Tuesday, August 20, 2013


Pagi ini, Selasa 20 Agustus 2013 gw dikejutkan sama sebuah pesan singkat (SMS) dari sahabat gw saat SMA. Ayahnya Arbi dipanggil Yang Maha Kuasa. Gw baca sms tersebut tadi pagi sekitar jam setengah delapan pas baru tiba di parkiran kampus Esa Unggul Jakarta Barat. Gw sedih mendengar berita duka ini, gw belum bisa langsung ke rumah duka karena pagi tadi gw mengurusi administrasi dan pembayaran kuliah dan cuti adik gw di kampus itu, sedangkan gw baru pulang kantor jam sembilan malam nanti. Memang kesedihan yang gw rasakan ini pastinya tak seberapa dibandingkan dengan apa yang dirasakan oleh sahabat gw yang satu ini, Arbi. Walau begitu gw memposisikan diri gw yang berada di posisi si Arbi, pastinya gw sedih sekali. Ya, Allah tahu bahwa Arbi dan keluarga yang ditinggalkan akan kuat menghadapi cobaan ini. Semoga almarhum ayahanda Arbi diterima di sisi Allah SWT, diampuni segala dosa-dosanya, ditempatkan di Syurga, dan keluarga besar Arbi diberikan kekuatan serta kesabaran dalam menghadapi cobaan ini. Dan tak lupa, semoga Abi menjadi lebih kuat lagi dalam mengarungi kehidupan yang sebenarnya tanpa di dampingi oleh sang Ayah. Aamiin ya Robbala’lamin.

Ini merupakan teguran lagi dari Allah untuk gw. Apa yang gw alami saat ini sebenarnya adalah sebuah peringatan dari Allah. Hingga detik ini gw masih selalu merepotkan bapak. Harusnya gw sudah bisa menggantikan peran bapak walau secara perlahan. Banyak hal yang harusnya bisa gw lakukan tapi tidak gw lakukan, dan itu lagi-lagi dikerjakan oleh bapak. Bapakpun tak pernah meminta dan menyuruh gw untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan itu. Pekerjaan-pekerjaan itu diantaranya, menguras bak mandi, mencuci motor, memberi oli ke rantai motor, mengantar makanan ke kantor bapak, buang sampah, hingga ke pasar jam dua dini hari menemani mama beli kebutuhan di kantin. Hal-hal seperti itu harusnya bisa gw lakukan, tapi apa? Gw jam dua dini hari masih terlelap. Kalau gw masih seperti ini, apa yang bisa gw lakukan ketika suatu saat nanti bapak sudah tiada? Ya, gw belum siap. Gw belum siap.

Allah seolah-olah memberi tantangan buat gw, “Bud, lu siap ga klo bapak lu yang meninggal?”. Allah mengingatkan gw pagi ini, bahwa harusnya gw sudah bisa menggantikan peran bapak di rumah, tidak masalah secara perlahan, yang penting konsisten. Gw harus bisa belajar banyak dari bapak. Hal-hal seperti ini pasti membuat gw lebih dewasa dan lebih matang. Ya, ini akan menjadi salah satu cara gw untuk menjadi lebih dewasa dan matang. Karena kelak gw akan menjadi suami dan bapak. Gw harus mempersiapkan itu. Ingat, hal sebaliknya akan terjadi jika gw tidak melakukan itu dari sekarang. Karena tidak ada yang tahu kapan kematian itu tiba. Seharusnya kita selalu mempersiapkan bekal kematian kita dan orang-orang terdekat yang akan meninggalkan kita. Perbanyak mengingat kematian, itu akan membuat kita lebih berhati-hati dalam menjalani hidup ini.

Yuk, bagi yang masih punya bapak, mulai sekarang coba gantikan peran beliau, kerjakan hal-hal yang biasanya beliau kerjakan. Sehingga, ketika tiada, beliau akan tenang karena bisa meninggalkan anaknya dalam keadaan siap.




Posted on Tuesday, August 20, 2013 by De Budi Sudarsono

No comments

Monday, August 19, 2013


Penatnya kehidupan era saat ini membuat pasar motivator meningkat. Begitu banyak motivator bermunculan, di layar kaca, buku, media sosial, web, bahkan ada yang memang sengaja membuat EO seminar. Mereka melihat peluang dan mengasah diri mereka untuk memberikan manfaat untuk orang banyak. Mereka melihat bahwa masyarakat selain konsumtif akan barang dan makanan, juga membutuhkan asupan spiritual untuk tetap menjaga semangat. Tema yang mereka angkat akan selalu berbeda tiap waktunya, tergantung kebutuhan dan berita terhangat, namun intinya sama. Apa? Untuk memcharge semangat para pembaca, pendengar dan penontonnya.

Sekarang posisikan kita sebagai para pencari semangat tersebut. Biasanya kita menjadi aktif untuk mencari sumber semangat tersebut. Kita mulai menfollow akun-akun berbau motivasi dari para tokoh-tokoh motivator terkenal hingga para ustadz kondang. Yang punya uang berlebih, bisa mengikuti seminar-seminar yang harganya ratusan hingga jutaan rupiah demi mencari motivasi dan tetap menjaga semangat hidupnya. Para direktur perusahaanpun banyak yang mengundang motivator untuk datang ke perusahaannya guna memberikan seminar hanya untuk memberikan suntikan semangat bagi karyawannya. Mengapa ini dilakukan? karena meningkatnya semangat karyawan maka akan meningkat pula produktifitas perusahaan tersebut. Lalu berapa lama efek dari motivasi yang kita dapatkan dari seminar, buku dll? Pastinya tak lama. Banyak dari para audiens atau para pembaca yang menanyakan kepada narasumber tentang bagaimana kita mempertahankan semangat kita ini? Artinya apa? Ini artinya bahwa motivasi adalah sebuah kebutuhan hidup selain makan dan kebutuhan pokok lainnya. Sama halnya seperti kita makan lalu kenyang. Apakah kenyangnya kita bisa bertahan hingga besok? Tidak, kita butuh makan lagi esok harinya. Ini bisa menjadi peluang usaha buat mereka yang tertarik, tidak harus jadi motivatornya tapi bisa juga menjadi bagian yang mendukung motivator tersebut.

Setiap dari kita memerlukan motivasi hidup dalam menjalani kehidupan ini. Tapi kita tak selalu harus membayar dengan uang untuk membeli buku, ikut seminar, beli pulsa untuk melihat tweet-tweet para motivator, atau beli modem untuk melihat video motivasi. Ada motivasi yang energi pengaruhnya sangat besar, yaitu motivasi yang tersirat. Maksudnya apa? Ini adalah motivasi yang berasal dari diri kita atau sekitar kita, dimana yang kita butuhkan untuk dapat melihatnya adalah berfikir dan positif thinking. Belajarlah membaca situasi, membaca lingkungan. Jika kita bisa membuka pikiran kita, membuka hati kita, maka itu akan mempermudah kita membaca motivasi tersirat. Oke contoh, misalnya kita bisa melihat mama atau bapak kita. Lihatlah perjuangan mereka, tanyakan kepada om atau tante tentang mereka sebelum kita lahir. Perhatikan bagaimana mereka berjuang untuk menyekolahkan dan memenuhi segala kebutuhan yang kita inginkan. Kebaikan-kebaikan yang telah mereka lakukan untuk kita, saudara-saudara kita maupun orang lain. Coba bayangkan. Sudah? Kalau belum, coba lebih terbuka lagi dengan pikiran dan hati kita. Jika belum bisa, coba terus. Biasanya motivasi terdekat kita adalah orangtua, karena tidak mau mengecewakan orang tua maka kita belajar sangat giat. Contoh lain bisa datang dari sahabat atau saingan kita, ini mengapa setiap film atau cerita selalu ada tokoh sahabat yang antagonis, yang membuat kita termotivasi untuk bisa bersaing dengannya. Dan tak menutup kemungkinan motivasi tersirat bisa datang dari yang lebih muda dari kita, misalnya adik kandung kita. Lihat dan perhatikan perjuangan dia meraih cita-cita yang ia impikan, apalagi ketika ia berhasil meraihnya. Contoh lainnya kita bisa datang ke panti asuhan atau panti jompo, ke jalanan, ke kolong jembatan. Buka hati dan pikiran kita untuk bisa membaca motivasi tersirat ini. Maka kita akan selalu bersyukur dan menjadikan kita terus bersemangat dalam menjalani hidup ini.

Jika kita sudah mampu membaca motivasi tersirat ini bukan berarti tak perlu membeli buku motivasi, ikut seminar motivasi atau media yang menyajikan motivasi secara tersurat dengan jelas. Jadikan itu sebagai investasi kita untuk terus mempertajam pikiran dan hati kita untuk membaca motivasi secara tersirat dan sebagai pengingat ketika kita lupa. Syukur-syukur jika kita mampu menularkan semangat kita ini. Bahkan bisa jadi kita menjadi penulis buku motivasi atau bahkan sang motivator yang berdiri di depan ribuan audiens. Ya, karena para motivator-motivator tersebut ada karena motivator tersebut mampu membaca motivasi secara tersirat.

Buka hati dan pikiran kita.


De Budi Sudarsono


Posted on Monday, August 19, 2013 by De Budi Sudarsono

No comments

Saturday, August 17, 2013


Tujuh belas Agustus tahun empat lima,
Itulah hari kemerdekaan kitaaaaa,
Hari merdeka, nusa dan bangsa,
Hari lahirnya bangsa Indonesiaaa,
Meeeerdeeeeeekaaaaa,
Sekali merdeka tetap merdekaa,
Selama ayah masih di kandung badan,
Kita tetap, setia, tetap sedia,
Mempertahankan Indonesia,
Kita tetap, setia, tetap, sedia,
Membela negara kita.

Tepat 68 tahun Indonesia merdeka. Sejarah mencatat perjuangan nenek moyang kita dari awal penjajahan hingga merdeka. Begitu banyak mayat yang bergeletak secara terhormat membela harga diri negara ini. Berliter darah segar mengalir membasahi negeri ini. Ledakan granat membumihanguskan negeri ini. Senapan-senapan, runcing bambu, parit, clurit, pedang, golok dan berbagai senjata untuk berperang menjadi saksi mati perjuangan para pahlawan Indonesia. Berawal membela istri, anak, keluarganya. Hingga akhirnya berani untuk membela seluruh rakyat Indonesia beserta yang ada di daratan, lautan hingga udara Indonesia. Sabang hingga Merauke bersatu untuk merdeka. Tak ada jaminan untuk bisa hidup esok hari, tak ada jaminan besok pagi minum kopi ditemani istri, tidak ada yang menjamin esok bisa melihat anak-anak tumbuh dewasa. Kondisi saat itu pasti sangat mencekam. Itu yang membuat para pahlawan begitu kuat. Kuat secara mental.

Enam puluh delapan tahun sudah terlewati sejak Indonesia diakui oleh dunia menjadi sebuah negara yang merdeka. Enam puluh delapan tahun sudah Indonesia melahirkan generasi-generasi para pahlawan kemerdekaan. Enam puluh delapan tahun sudah Indonesia mengalami berbagai masalah politik. Enam puluh delapan tahun sudah Indonesia menjadi negara yang berkembang. Tapi enam puluh delapan tahun sudah di mata para penjajah, Indonesia masih berada dalam jajahannya.

Mungkin jika para pahlawan itu mengetahui 68 tahun kemudian, pastilah mereka tak akan mempertahankan negara ini.

Mungkin jika kita bisa melihat, benar-benar melihat kebelakang kejadian yang sebenarnya 68 tahun yang lalu, pastilah kita akan lebih menghargai perjuangan mereka.

Kita, merupakan generasi yang mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Dengan apa? Apapun yang kita lakukan dengan asas kebermanfaatan untuk Indonesia, bukan untuk pihak luar. Tahun 90-an, cara kita memperingati hari 17 Agustus adalah dengan mengikuti perlombaan yang diadakan, mulai dari lomba makan kerupuk, memindahkan kelerang dengan sendok, memasukkan paku ke botol, panjat pinang, mengambil koin di semangka, hingga balap karung. Entah sejak kapan lomba-lomba ini mulai ada, tapi bagi kita yang dahulu masih bocah, ini merupakan momen yang paling seru. Bisa berkumpul dengan teman-teman, bertanding, tertawa hingga mendapatkan hadiah, walaupun hadiahnya hanya tempat pensil dan buku itu sudah sangat senang. Sekarang, sudah jarang yang mengadakan acara lomba-lomba seperti ini lagi. Ketidakpedulian menjadi faktornya, individualis sudah melekat pada setiap dari diri kita.

“Yang muda yang merubah Indonesia”, sebuah judul tulisan yang beberapa hari yang lalu di terbitkan oleh media harian Bisnis Indonesia. Dalam tulisan tersebut dipaparkan begitu banyak para pemuda yang telah mengharumkan nama Indonesia di kancah Asia dengan spesialisasi yang berbeda-beda, dari cabang olahraga hingga pembuat film animasi. Dan yakinlah bahwa masih banyak lagi mereka-mereka yang berkontribusi besar untuk Indonesia. Pertanyaannya adalah, sudah seberapa besar peran kita untuk Indonesia? Apa yang sudah kita berikan untuk Indonesia?

Serentak para pemuda di belahan Indonesia menggemakan suara selamat hari kemerdekaan Indonesia ke 68 dengan format yang berbeda-beda. Ya, mereka menjadi sangat nasional walau hanya satu hari. Mereka, bahkan mungkin kita, mengganti foto di media sosial dengan foto bendera merah putih, atau HUT RI. Mengganti status mereka dengan hari kemerdekaan. Ada yang tiba-tiba mengkritisi tentang apa itu merdeka, apakah negara ini sudah merdeka dengan arti yang sesungguhnya?.Bahkan ada yang mengatakan bahwa negara ini belum merdeka. Mereka bebas mengutarakan pendapat mereka. Sekali lagi, kita hanya menjadi nasionalis sehari kah?

Jadikan tiap hari seperti hari 17 Agustus, sehingga kita bisa merasakan pedihnya perjuangan para pejuang negara ini. Menjadi bekal kita untuk terus bersemangat mempertahankan dengan cara mengisi kemerdekaan Indonesia dengan prestasi. Prestasi yang dapat dirasakan untuk Indonesia. Besar atau kecil kontibusi kita untuk Indonesia, itu sudah merupakan bukti bahwa kita mencintai Indonesia. Tapi jika kita bisa melakukan yang besar, untuk apa kita bertahan dengan yang kecil. Dan yang besar selalu diawali dari yang kecil. Jadi tetaplah bersemangat mengerjakan hal-hal kecil yang konsisten untuk Indonesia. Hal-hal kecil itu apa saja? Membeli produk buatan dalam negeri, bekerja menjadi polisi,tentara, pns, bumn atau di perusahaan pribumi, berdoa disetiap solat kita untuk Indonesia. Ya, doakan negara kita tercinta ini, Indonesia.

Untukmu para pejuang kemerdekaan, dan untukmu para generasi emas Indonesia.

De Budi Sudarsono

Posted on Saturday, August 17, 2013 by De Budi Sudarsono

No comments

Friday, August 16, 2013


Siapa yang tak mengenal cinta? Cinta antar sepasang makhluk yang disebut manusia, antara laki-laki dengan perempuan. Jutaan lagu di dunia tercipta dan diciptakan oleh penyair untuk mendifinisikan cinta, bahkan orang awam yang bukan penyairpun bisa mendifinisikan cinta lewat karya nya. Setiap masing-masing individu memiliki definisi yang berbeda-beda tentang cinta, menurut versi mereka masing-masing. Penulis pun sekarang mucul sangat banyak melalui buku-buku atau novel-novel yang mereka terbitkan mengatasnamakan cinta. Cinta memang tak terbatas hanya pada sebuah hubungan perasaan antara sepasang manusia, tapi the power of love itu mencangkup cinta terhadap Tuhan, cinta terhadap orang tua, saudara, sahabat, orang-orang terdekat, lingkungan, negara, agama. Tak dapat dipungkiri, cinta yang paling menarik dan yang paling banyak dibahas adalah cinta terhadap lawan jenis. Mengapa? Karena pemuda-pemudi sekarang hanya mengedepankan pikiran sesaat untuk menemukan jatidiri mereka, dan mereka mengapresiasikannya melalui cinta.

Masa remaja merupakan masa berkembangan hormon seksualitas pada diri manusia, tanpa disadari banyak dari kita yang akhirnya tertarik terhadap lawan jenis, diawali dengan tertarik atau suka, ya ini tingkat paling minimal tapi sudah dapat mengindikasikan bahwa hormon dalam tubuh kita mulai berkembang. Bagi yang sudah melewati masa-masa sekolah tingkat SMP dan SMA pasti merasakan senangnya jatuh cinta dan sepaket dengan sakitnya putus cinta atau bahkan cinta bertepuk sebelah tangan. Apapun karakteristik seseorang, dapat dipastikan pernah merasakan cinta, yang membedakan adalah bagaimana ia mengendalikan dan mengontrol perasaannya. Cinta bukanlah sebuah kata benda yang bisa datang dan pergi begitu saja, tapi cinta merupakan kata sifat yang ada pada diri kita, ya sebuah perasaan yang muncul karena kita peduli. Cinta muncul karena awalnya kita peduli terhadap lawan jenis, kita mulai memberikan perhatian terhadap dia, lalu muncul kekhawatiran dan takut dia kenapa-kenapa. Kalau kata Patkay (Tokoh serial Kera Sakti), “Oh cinta, deritamu tiada akhir”.

Ketika sepasang kekasih sedang jatuh cinta, mereka akan saling sayang satu sama lain, saling perhatian, saling peduli, dan sebagainya yang diawali dengan kata saling. Ya, saling disini adalah mereka merasakan sesuatu secara bersama-sama, tidak hanya satu orang saja. Kalau kata lirik lagu, “Cintaku bertepuk sebelah tangan”.

Cinta erat kaitannya dengan cemburu, memiliki korelasi positif, semakin cinta kita terhadap sesuatu, maka tingkat kecemburuan kita akan semakin tinggi. Namun orang yang mampu mengontrol rasa cemburunya dengan kepercayaan inilah yang lebih baik. Berbicara tentang cinta sejati, maka tak lepas dari sepasang sejoli yang saling mempercayai dan saling menjaga. “Jodoh tak akan kemana”, sebuah slogan yang memotivasi kita bahwa kita akan mendapatkan jodoh, karena Allah sudah mengaturnya sebelum kita terlahir di dunia, bersamaan dengan rezeki dan kematian. Slogan itu juga menandakan bahwa belum tentu pasangan kita yang sekarang kelak akan menjadi pendamping hidup kita hingga ajal menjemput (khusus untuk orang yang berpacaran), jika pasangan suami istri insya Allah itu sudah menjadi pendamping hidupnya, karena mereka sudah berjanji dengan ikatan suci. Bagi yang belum menikah, banyak diantara kita yang mengenal sosok lawan jenis dengan baik, bahkan sudah saling mengenal keluarga masing-masing. Rasa sayang dan cinta begitu besar, hingga berencana untuk menikah. Tapi ingatlah, karena belum tentu ia adalah jodoh kita. Nah, disini yang seharusnya kita garis bawahi. Seseorang yang mencintai pasangannya, maka ia akan melakukan apapun untuknya, untuk menjaganya. Ya, menjaga agar tidak kehilangannya. Tapi siapa yang bisa menjamin? Siapa tahu nanti pasanganmu dijodohkan oleh orang tuanya dengan seorang yang kapasitasnya melebihi dirimu, hartanya melebihi dirimu, agamanya melebihi dirimu. Siapa tahu selama berjalannya waktu dia menemukan seseorang yang lebih baik dari kamu, dari segi agama, intelektualitas, harta, pangkat dam ketampanan. Siapa yang tahu?. Sedangkan yang kita lakukan hanyalah setia terhadap pasangan. Kalau seperti ini siap-siaplah kau akan kehilangan dia. Kenapa? Karena kau hanya sekedar setia, tapi kapasitas dirimu tak berkembang. Nah, dari sini kita bisa menarik benang merahnya tentang arti sebuah cinta sejati. Cinta sejati adalah cinta yang dilandaskan dengan saling setia, dan jika kau tak mau kehilangan cinta sejatimu maka tingkatkanlah kapasitas dan potensi yang ada pada dirimu. Jika kau masih duduk dibangku sekolah atau kuliah, belajarlah dengan baik, raih prestasi setinggi-tingginya, dapatkan pengalaman berorganisasi. Jika sudah bekerja, bekerjalah dengan penuh semangat, berkarirlah setinggi-tingginya. Bukalah wawasan kita tentang dunia, banyak membaca, perdalam ilmu agama. Karena Allah berfirman dalam ayat-ayat cinta-Nya bahwa Dia akan menaikan derajat orang-orang yang berilmu. Ketika kau berilmu, maka kesuksesan akan mendekatimu, itulah cara seseorang yang mencintai pasangannya. Walaupun kelak tak berjodoh, tak perlu cemas, karena yakinlah kau akan mendapatkan jodohmu yang tepat, karena kau memiliki ilmu. 

Tingkatkanlah kapasitas dirimu, setiap hari. Improve your self, improve your value.

Untuk kau yang sedang jatuh cinta.....

De Budi Sudarsono



 

Posted on Friday, August 16, 2013 by De Budi Sudarsono

2 comments

Monday, July 15, 2013


Fenomena yang tak pernah berubah di Indonesia saat menyambut bulan suci Ramadhan adalah saat menentukan tepatnya tanggal 1 Ramadhan. Pendapat yang sangat mendominasi adalah dari Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama. Pemerintah dengan Menteri Agamanya mengikuti Nahdatul Ulama. Biasanya perbedaannya hanya satu hari, dan konsekuensinya lebaran atau solat ied nya pun bisa-bisa berbeda dan tidak berbarengan sesama umat muslim di Indonesia.
Zaman selalu berubah, sekitar 10 tahunan yang lalu saat ilmu agama yang dimilki masih dangkal. Saat gw kadang masih ga kuat untuk full berpuasa sehari penuh. Sekolah gw tergolong jauh untuk anak SD seusia gw. Panas terik saat pulang sekolah membuat gw sangat dehidrasi, haus sekali. Kadang ketika pesantren kilat, pas berwudhu buat solat, gw minum air wudhunya. Tak ada rasa bersalah dan berdosa, yang terpikir adalah ah cuma sedikit ini. Gw melakukan ini ketika memang bener2 haus, ya walaupun sama aja. Solat pun klo mau aja. Tapi solat subuh dan isya pasti selalu di Masjid. Gw punya teman sepermainan yang usianya sepantar. Selalu abis sahur dan menjelang solat subuh, pasti gw disamper sama teman2 buat solat di Masjid,  ya saat itu niat buat ke Masjid bukan karena pengen berkomunikasi dengan Allah, tapi hanya ingin bareng temen2 aja. Di Masjid setelah solat subuh berjamaah pasti kita maen bareng, apapun yang bisa dimainin pasti kita mainin, walaupun jam 7 kita mesti sekolah. Biasanya kita tidur2an sambil pijet2an, perang sarung, tak jongkok, maen bola kecil di masjid, maen bola gede di lapangan, maen karambol. Pokoknya suasana di pagi hari saat bulan Ramadhan 10 tahun silam begitu menyenangkan, ga ada yang harus dipikirkan, ga ada masalah. Jika week end di siang hari biasanya kita maen disalah satu rumah temen, maen PS lah, maen kartu, maen karambol, maen kelereng, maen tamiya dll. Sore hari biasanya kita maen bola di lapangan, atau ngobrol2 aja. Pas teraweh mereka juga nyamper gw buat bareng2 ke masjid. Setelah solat teraweh biasanya kita nongkrong di warung deket lapangan, jajan sambil ngobrol, ngelawak, sindir2an dll.
Sepuluh tahun silam, dan sekarang gw rindu masa2 itu, ketika teraweh dan solat subuh di masjid itu, gw ingat masa2 kecil bersama teman2 dulu.  Sekarang kita sudah pada pisah, walaupun beberapa masih tinggal disini tapi kebersamaan yang dulu sangat kental sekarng begitu encer. Ya setiap dari kita sudah memiliki kesibukan dan masalahnya masing2.
Berbicara tentang bulan suci Ramadhan, gw berasa sangat beruntung masih bisa dipertemukan kembali dengan bulan suci ini. Jika dilihat kebelakang, sudah banyak sekali dosa yang gw lakukan, dosa yang gw sengaja, dosa yang gw lakukan terang-terangan dan dosa yang mana gw tau klo itu adalah dosa. Kesempatan ini harusnya bisa menjadi titik balik gw untuk bertaubat dan memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas hidup gw. Mungkin saja Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan terakhir gw. Target sudah dibuat dan harus tercapai. Indikator keberhasilan gw dalam Ramadhan tahun ini adalah semakin baik akhlak gw setelah bulan Ramadhan ini berakhir.
Ramadhan tahun ini gw sudah bekerja,  yang sebelumnya gw melewati masa Ramadhan di Bogor, saat gw kuliah. Perjuangan untuk beli saur menjadi kenangan tersendiri ketika Ramadhan, karena warteg yang buka hanya sedikit, sedangkan yang beli sangat banyak. So, klo telat bangun atau telat ke warteg, maka bakal kehabisan, dan klo dateng ditengah2 pasti bakal ramai dengan antrian yang panjang. Momen Ramadhan buat gw punya kenangan sendiri2. Saat masih bocah, saat SMA, saat kuliah, dan sekarang saat bekerja. Tak terasa sudah 23 tahun gw hidup, tapi gw baru bener2 menjalankan ibadah solat dan puasa dengan sungguh2 adalah ketika gw SMP.Alhamdulillah gw mengenal ISLAM.
Ramadhan jangan disia-siakan.

Posted on Monday, July 15, 2013 by De Budi Sudarsono

No comments

Tuesday, July 02, 2013


Bayi yg baru saja dilahirkan ke dunia tak bisa memilih ibu yg melahirkannya dan tak bisa  memilih ayah. Sang bayi lahir atas kehendak Allah dan mengamanahkannya kepada ibu ayahnya.
Sadar atau tidak kita sadari perkembangan kita dari mulai bayi hingga sampai detik ini kita dihadapkan oleh banyak pilihan, tidak hanya satu. Klo saat kita lahir kita tidak bisa memilih namun saat kita lahir ke dunia, di kehidupan yg sekarang ini banyak sekali pilihan. Ketika masih kanak-kanak kita tak pernah memikirkan apa dampaknya, tapi kita menikmati apa yg sedang kita kerjakan. Tak ada kekhawatiran dan penyesalan. Sedangkan sekarang, saat kita mulai dewasa, maka kita sering sekali bingung dalam memutuskan sesuatu, dan tidak sedikit yang menyesali keputusannya.

Ketika saat kita makan ayam, padahal di meja makan ada ikan, udang, cumi dll, itu termasuk dalam banyaknya pilihan dan kita harus memutuskan, lalu kita memutuskan untuk memakan daging ayam. Ini contoh banyaknya pilihan yang mungkin kita tidak perlu berfikir untuk memutuskannya. Namun bukan hal seperti itu yang mau gw bahas.

Sering sekali gw bingung dalam mengambil sebuah keputusan, keputusan yg taruhannya adalah masa depan. Dulu gw keterima di Matematika UNJ, disana gw udah bayar dan tinggal ikut Ospek. Ga lama setelah itu gw keterima di Statistika IPB dengan biaya masuk yg lebih besar dibandingkan di UNJ. Sebenarnya saat itu yg membuat gw bingung adalah gw udah bayar. tp setelah meminta pendapat dari wali kelas guru gw waktu SMA akhirnya gw putuskan untuk masuk IPB. Ada sesuatu yg akhirnya gw korbankan. Beberapa bulan yg lalu gw keterima di Perusahan Pembiayaan yang Terkenal dan sedang berkembang, sebut saja X. Setelah kerja satu bulan gw dapet kabar bahwa gw lolos sampai tahap akhir di Bank milik BUMN yg terkenal, sebut saja Y. Nah disini gw bingung, gw sangat ingin masuk di Y tp gw sekarang udah di X. Benar2 memakan energi yg cukup besar untuk memikirknya. Peluang gw untuk masuk Y sudah cukup besar, namun tetap ada peluang gagal walaupun kecil. Yang gw khawatirkan sebenarnya adalah peluang yg gagalnya ini. Karena ketika gw memutuskan untuk keluar dari X dan mengikuti proses seleksi tahap akhir dan ternyata tidak lolos, maka gw ga dapet di X ataupun di Y, alhasil nganggur lagi. Gw minta pendapat dari tmn2 gw yg udah keterima di Y, pada dasarnya mereka mendukung gw untuk tetap melanjutkan perjuangan gw untuk ikut di Y, karena gw ikut seleksi di Y dari akhir Januari hingga April, bukan waktu yg sebentar untuk seorang  fresh graduate. Lagi-lagi gw kebanyakan mikir, gw mikir ga enak klo gw keluar dari X, karena disana gw baru mau sebulan kerja dan ada senior IPB dalam satu divisi gw. Ada perasaan ga enak sama beliau jika gw ko baru masuk sebulan udah keluar. Akhirnya gw minta izin sama mama untuk keluar dari X dan ikut selesi akhir di Y, dengan taruhan klo gw ga lolos di Y maka gw juga akan kehilangan di X. Mama begitu bijak, beliau menyarankan agar gw tetap di X dulu, sambil ikut proses di Y, jadi ketika gagal dan ga masuk di Y masih bisa kerja di X. Mungkin bakal banyak juga yg berfikir demikian, karena gw juga memikirkan hal itu. Tp saat itu lagi lagi dan lagi gw kebanyakan mikir, gw berfikir nanti klo gw semakin lama di X maka bakal semakin banyak amanah kerjaan atau jobdesk yang diberikan bos buat gw, dan jika mau keluar baru sebulan kemudian setelah mengajukan surat pengunduran diri. Akhirnya gw lepas X dan gw ikuti seleksi di Y. Hasil akhirnya adalah Senior gw di X marah dan gw di Y ga lolos pada tahap medical check up yg 90% pasti lolos, sebagai bonusnya gw nganggur lg.

Contoh lainnya yg ringan adalah saat kemarin setelah jenguk teman yg sakit dan di rawat di RS, gw pulang naik busway. Gw udah bayar tiket busway, dan ternyata yg nunggu busway sangat banyak dan berdesak-desakan. Dan busway nya pun tak kunjung datang. Saat itu gw masih menunggu dan karena lama akhirnya gw memutuskan untuk naik kopaja aja, mengorbankan tiket busway. Saat gw nyebrang dan agak jauh dari busway, sambil nunggu kopaja lewat gw merhatiin shelter busway nya. Dan ada 6 busway yg lewat. Dari seberang gw hanya bisa ketawa, nyesel sih sedikit, tapi dari sini gw berpikir bahwa ketika lu udah memutuskan sesuatu lu juga harus siap mengambil resikonya. Dan seringnya apa yg kita korbankan itu terlihat begitu cepat di hadapan kita, inilah alasan mengapa kita menyesal. Dari sini gw juga mencoba bijak, karena keputusan yg gw ambil pastinya juga akan ada hasilnya, kendaraannya beda tetapi tempat tujuannya sama.

Pilihan itu banyak sekali ketika kita banyak berfikir, dan bingung mengambil keputusan itu karena kita belum yakin dengan jalan hidup yang akan kita tempuh. Tentukanlah kita mau menjadi apa, karena itu bisa menjadi penuntun kita ketika kita sedang bingung memutuskan. Putuskan dari banyaknya pilihan tersebut yang bisa mengantarkan menuju impian kita, ketika keputusan yang kita ambil gagal dan diberikan oleh Allah jalur lain, maka percayalah bahwa jalur tersebut akan mengantarkan kita menuju impian kita, tentunya dengan usaha yang lebih keras lagi.


Posted on Tuesday, July 02, 2013 by De Budi Sudarsono

No comments