Tuesday, March 11, 2014


Masih ingat artikel gw sebelumnya yang berjudul Kalah Sebelum Berperang?. Karena momen itu gw jadi lebih mempersiapkan diri untuk ikut tes di Kementerian ESDM. Hasilnya? Gagal lagi, gagal di TKDnya lagi. Perasaannya? Sakit, karena gw sudah belajar tentang undang-undang, pasal-pasal, dan ketika gagal itu rasanya tidak mengenakkan, kesel. Beda saat gw gagal di Kemenkeu, itu malah bisa cenge-ngesan, karena memang gw tidak ada persiapan apa-apa.

Kesempatan terakhir gw jatuh di Kemendikbud. Alhamdulillah gw lulus pada tahap TKD, gw peringkat pertamanya. Dan yang datang di tahap TKB ada sekitar 18 orang termasuk gw untuk memperebutkan 2 tempat. Ternyata TKB itu soalnya statistika banget, sesuai dengan kebidangan ilmu masing-masing. Disini gw merasakan manfaat pernah menjadi asisten dosen mata kuliah Metode Statistika dan Analis Data Kategorik. Lancar jaya saat mengerjakannya, padahal sudah setahun tidak bersentuhan dengan teori-teori statistika semenjak lulus. Alhamdulillah.

Butuh waktu dua bulan untuk menunggu hasil dari TKB tersebut. Setiap hari pasti buka web-nya untuk melihat, setiap hari bisa 2-3 kali, hasilnya selalu belum ada pengumuman. Waktu yang sangat lama, karena kementerian lainnya sudah ada pengumuman finalnya, bahkan sudah ada yang mulai masa Pra-Jabatannya.

Februari tanggal 26 tahun 2014 menjadi waktu yang besejarah buat para penanti hasil final kemendikbud di belahan bumi Indonesia, termasuk gw. Tepat pukul 20.45 WIB pengumuman tersebut muncul di situs resminya Kemendikbud. Alhamdulillah nama gw termasuk dalam daftar nama yang lulus CPNS Kemendikbud, tepatnya di Direktorat Jenderal Kebudayaan, sebagai Analis Data Kekayaan Budaya.

Alhamdulillah pemberkasan sudah selesai dan sekarang menanti turunnya SK dari Badan Kepegawaian Negara (BKN). Tidak bisa ditentukan kapannya, bisa sekitar 2-3 bulan. Berarti status gw sekarang masih CCPNS, Calon CPNS. Setelah menjadi CPNS nanti masih harus ikut Pra-Jabatan. Menjadi PNS pun harus lulus masa Pra-Jabatan saat CPNS. Semoga semua dilancarkan, aamiin. Mohon bantuan doa dari semuanya.

Ada beberapa yang nanya, mengapa gw mau jadi PNS? Pertanyaan dasar yang membuat gw memerlukan waktu yang cukup lama untuk menemukan jawabannya. Hal yang membuat gw lama berpikir adalah tentang teman-teman gw. Loh ko? Apa hubungannya sama teman-teman?. Gw bertanya-tanya, teman-teman gw yang cerdas, pintar, genius, yang IPK-nya di atas rata-rata tidak ada yang jadi PNS. Mereka berkarir di perusahaan BUMN dan Swasta. Gw memang tidak sepintar mereka, tapi mengapa mereka tidak ingin jadi PNS ya? Gw mencoba menghilangkan image buruk tentang PNS. Andaikan mereka ikut tes CPNS, sudah pasti mereka akan lulus, gw yakin. 

Kemudian, teman-teman gw yang semasa kuliahnya sangat aktif berorganisasipun tidak ada yang jadi PNS. Mereka kebanyakan terjun di dunia wirausaha, mereka mengembangkan usaha dari nol dan membuka lapangan pekerjaan untuk warga sekitar. Gw memang aktif berorganisasi semasa kuliah dari tingkat satu hingga tingkat akhir. Namun di tingkat akhir, gw tidak total dalam menjalaninya, bisa dibilang “cacat”, gw menyesal tidak total, padahal itu tahun terakhir gw di kampus.

Posisi gw tidak terlalu pintar dan tidak terlalu aktif berorganisasi. Pas-pasan, middle class, kelas medioker.  Justru harusnya lebih banyak teman-teman gw yang cerdas dan aktif berorganisasi berada di lingkungan pemerintahan. Karena di sana keputusan yang menyangkut publik dibuat. Bila kita semua ingin jadi warga negara yang baik hanya dengan jadi pembayar pajak yang baik, lalu siapa yang mengelola APBN dari uang pajak kita? Urusan pangan, pendidikan, kesehatan, perumahan, transportasi, infrastruktur, siapa yang memutuskan? Yang memutuskan adalah mereka-mereka yang berada di wilayah pemerintahan.

Semua kembali pada niat masing-masing. Bismillah, gw sudah menetapkan hati untuk lanjut dan berkarir menjadi PNS di Kemendikbud. Semoga gw bisa menjaga idealis gw di sana. Aamiin.

Posted on Tuesday, March 11, 2014 by De Budi Sudarsono

No comments

Tuesday, March 04, 2014


Dua belas tahun yang lalu, kisaran tahun 2000an gw masih duduk di bangku sekolah dasar. Orang tua gw menitipkan anak laki-lakinya yang “guanteng” ini ke Yayasan Sekar Laut PT. Pelni, SDS Barunawati. Gw menimba ilmu di sana selama kurang lebih delapan tahun, dua tahun di TK-nya dan enam tahun di SD-nya. Banyak kenangan yang terukir disana. Zaman ketika gw masih bocah ingusan yang kecil, item dan sedikit cengeng. Sedikit loh ya, hahaha.

Dua belas tahun berlalu, Allah memberikan gw kesempatan untuk kembali menginjakkan kaki ke gedung yang besar ini (maklum, isinya dari TK hingga SMA, hehe). Kondisinya sekarang sedang dalam renovasi, akan makin besar lagi ini sepertinya. Sebenarnya jarak antara rumah ke sekolah gw itu tidaklah begitu jauh. Dalam waktu sekitar 20 menit bisa ditempuh dengan sepeda motor. Tapi tidak ada kesempatan untuk masuk ke dalam. Untuk apa masuk ke dalam? Toh gw tidak punya keperluan apa-apa dan gw juga belum jadi siapa-siapa. Kalau kesana paling hanya sekedar melewati depannya saja, sambil mencuri-curi melihat ke dalam.


Tadi pagi gw ke sana, ke SD gw itu, sekolah swasta, iya namanya SDS Barunawati. Sepanjang jalan di koridor menuju ke Tata Usaha gw senyam-senyum sendiri sambil melihat ke seluruh penjuru sekolah. Gedung yang sangat angker karena dulunya adalah kuburan Belanda. Ya itu gosip/cerita seram yang beredar saat gw masih berseragam putih-merah. Anak-anak SMP sedang pelajaran Olahraga di lapangan, yang laki-laki terlihat asyik bermain bola plastik dengan kaki telanjang. Persis seperti zaman gw dulu, dan selesai bermain telapak kaki langsung melepuh karena “kapalan”. Anak-anak kelas satu berdiri didepan pintu sambil berbaris dan ditemani orang tua mereka. Memori gw langsung teringat ketika awal masuk SD. Pintu Tata Usaha (TU) pun akhirnya tepat di depan mata. Dan gw masuk ke dalam.

“Glek”,  suara pintu yang gw buka, sambil gw ketok-ketok dan berucap salam, Assalamualaikum.

Ohiya, gw ke sana karena ada keperluan, mau melegalisir Ijazah SD.

Di dalam TU gw bertemu sama seorang yang tak asing lagi buat gw, tapi beliau sekarang gemuk dan lebih berwibawa. Pak Purwanto, guru sekaligus wali kelas saat gw duduk di kelas enam SD. Langsung gw salim dan mencium tangan beliau. Beliau berusaha berpikir keras untuk mengingat-ingat siapa sosok laki-laki tampan yang sedang berada tepat di hadapannya ini, hahaha.

Pak Pur mempersilahkan gw untuk masuk ke ruangannya. Ternyata beliau sudah menjadi Kepala Sekolah di SDS Barunawati. Woow, pantas terlihat gemuk berisi dan berwibawa, hehe. Setelah bercerita ini-itu sepertinya beliau ingat gw itu yang mana. Sepertinya loh ya hahaha, karena maklum guru kan muridnya banyak, tiap tahun ganti muridnya. Tapi tetep kita ngobrolin angkatan si ini lah, si itulah. Obrolan terhenti ketika ada sosok guru berjilbab biru agak besar tetapi pendek masuk ke dalam. Sambil melempar senyum ke gw dan bertanya siapa ya? Gw pun ikut senyum dan langsung berdiri dari tempat duduk dan segera menghampiri perempuan tersebut. Langsung gw cium tangannya, Bu Asih bagaimana kabarnya? Sehat kan ya?. Gw tatap wajahnya, beliau masih senyum dengan mata yang berkaca-kaca. Mungkin dalam hatinya bertanya siapa ya ini laki-laki tampan yang tahu nama saya?, hahaha.

Alhamdulillah Bu Asih masih ingat sama gw, ketika beliau melihat pas poto 3x4 yang tertempel di pojok kiri bawah ijazah gw. Iya ibu ingat, muka kamu ibu ingat ko sambil ketawa ibunya. Bu Asih juga masih ingat kalau gw dulu sepupuan sama Ismail, beliau masih ingat kalau ibu gw bersaudara sama ibunya Ismail. Obrolan kita bertiga seputar angkatan gw saat zaman masih bocah. Gw tanya Bu Ani (wali kelas 1 SD) dan Bu Tri (wali kelas 2 dan 5 SD), dan mereka ternyata sudah jadi PNS di SD lain. Pak Sam (wali kelas 4 SD) sudah meninggal dunia, innalillahi wa innailaihi rojiun. Pak Acep guru Agama masih mengajar, dan Bu Aida guru Olahraga juga masih mengajar. Pak Arifin, kepala sekolah zaman gw rupanya baru tahun lalu pensiun dan di gantikan oleh Pak Pur.

Kurang lebih setengah jam obrolan gw bersama dua guru yang sangat gw hormati itu. Cukup setengah jam untuk melepas rindu seorang murid terhadap gurunya, sambil meminta doa restu untuk kesuksesan gw ke depannya.

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru. Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku. Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku. Sebagai prasasti terima kasihku, Tuk pengabdianmu. Engkau sebagai pelita dalam kegelapan. Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan. Engkau patriot pahlawan bangsa. Tanpa tanda jaaasa.

Lagu Hymne Guru yang sering gw dendangkan saat upacata bendera setiap hari senin ini, sekarang gw dendangkan kembali. Begitu sesak, begitu terasa pengabdian mereka. Terima kasih Bu Asih dan Pak Pur.

Posted on Tuesday, March 04, 2014 by De Budi Sudarsono

No comments

Tuesday, February 18, 2014


Tak seperti biasanya, sebelum azan Ashar berkumandang Sabtu kemarin, sahabat gw tiba-tiba langsung masuk kamar. "Dan, ada agenda ga sore ini sampai besok?". Gw selalu dipanggil Komandan sama dia. Langsung gw jawab, "hmmm, ga ada sih sepertinya, memangnya kenapa? ko tumben tiba-tiba Uda nanyain agenda?". Gw biasa menyebutnya dengan sebutan Uda. Kemudian si Uda langsung mengutarakan keinginannya," kita ke Bogor sekarang yuk Dan, udah lama banget nih kita ga ke Bogor berduaan". Waduh ada angin apa nih si Uda ngajak ke Bogor berduaan. Memang, terakhir kali gw ke Bogor bareng Uda itu tahun kemarin, lumayan udah setengah tahun lebih, terakhir itu tepatnya pas tanggal 24 Mei 2013. Hebat ya masih inget, hahaha. Tanpa berpikir panjang gw langsung mengIYAkan keinginan si Uda ini. Oiya Uda itu singkatan dari kUda Besi gw yang berwana merah, hehe. Ya si Uda tak lain dan tak bukan adalah motor gw sendiri. :) #maksa


Gw akhirnya berangkat ke Bogor setelah solat Ashar. Ternyata tepat seperti dugaan gw, muaceeet. Oiya baru inget malem minggu soalnya, haha. Titik-titik macet menuju Bogor masih tetap sama kalau melewati jalan panjang lurus lewat Parung. Macetnya parah, dari depan Pondok Indah Mall sampai puteran Kampus UIN. Semua gara-gara UIN nih, rese banget emang tuh kampus, haha. Tapi diluar itu semua, gw menikmati perjalanan kali ini. Biasanya kalau ke Bogor pasti terbebani oleh pikiran-pikiran aneh, seperti tugas kuliah, skripsi, organisasi dll. Haha.

Beruntung gw masih punya sahabat yang masih mau menampung gw di Bogor, dikosan teman gw yang sedang melanjutkan studinya ke jenjang S2 di kota hujan. Oke, agenda gw ke Bogor sebenarnya hanya silaturahim saja, sama sahabat-sahabat gw dan seseorang yang gw harap dipertemukan dalam ikatan sucinya, aamiin. Ternyata tidak hanya itu saja yang didapat, gw malah dapat bonus plus-plus. Apa tuh?

Pertama, gw bertemu sahabat-sahabat seperjuangan masa kuliah, hanya beberapa saja yang datang. Mulai cerita banyak hal ini itu, tapi sayang saking malamnya gw hanya bisa jadi pendengar yang baik sambil tidur, hahaha. Salah satu yang dibahas adalah tentang salah satu sahabat kita juga, yang gw tahu dia lolos dan diterima jadi PNS di Kemendagri. Sebut saja mawar. Ternyata si mawar ini tak semata-mata langsung lolos, sebernarnya dia peringkat ke-3 dan yang diambil cuma satu saja. Loh terus ko bisa dia diterima? Nah, jadi si mawar ini ditelpon sama pihak kemendagrinya. "Kamu mimpi apa semalam?" tanya pihak kemendagrinya. Si mawar menjawab, "memangnya kenapa pak?". Dan si bapak ini menjelaskan bahwa peringkat pertama yang seharusnya lolos kemendagri tidak mengambilnya karena sudah lolos CPNS di kementerian lain, dan ternyata yang peringkat keduapun demikian juga. Wooow, gw yang denger langsung berucap, ini bener-bener rezekinya si mawar. Mawar disini sama dengan mawar yang pernah gw ceritakan di sini. Subhanallah, Allah melihat perjuangannya.

Kedua, gw bertemu teman lama ketika beli ketoprak. Sebut saja dahlia. Dia habis cukur rambut dan kita duduk didepan tukang ketoprak sambil cuap-cuap bertukar kabar dan cerita. Ternyata dia diterima PNS di Kemenko. Woow lagi dan lagi temen-temen gw pada lolos PNS semua. Lalu dia bilang, "Allah memang tahu yang terbaik buat kita bud, gw ga diterima di Astra tapi akhirnya Allah ngasih gw di Kemenko". Gw manggut-manggut mengiyakan. Gw sama dahlia ini pernah berjuang bersama saat test di Astra, tapi sama-sama gagal di tahap akhir ketika wawancara dengan direksi. "Selamat berjuang ya broo, doin gw juga". "Haha sip semoga sukses juga bud". Dan akhirnya kita berpisah lagi.

Ketiga, ini obrolan empat mata antara gw dan sahabat gw yang S2. Sebut saja dia melati. Obrolan kita tentang jodoh dan nikah. Nah loh, siapa sangka ternyata si melati ini dibalik wajah santainya, ada banyak yang mengantri ingin dilamar olehnya. Gw dengerin ceritanya saja sampai mupeng. Hahaha. Intinya sudah ada beberapa wanita yang pendidikan dan parasnya oke punya ingin dilamar sama si melati. Ko tau kalau ingin dilamar sama si melati? Iya jadi si para orangtua wanita ini langsung menemui ayahnya melati. Ayahnya melati ini tokoh berpengaruh di daerahnya, dan ayahnya melati ini ketua pengurus masjid. Kecipratan deh si melati, keren kan si melati ini, bikin iri aja haha. 

Keempat, bisa bertemu sama "dia", seseorang yang namanya sering terucap didalam setiap doa gw. Malamnya kita makan bareng, dan besok paginya kita jalan pagi keliling kampus. Sederhana, tapi begitu berkesan. Hehehe.


Kelima, gw sempet tidur sebelum pulang ke Jakarta lagi. Dan gw mimpi. Mimpi tentang hasil test PNS kemendikbud. Didalam mimpi itu akhirnya pengumumanpun tiba. Gw klik download hasilnya dalam format pdf. Berhasil terdownload dan gw buka pdf nya. Yang pertama gw cari bukan nama gw nya, tetapi nama formasi yang gw ikuti. Gw daftar sebagai analis data kekayaan budaya. Dan dari page satu hingga akhir tidak ada formasi analis data kekayaan budaya. Nah loh, formasinya ga ada, nama-namanya pun juga ga ada. Gw kebangun, dan ga nyangka sampai terbawa mimpi yang seperti itu. Langsung berdoa semoga gw lulus dan di terima jadi PNS di kemendikbud. Mungkin kepikiran karena hasil test kemendikbud sampai sekarang belum keluar. Mohon bantuan doanya juga dari semua ya.. aamiin.


Tulisan ini dibuat setengah di Bogor dan setengah di Jakarta. Diketik langsung dari si "smartphone", lagi nyoba-nyoba soalnya hehe. Point satu dua dan lima itu tentang rezeki. Point tiga dan empat tentang jodoh. Dua-duanya semua ditangan Sang Kholik. Yaaah kita manusia hanya bisa berjuang sekeras mungkin dan berdoa sebanyak mungkin. Kita pasti minta yang terbaik, tapi Allah lah yang Maha Berkehendak. Bismillah.





Posted on Tuesday, February 18, 2014 by De Budi Sudarsono

5 comments

Tuesday, January 28, 2014


Hari ini boleh dikatakan hari yang cukup bersejarah buat gw. Sore setelah solat ashar seperti biasa gw menyempatkan ke ruang baca yang ada di kantor untuk membaca surat kabar [koran]. Alih-alih semenjak kerja, gw jadi rutin baca koran, yang wajib gw baca pasti koran Harian Bisnis Indonesia dan Harian Bola. Sedikit banyak jadi menambah wawasan gw tentang dunia ekonomi, dan menambah kecintaan gw di dunia olahraga.

Ketika asik membaca Harian Bola edisi hari ini (Selasa, 28 Januari 2014), gw dikejutkan oleh sebuah tulisan. Tulisan yang memang tak asing lagi buat gw. Paragraf pertamalah yang membuat gw yakin bahwa itu adalah tulisan gw yang gw kirim ke Redaksi Harian Bola hari Kamis yang lalu. Hanya saja judulnya di ganti. Yang gw kirim judulnya “Fans Layar Kaca”, tetapi di koran ditulis “Rapor Setan Merah”.

Luar biasa senang sekali tulisan gw bisa di muat di koran sebesar Harian Bola, koran yang terbit untuk nasional, bukan koran lokal. Berarti banyak yang baca tulisan gw, ya walaupun berada pada kolom Forum Pembaca. Ini pertama kalinya tulisan gw dimuat, dan tertera nama gw, De Budi Sudarsono. Terakhir nama gw pernah masuk koran ketika gw lulus SNMPTN.

Mungkin untuk kebanyakan orang ini bukanlah suatu yang istimewa, apalagi buat para jurnalis yang memang kesehariannya selalu membuat tulisan-tulisan di halaman surat kabar. Tetapi buat gw ini menjadi sebuah katalis untuk terus menulis. Ya memang gw menulis hanya untuk kepuasan tersendiri saja. Malah kebanyakan tulisan gw ya tentang pengalaman pribadi.

Oiya tulisan yang gw maksud ini adalah tulisan yang pernah gw posting beberapa hari yang lalu di blog gw ini, judulnya Fans Layar Kaca. Tetapi yang gw kirim ke Redaksi Harian Bola tidak semua paragraf, hanya beberapa paragraf yang penting saja. Terima kasih Harian Bola yang telah mau menerbitkan tulisan gw di korannya hari ini.

Posted on Tuesday, January 28, 2014 by De Budi Sudarsono

4 comments

Thursday, January 23, 2014


Musim ini (2013/2014) menjadi musim yang begitu buruk untuk klub sekaliber Manchester United (MU). Setelah ditinggal manager berkarisma Sir Alex Ferguson (SAF), The Reds Devil seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Sepertinya peran David Moyes (DM) sebagai penerus SAF tidak [belum] mampu meneruskan tongkat estafet kejayaan MU. Awal musim semua fans percaya bahwa DM akan mampu memberikan pengaruh yang baik untuk tim, karena memang DM direkomendasikan langsung oleh SAF. Tapi setelah setengah musim berjalan rekor burukpun menghampiri MU. Old Trafford tidak lagi menjadi angker, beberapa kali MU tunduk di kandang bukan oleh tim-tim Big Four saja, melainkan tim-tim medioker seperti West Brom, Tottenham dan Everton.

Ujung tombak kian tumpul setelah Robin Van Persie (RVP) dan Wayne Rooney cidera, sekarang hanya mengandalkan Welbeck dan Chicarito didepan. Di sisi tengah pun semakin rapuh setelah ditinggal pensiun Paul Scholes, sekarang hanya mengandalkan Carrick yang semakin menua dan Cleaverly yang hanya mampu mengumpan bola-bola datar saja, Phil Jones juga dipaksakan menjadi gelandang yang seharusnya posisi terbaiknya adalah bek tengah. Sisi sayap kanan tidak sekencang musim-musim sebelumnya, Valencia mulai kehilangan speed, power bahkan [mungkin] mental juaranya, padahal tipe permainan MU sangat mengandalkan permainan dari sayap. Sisi sayap kiri muncul nama baru, Janujaz menjadi pemain muda yang bersinar musim ini bersama MU, dia pun digadang-gadang menjadi penerus Cristiano Ronaldo, walaupun gesit tapi Janujaz belum memiliki body yang bagus, sehingga mudah sekali terjatuh ketika harus berduel dengan lawan. Pemain asal Jepang Sinji Kawaga pun sering ditempatkan oleh DM menjadi sayap kiri, yang padahal posisi terbaiknya adalah posisi tepat dibelakang penyerang, sama seperti ketika dia berseragam Dortmund. Paling parahnya lagi diposisi pertahanan, kini terlihat sekali pertahanan MU amat keropos, Vidic dan Ferdinand sudah menua, Evan masih belum konsisten. Bek kiri masih mengandalkan Evra yang terlihat masa bodoh karena musim depan ia ingin meninggalkan MU, sedangkan Buttner tidak sigap untuk balik ke pertahanan ketika ia membantu menyerang dari sisi kiri. Bek kanan masih dipercayai oleh Rafael, pemain yang sering membahayakan lawan oleh aksi heroiknya. Pertahanan paling terakhir tetap De Gea yang menjadi kiper andalan MU, sejauh ini dia tak mampu berbuat lebih baik seperti musim sebelumnya.

Pemaparan gw diatas mungkin terlihat lemah karena tidak dilengkapi oleh data statistik. Tapi ini gw tulis berdasarkan oleh apa yang gw lihat ketika menyaksikan setiap MU bertanding. Perasaan kesal dan emosi menjadi satu ketika menontonnya, setiap pertandingan serasa menjadi Big Match walaupun melawan tim-tim semenjana. Sepertinya bukan hanya gw saja yang merasakan itu, gw yakin fans MU diseluruh belahan dunia pun memiliki perasaan seperti itu. Dan gw disini hanya bermaksud menilai kondisi MU saat ini, belum berani memberikan rekomendasi apa yang harusnya dilakukan oleh MU.

David Moyes pasti mengalami tekanan yang begitu dahsyat, tekanan datang dari mana-mana, beberapa diantaranya lewat fans dan media. Disatu sisi kesel tapi disisi lain gw merasa kasian melihat kerutan diwajahnya makin banyak. Gw berharap semoga performa buruk MU tak berlangsung lama, dan segera kembali ke performa terbaiknya.

Gw hanyalan fans layar kaca, bukan fans fanatik seperti yang lainnya. Itupun hanya nonton jika MU ditanyangkan di TV lokal saja. Jersey dan jaket-nya saja gw masih beli yang KW, yang mungkin harganya sepersepuluh harga aslinya. Asesoris lainnya pun gw tidak punya, seperti topi, tas bahkan gantungan kuncinya pun gw ga punya. Kalaupun MU tour ke Indonesia mungkin gw juga tidak akan nonton langsung ke Senayan untuk menyaksikan para pemainnya. Gw juga tidak bergabung ke dalam fans base MU yang ada di Indonesia. Sekali lagi gw hanyalah fans layar kaca yang hanya mengikuti perkembangan tim kesayangan gw melalui TV, koran dan media sosial.

Sekedar membangkitkan memori lama, zaman kecil gw hanya mengenal beberapa pemain seperti Delpiero, Van der Sar, Nedved, Salas, Zidane, Close. Gw senang sepak bola sejak kelas 3 SD, tapi baru kenal MU ketika kelas 2 SMP. Itupun dari permainan Football Manager 2003/2004 di komputer. Saat itu gw pilih MU karena warnanya merah. Yang gw ingat MU masih diperkuat oleh Ronaldo, Bartez, Van Nisterooy sedangkan Wayne Rooney masih di Everton. Kelas 3 SMP gw sempat suka sama Liverpool yang warnanya merah juga, ini gara-gara gw nonton final Liga Champion antara Liverpool vs Ac Milan, dan Liverpool menang padahal sempat kalah terlebih dahulu 3-0. Saat itu gw suka MU dan Liverpool, tapi terlalu egois sepertinya kalau gw punya dua tim favorit, akhirnya ketika SMA gw memutuskan untuk mendukung MU sebagai tim kesayangan gw. Sejak itu gw selalu mengikuti perkembangan MU, ya walaupun hanya sekedar fans layar kaca saja. 

Posted on Thursday, January 23, 2014 by De Budi Sudarsono

2 comments

Friday, January 17, 2014


Belajar menyolatkan jenazah pertama kali gw lakukan saat SMA, itupun juga hanya demi mendapatkan nilai Agama Islam. Saat itu kelas 2 SMA, praktek menyolatkan jenazahnya di mushola dan gw diberi kesempatan untuk menjadi model jenazahnya (read: pocong), memakai kain serba putih dan berbaring di shaf paling depan. Sedangkan teman-teman yang lain sibuk menghafal niat dan doa-doa di setiap takbirnya, sambil sesekali cenge-ngesan melihat gw berubah menjadi pria berjubah putih yang sambil komat-kamit menghafal doa-doanya juga.

Siang ini gw ikut menyolatkan jenazah di Masjid dekat kantor gw. Syukur alhamdulillah sang imam solat Jumat mengingatkan kembali niat solat jenazah untuk mayat perempuan, serta bacaan dan doa disetiap takbirnya. Padahal dulu (ketika SMA) gw hafal, walaupun hanya demi seonggok nilai agama. Terakhir gw ikut solat jenazah tahun lalu (2013), jenazah yang gw solati itu adalah sahabat gw sendiri, Denny Andrian, yang bulan depan tepat satu tahun kepergiannya di dunia ini.

Ada yang berbeda dengan solat jenazah yang tadi siang gw lakukan. Ada perasaan disentil pelan tapi begitu menyesakkan. Gw cepat atau lambat pasti akan ada diposisi tersebut, bukan lagi jadi model untuk hafalan solat, tapi benar-benar jadi pemeran utamanya. Apakah nanti akan ada yang menyolati jenazah gw? Kalaupun ada apakah banyak yang mau menyolatkan gw? Apakah banyak yang mau mengantar jenazah gw ke liang lahat?


Belum sempat gw menjawab pertanyaan gw itu sendiri, muncul lagi pertanyaan yang lain. Gw nantinya mati dalam kondisi seperti apa ya? Gw mati di hari apa ya? Betapa beruntungnya jenazah ini meninggal malam Jumat 01.00 dini hari. Karena berdasarkan hasdist, “Tidak ada seorang muslim pun yang meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at kecuali Allah akan menjaganya dari fitnah kubur.” hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad no. 6582 dan At-Tirmidzi no. 1074. Mbah kakung juga meninggal di malam jumat dan yang berziarah sangat banyak. Tiba-tiba gw jadi iri, apakah bisa gw nanti juga meninggal di malam jumat?

Jika boleh memilih, gw ingin meninggal di malam jumat ketika sujud terakhir solat Tahajud. Gw yakin semua juga mau meninggal dalam kondisi seperti ini, dalam kondisi yang baik tentunya. Namun gw dan kita tidak akan pernah tahu kapan Malaikat Izrail menyapa kita. Menyapa dengan ramah disertai senyuman ikhlas atau menyapa dengan muka seram. Ah gw tidak sanggup membayangkannya. Apakah nanti ketika di akhir Malaikat Izrail menyelesaikan misinya gw sanggup melafalkan dua kalimat syahadat?

Pertanyaan-pertanyaan itu yang muncul ketika siang ini gw menyolatkan jenazah. Gw tidak sanggup menjawabnya, begitu menyesakkan ketika pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul. Seperti disentil Allah dengan pelan namun begitu terasa sesaknya. Apa jangan-jangan nanti gw mati dalam keadaan berbuat maksiat? Ah, lagi-lagi pertanyaan-pertanyaan sejenisnya bermunculan lagi.

Semoga kita semua dapat meninggalkan dunia ini dengan cara yang baik, dalam keadaan Husnul Khotimah. Amin.

Posted on Friday, January 17, 2014 by De Budi Sudarsono

1 comment