Banyak sudah artikel yang gw baca mengenai passion. Alasan gw tertarik membacanya hanyalah karena
saat itu gw belum tau apa itu passion dan bagaimana cara menemukan passion
dalam diri kita. Pastinya sudah tidak asing lagi dengan seseorang yang berkata
dengan kerennya, “Kita harus kerja sesuai dengan passion kita”. Intinya bekerja
sesuai passion itu adalah bekerja atau melakukan hal yang kita sukai, yang
ketika kita melakukannya bisa-bisa sampai lupa waktu.
Satu artikel yang gw baca tentang bagaimana cara paling mudah untuk
menemukan passion kita adalah dengan menumpukkan buku-buku yang kita miliki
sesuai dengan genrenya. Misalnya, buku yang berbau ilmiah ditumpuk menjadi
satu, tentang psikologi, motivasi, leadership atau sejarah, memancing, musik, sepak
bola atau tentang imu agama. Nah, tumpukan yang paling tinggi itulah passion
kita. Jika ternyata tumpukan buku-buku motivasi menjadi yang tertinggi, itu
artinya passion kita ke arah motivasi, bisa menulis atau berbicara tentang
motivasi. Begitupun jika genre-genre lain menjadi yang tertinggi, berarti
itulah passion kita.
Passion beda sama bakat. Kalau passion adalah melakukan apa yang kita
sukai, sedangkan bakat adalah melakukan apa yang kita bisa. Bakat setiap orang
itu berbeda-beda. Bakat itu melakukan sesuatu yang sulit bagi orang lain
lakukan, tetapi mudah bagi kita. Misalnya ada anak yang sangat mudah bermain
gitar, tapi ada anak yang sudah betahun-tahun belajar gitar tapi belum
bisa-bisa. Itulah anugerah dari Allah yang diberikan kepada setiap anak Adam.
Bakat itu apa yang kita bisa, sedangkan passion itu apa yang kita suka.
Dari sini pertanyaan gw muncul. Setiap orang memiliki passionnya masing-masing,
melakukan hal yang disukainya. Nah, kalau ada orang yang melakukan hal yang
disukainya itu ternyata merugikan orang lain bagaimana? Jika ada orang yang
melakukan hal yang disukainya itu ternyata Allah tidak suka bagaimana?
Ternyata sekedar bakat dan passion saja tidaklah cukup. Kita tidak
hanya melakukan maunya kita aja, tapi juga harus melakukan maunya Allah. Terus
maunya Allah apa? Banyak. Yang jelas agama kita tidak memberatkan, bahkan
malahan memudahkan kita. Sayangnya Allah tidak berkomunikasi dengan kita secara
langsung, karena kita bukan Nabi ataupun Rasul, hehe. Tapi Allah berkomunikasi
kepada kita melalui ayat-ayatnya dalam kitab suci kita, Al-Quran. Dan “ayat-ayat”
yang ada dalam mikro dan makro kosmos, alam semesta ini beserta isinya. Tugas kita
adalah menangkap apa yang ingin disampaikan Allah kepada kita.
Sama halnya seperti passion, yang setiap orang memiliki passion yang
berbeda-beda. Maunya Allah kepada masing-masing dari kitapun juga berbeda-beda.
Sekali lagi, tugas kita adalah menangkap apa yang ingin disampaikan Allah
kepada kita. Bisa dibilang “panggilan hati”.
Hal yang ingin gw sampaikan disini adalah bahwa passion itu penting.
Tapi belum cukup. Alangkah lebih bahagianya kita ketika melakukan sesuatu yang
kita sukai yang itu adalah maunya kita dan maunya Allah. Manteblah kalau bisa.
Selamat menemukan passionnya dan selamat mencari maunya Allah ke kita.

0 komentar:
Post a Comment