mawar ini ditelpon sama pihak kemendagrinya. "Kamu mimpi apa semalam?" tanya pihak kemendagrinya. Si mawar menjawab, "memangnya kenapa pak?". Dan si bapak ini menjelaskan bahwa peringkat pertama yang seharusnya lolos kemendagri tidak mengambilnya karena sudah lolos CPNS di kementerian lain, dan ternyata yang peringkat keduapun demikian juga. Wooow, gw yang denger langsung berucap, ini bener-bener rezekinya si mawar. Mawar disini sama dengan mawar yang pernah gw ceritakan di sini. Subhanallah, Allah melihat perjuangannya.

Kedua, gw bertemu teman lama ketika beli ketoprak. Sebut saja dahlia. Dia habis cukur rambut dan kita duduk didepan tukang ketoprak sambil cuap-cuap bertukar kabar dan cerita. Ternyata dia diterima PNS di Kemenko. Woow lagi dan lagi temen-temen gw pada lolos PNS semua. Lalu dia bilang, "Allah memang tahu yang terbaik buat kita bud, gw ga diterima di Astra tapi akhirnya Allah ngasih gw di Kemenko". Gw manggut-manggut mengiyakan. Gw sama dahlia ini pernah berjuang bersama saat test di Astra, tapi sama-sama gagal di tahap akhir ketika wawancara dengan direksi. "Selamat berjuang ya broo, doin gw juga". "Haha sip semoga sukses juga bud". Dan akhirnya kita berpisah lagi.

Ketiga, ini obrolan empat mata antara gw dan sahabat gw yang S2. Sebut saja dia melati. Obrolan kita tentang jodoh dan nikah. Nah loh, siapa sangka ternyata si melati ini dibalik wajah santainya, ada banyak yang mengantri ingin dilamar olehnya. Gw dengerin ceritanya saja sampai mupeng. Hahaha. Intinya sudah ada beberapa wanita yang pendidikan dan parasnya oke punya ingin dilamar sama si melati. Ko tau kalau ingin dilamar sama si melati? Iya jadi si para orangtua wanita ini langsung menemui ayahnya melati. Ayahnya melati ini tokoh berpengaruh di daerahnya, dan ayahnya melati ini ketua pengurus masjid. Kecipratan deh si melati, keren kan si melati ini, bikin iri aja haha. 

Keempat, bisa bertemu sama "dia", seseorang yang namanya sering terucap didalam setiap doa gw. Malamnya kita makan bareng, dan besok paginya kita jalan pagi keliling kampus. Sederhana, tapi begitu berkesan. Hehehe.


Kelima, gw sempet tidur sebelum pulang ke Jakarta lagi. Dan gw mimpi. Mimpi tentang hasil test PNS kemendikbud. Didalam mimpi itu akhirnya pengumumanpun tiba. Gw klik download hasilnya dalam format pdf. Berhasil terdownload dan gw buka pdf nya. Yang pertama gw cari bukan nama gw nya, tetapi nama formasi yang gw ikuti. Gw daftar sebagai analis data kekayaan budaya. Dan dari page satu hingga akhir tidak ada formasi analis data kekayaan budaya. Nah loh, formasinya ga ada, nama-namanya pun juga ga ada. Gw kebangun, dan ga nyangka sampai terbawa mimpi yang seperti itu. Langsung berdoa semoga gw lulus dan di terima jadi PNS di kemendikbud. Mungkin kepikiran karena hasil test kemendikbud sampai sekarang belum keluar. Mohon bantuan doanya juga dari semua ya.. aamiin.


Tulisan ini dibuat setengah di Bogor dan setengah di Jakarta. Diketik langsung dari si "smartphone", lagi nyoba-nyoba soalnya hehe. Point satu dua dan lima itu tentang rezeki. Point tiga dan empat tentang jodoh. Dua-duanya semua ditangan Sang Kholik. Yaaah kita manusia hanya bisa berjuang sekeras mungkin dan berdoa sebanyak mungkin. Kita pasti minta yang terbaik, tapi Allah lah yang Maha Berkehendak. Bismillah.





Posted on Tuesday, February 18, 2014 by De Budi Sudarsono

5 comments

Tuesday, January 28, 2014


Hari ini boleh dikatakan hari yang cukup bersejarah buat gw. Sore setelah solat ashar seperti biasa gw menyempatkan ke ruang baca yang ada di kantor untuk membaca surat kabar [koran]. Alih-alih semenjak kerja, gw jadi rutin baca koran, yang wajib gw baca pasti koran Harian Bisnis Indonesia dan Harian Bola. Sedikit banyak jadi menambah wawasan gw tentang dunia ekonomi, dan menambah kecintaan gw di dunia olahraga.

Ketika asik membaca Harian Bola edisi hari ini (Selasa, 28 Januari 2014), gw dikejutkan oleh sebuah tulisan. Tulisan yang memang tak asing lagi buat gw. Paragraf pertamalah yang membuat gw yakin bahwa itu adalah tulisan gw yang gw kirim ke Redaksi Harian Bola hari Kamis yang lalu. Hanya saja judulnya di ganti. Yang gw kirim judulnya “Fans Layar Kaca”, tetapi di koran ditulis “Rapor Setan Merah”.

Luar biasa senang sekali tulisan gw bisa di muat di koran sebesar Harian Bola, koran yang terbit untuk nasional, bukan koran lokal. Berarti banyak yang baca tulisan gw, ya walaupun berada pada kolom Forum Pembaca. Ini pertama kalinya tulisan gw dimuat, dan tertera nama gw, De Budi Sudarsono. Terakhir nama gw pernah masuk koran ketika gw lulus SNMPTN.

Mungkin untuk kebanyakan orang ini bukanlah suatu yang istimewa, apalagi buat para jurnalis yang memang kesehariannya selalu membuat tulisan-tulisan di halaman surat kabar. Tetapi buat gw ini menjadi sebuah katalis untuk terus menulis. Ya memang gw menulis hanya untuk kepuasan tersendiri saja. Malah kebanyakan tulisan gw ya tentang pengalaman pribadi.

Oiya tulisan yang gw maksud ini adalah tulisan yang pernah gw posting beberapa hari yang lalu di blog gw ini, judulnya Fans Layar Kaca. Tetapi yang gw kirim ke Redaksi Harian Bola tidak semua paragraf, hanya beberapa paragraf yang penting saja. Terima kasih Harian Bola yang telah mau menerbitkan tulisan gw di korannya hari ini.

Posted on Tuesday, January 28, 2014 by De Budi Sudarsono

4 comments