Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang
satoe, tanah Indonesia.
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia*.
*ejaan van OphuysenKami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia*.
Tepat 85 tahun [28 Oktober 1928] yang lalu para pemuda Indonesia zaman
dulu mengikrarkan SUMPAH tersebut. Sekarang para pemuda Indonesia zaman kini
[28 Oktober 2013] pun mengucapkan SUMPAH tersebut. Bedanya adalah, pemuda zaman
kini mengucapkannya melalui status di media sosial, seperti Facebook, Twitter,
BB, dan sejenisnya. Ikut-ikutan meramaikan status di media sosial tanpa
mengerti makna dari SUMPAH tersebut. Pemuda zaman sekarang hanya bersumpah
dalam sehari saja. Yaa, bersumpah seharian. Sama halnya ketika 17 Agustus
kemarin, beramai-ramai menjadi Nasionalis dalam sehari. Esokkannya? Hah
entahlah. Sumpah yang mungkin hanya akan menjadi Sampah.
Kemarin Hari Blogger Nasional [26 Oktober]. Dan hari ini adalah Hari
Sumpah Pemuda. Selamat Hari Sumpah Pemuda wahai para pemuda Indonesia.
Pemuda.
"Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat
mengubah dunia”. *Soekarno
“Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kugoncangkan dunia”. *Soekarno
Pemuda sosok superior, progresif, revolusioner dengan api berkobar-kobar,
dan bara spirit yang menyala-nyala. Pemuda selalu menempati peran yang sangat
strategis. Pemuda digambarkan sosok yang unggul, pilihan, bergairah, bergelegak
dan bergelora secara fisik, psikis, intelektual, serta yang terpenting
sikapnya. Pemuda adalah agen perubahan.
Tak ada habis-habisnya
berbicara tentang hebatnya pemuda. Rasul pun juga berbicara tentang para
pemuda.
Nabi SAW bersabda:
“Tujuh macam manusia yang akan dinaungi Allah Ta’ala dalam
naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: Imam yang
adil; pemuda yang tumbuh berkembang dalam ibadah kepada Allah; seseorang yang
hatinya selalu terpaut dengan masjid; dua orang yang saling mencintai karena
Allah, keduanya berkumpul karena Allah dan berpisah juga karena-Nya; seseorang
yang dirayu dan diajak (berzina) oleh perempuan yang memiliki kedudukan dan
kecantikan (tapi menolak) lalu menjawab: ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’;
seseorang yang bersedekah secara diam-diam sehingga tangan kirinya tidak tahu
apa yang diinfakkan tangan kanannya; dan seseorang yang mengingat Allah
sendirian lalu menetes air matanya (menangis).»
(HR Bukhari no. 1423 dan Muslim no. 2427).
Apakah kita sekarang masih bisa
dibilang pemuda? Apakah pantas gelar pemuda disematkan buat kita? Atau mungkin kita hingga detik
ini belum pernah menjadi pemuda. Aahh pertanyaan gw inipun menyindir
diri gw sendiri.
Banyak sekali impian-impian yang gw tulis saat masih berstatus MAHA
siswa. Alhamdulillah satu-persatupun terwujud. Tapi masih banyak yang belum
terwujud. Belum terwujudnya ini bukan karena gw gagal, tapi memang gw belum
mencoba. Ada rasa takut dan malas. Apakah impian-impian itu hanya akan menjadi
sebuah impian yang takkan pernah terwujud?. "Seribu orang tua hanya dapat
bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia”. Mau disebut sebagai
orangtua? Padahal umur kita masih tergolong produktif. Yuk sama-sama kita buka
kembali impian kita yang belum terwujud. Nyicil usaha dari sekarang, terus
nyicil dan percaya semoga impian itu akan terwujud.
Beberapa hari yang lalu gw ketemu teman kuliah di tempat ujian CPNS.
Nah, gw mau sedikit cerita tentang dia. Gw berani bilang kalau dia pantas
disematkan sebagai PEMUDA. Sebut saja dia mawar. Mawar ini laki-laki, hehe.
Sebelum ujian test CPNS dimulai, gw banyak bertukar cerita dengan si mawar. Ada
dua cerita dari si mawar yang cukup inspiratif menurut gw.
Pertama [1],
Mawar kerja di daerah Pasar Minggu. Semenjak dibukanya CPNS 2013, dia
sepertinya sudah bertekad untuk masuk PNS. Dia daftar di banyak kementerian,
salah satunya di kemendagri. Testnya di Bandung dan pada hari kerja. Dia orang
Bogor, otomatis si mawar ini izin ke atasannya, dan dia jujur mengungkapkan
alasan izinnya. Dia izin untuk ikut test CPNS. Sang atasanpun dengan senang
hati memberikan izin kepada si mawar, tapi sekaligus memberi ancaman, jika ikut
test CPNS maka kontrak kerja kamu sampai akhir bulan ini saja. “Jleb”. Dan si
mawar inipun berani mengambil keputusan terbesarnya. Ya, dia berani untuk
keluar dari tempat kerjanya. Padahal belum tentu dia lolos CPNS dan menjadi
PNS. Suatu keberanian yang gw nilai luar biasa. Si mawar ini pasti sudah
mempersiapkan segalanya dengan baik. Benar saja, ketika selesai ujian, dia
mendapat nilai 350an dari poin maksimalnya 500. Nilai yang tergolong tinggi.
Dan sepertinya dia lolos ke tahap selanjutnya. Dia berhasil membakar perahunya,
sehingga tidak ada pilihan baginya selain sukses. Aaah, mungkin kebanyakan dari
kita, termasuk gw, pastinya berfikir tidak akan keluar kerja dulu, sebelum
benar-benar keterima di PNS. Dan mungkin karena alasan itu kita menjadi “kurang’
bersungguh-sungguh. Ya, mawar memberikan pelajaran yang berharga buat gw.
Kedua [2],
Mawar juga bercerita tentang si melati, teman kita berdua ketika kuliah
dulu. Melati ini juga laki-laki, hehe. Kabar terakhir yang gw tau, si melati
ini sudah kerja di perusahaan minyak, salah satu perusahaan minyak terbesar di dunia.
Sebut saja Total Oil Indonesia. Hehe. Melati ini mahasiswa terbaik di kelas
kita, terbaik pula di kampus kita. IPK dia tertinggi di kelas, mencapai 3.92.
Dan dia menjadi lulusan terbaik tingkat fakultas ketika wisuda. Hanya kalah
0.01 dari lulusan terbaik universitas yang IPK nya 3.93. Kita menyebutnya DEWA.
Hehe. Jadi gw tidak terlalu kaget ketika dia berhasil lolos dan bekerja di
perusahaan sekelas Total. Tapi si mawar cerita bahwa si melati ini baru keluar
dari Total. Gw juga tidak terlalu tahu alasan yang sebenarnya kenapa si melati
ini keluar. Tapi salah satu alasan yang gw tau dari si mawar adalah si melati
ini merasa disana ilmunya tidak terpakai dan dia merasa tidak berkembang,
kebanyakan di sana berlatarbelakang teknik, sedangkan kita lulusan statistika. “Jleb”
lagi. Gw kagum sama keputusan si melati ini. Mungkin kalau gw ada di posisinya,
gw bakal bertahan walaupun tidak ada statistikanya, lumayan salary nya pasti besar,
heheh. Beda halnya sama si melati ini. Dia lebih mengutamakan intuisi
kecerdasannya. Dia ingin terus berkembang, dan melatih intuisinya. Si melati
ini benar-benar pemuda. Ya gw yakin dia bisa membangun Indonesia menjadi lebih
baik.
Luar biasa dua pelajaran yang dapat gw petik dari si mawar dan melati
ini, sahabat gw. Semoga juga bisa menjadi inspirasi buat yang baca kisah
mereka. Oiya perlu diketahui bahwa mawar dan melati ini belum ada 2 bulan ditempat kerjanya. Semoga impian mereka segera tercapai. Amin.
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang
satoe, tanah Indonesia.
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia*.
*ejaan van OphuysenKami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia*.
0 komentar:
Post a Comment