Itulah hari kemerdekaan kitaaaaa,
Hari merdeka, nusa dan bangsa,
Hari lahirnya bangsa Indonesiaaa,
Meeeerdeeeeeekaaaaa,
Sekali merdeka tetap merdekaa,
Selama ayah masih di kandung badan,
Kita tetap, setia, tetap sedia,
Mempertahankan Indonesia,
Kita tetap, setia, tetap, sedia,
Membela negara kita.
Tepat 68 tahun Indonesia merdeka. Sejarah mencatat
perjuangan nenek moyang kita dari awal penjajahan hingga merdeka. Begitu banyak
mayat yang bergeletak secara terhormat membela harga diri negara ini. Berliter darah
segar mengalir membasahi negeri ini. Ledakan granat membumihanguskan negeri
ini. Senapan-senapan, runcing bambu, parit, clurit, pedang, golok dan berbagai
senjata untuk berperang menjadi saksi mati perjuangan para pahlawan Indonesia. Berawal
membela istri, anak, keluarganya. Hingga akhirnya berani untuk membela seluruh
rakyat Indonesia beserta yang ada di daratan, lautan hingga udara Indonesia.
Sabang hingga Merauke bersatu untuk merdeka. Tak ada jaminan untuk bisa hidup
esok hari, tak ada jaminan besok pagi minum kopi ditemani istri, tidak ada yang
menjamin esok bisa melihat anak-anak tumbuh dewasa. Kondisi saat itu pasti
sangat mencekam. Itu yang membuat para pahlawan begitu kuat. Kuat secara
mental.
Enam puluh delapan tahun sudah terlewati sejak Indonesia
diakui oleh dunia menjadi sebuah negara yang merdeka. Enam puluh delapan tahun
sudah Indonesia melahirkan generasi-generasi para pahlawan kemerdekaan. Enam puluh
delapan tahun sudah Indonesia mengalami berbagai masalah politik. Enam puluh
delapan tahun sudah Indonesia menjadi negara yang berkembang. Tapi enam puluh
delapan tahun sudah di mata para penjajah, Indonesia masih berada dalam
jajahannya.
Mungkin jika para pahlawan itu mengetahui 68 tahun kemudian,
pastilah mereka tak akan mempertahankan negara ini.
Mungkin jika kita bisa melihat, benar-benar melihat
kebelakang kejadian yang sebenarnya 68 tahun yang lalu, pastilah kita akan
lebih menghargai perjuangan mereka.
Kita, merupakan generasi yang mempertahankan dan mengisi
kemerdekaan. Dengan apa? Apapun yang kita lakukan dengan asas kebermanfaatan
untuk Indonesia, bukan untuk pihak luar. Tahun 90-an, cara kita memperingati hari
17 Agustus adalah dengan mengikuti perlombaan yang diadakan, mulai dari lomba
makan kerupuk, memindahkan kelerang dengan sendok, memasukkan paku ke botol,
panjat pinang, mengambil koin di semangka, hingga balap karung. Entah sejak
kapan lomba-lomba ini mulai ada, tapi bagi kita yang dahulu masih bocah, ini
merupakan momen yang paling seru. Bisa berkumpul dengan teman-teman,
bertanding, tertawa hingga mendapatkan hadiah, walaupun hadiahnya hanya tempat
pensil dan buku itu sudah sangat senang. Sekarang, sudah jarang yang mengadakan
acara lomba-lomba seperti ini lagi. Ketidakpedulian menjadi faktornya,
individualis sudah melekat pada setiap dari diri kita.
“Yang muda yang merubah Indonesia”, sebuah judul tulisan
yang beberapa hari yang lalu di terbitkan oleh media harian Bisnis Indonesia. Dalam
tulisan tersebut dipaparkan begitu banyak para pemuda yang telah mengharumkan
nama Indonesia di kancah Asia dengan spesialisasi yang berbeda-beda, dari
cabang olahraga hingga pembuat film animasi. Dan yakinlah bahwa masih banyak
lagi mereka-mereka yang berkontribusi besar untuk Indonesia. Pertanyaannya
adalah, sudah seberapa besar peran kita untuk Indonesia? Apa yang sudah kita
berikan untuk Indonesia?
Serentak para pemuda di belahan Indonesia menggemakan suara
selamat hari kemerdekaan Indonesia ke 68 dengan format yang berbeda-beda. Ya,
mereka menjadi sangat nasional walau hanya satu hari. Mereka, bahkan mungkin
kita, mengganti foto di media sosial dengan foto bendera merah putih, atau HUT
RI. Mengganti status mereka dengan hari kemerdekaan. Ada yang tiba-tiba
mengkritisi tentang apa itu merdeka, apakah negara ini sudah merdeka dengan
arti yang sesungguhnya?.Bahkan ada yang mengatakan bahwa negara ini belum
merdeka. Mereka bebas mengutarakan pendapat mereka. Sekali lagi, kita hanya
menjadi nasionalis sehari kah?
Jadikan tiap hari seperti hari 17 Agustus, sehingga kita
bisa merasakan pedihnya perjuangan para pejuang negara ini. Menjadi bekal kita
untuk terus bersemangat mempertahankan dengan cara mengisi kemerdekaan
Indonesia dengan prestasi. Prestasi yang dapat dirasakan untuk Indonesia. Besar
atau kecil kontibusi kita untuk Indonesia, itu sudah merupakan bukti bahwa kita
mencintai Indonesia. Tapi jika kita bisa melakukan yang besar, untuk apa kita
bertahan dengan yang kecil. Dan yang besar selalu diawali dari yang kecil. Jadi
tetaplah bersemangat mengerjakan hal-hal kecil yang konsisten untuk Indonesia. Hal-hal
kecil itu apa saja? Membeli produk buatan dalam negeri, bekerja menjadi
polisi,tentara, pns, bumn atau di perusahaan pribumi, berdoa disetiap solat
kita untuk Indonesia. Ya, doakan negara kita tercinta ini, Indonesia.

0 komentar:
Post a Comment