Tujuh belas Agustus tahun empat lima,
Itulah hari kemerdekaan kitaaaaa,
Hari merdeka, nusa dan bangsa,
Hari lahirnya bangsa Indonesiaaa,
Meeeerdeeeeeekaaaaa,
Sekali merdeka tetap merdekaa,
Selama ayah masih di kandung badan,
Kita tetap, setia, tetap sedia,
Mempertahankan Indonesia,
Kita tetap, setia, tetap, sedia,
Membela negara kita.

Tepat 68 tahun Indonesia merdeka. Sejarah mencatat perjuangan nenek moyang kita dari awal penjajahan hingga merdeka. Begitu banyak mayat yang bergeletak secara terhormat membela harga diri negara ini. Berliter darah segar mengalir membasahi negeri ini. Ledakan granat membumihanguskan negeri ini. Senapan-senapan, runcing bambu, parit, clurit, pedang, golok dan berbagai senjata untuk berperang menjadi saksi mati perjuangan para pahlawan Indonesia. Berawal membela istri, anak, keluarganya. Hingga akhirnya berani untuk membela seluruh rakyat Indonesia beserta yang ada di daratan, lautan hingga udara Indonesia. Sabang hingga Merauke bersatu untuk merdeka. Tak ada jaminan untuk bisa hidup esok hari, tak ada jaminan besok pagi minum kopi ditemani istri, tidak ada yang menjamin esok bisa melihat anak-anak tumbuh dewasa. Kondisi saat itu pasti sangat mencekam. Itu yang membuat para pahlawan begitu kuat. Kuat secara mental.

Enam puluh delapan tahun sudah terlewati sejak Indonesia diakui oleh dunia menjadi sebuah negara yang merdeka. Enam puluh delapan tahun sudah Indonesia melahirkan generasi-generasi para pahlawan kemerdekaan. Enam puluh delapan tahun sudah Indonesia mengalami berbagai masalah politik. Enam puluh delapan tahun sudah Indonesia menjadi negara yang berkembang. Tapi enam puluh delapan tahun sudah di mata para penjajah, Indonesia masih berada dalam jajahannya.

Mungkin jika para pahlawan itu mengetahui 68 tahun kemudian, pastilah mereka tak akan mempertahankan negara ini.

Mungkin jika kita bisa melihat, benar-benar melihat kebelakang kejadian yang sebenarnya 68 tahun yang lalu, pastilah kita akan lebih menghargai perjuangan mereka.

Kita, merupakan generasi yang mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Dengan apa? Apapun yang kita lakukan dengan asas kebermanfaatan untuk Indonesia, bukan untuk pihak luar. Tahun 90-an, cara kita memperingati hari 17 Agustus adalah dengan mengikuti perlombaan yang diadakan, mulai dari lomba makan kerupuk, memindahkan kelerang dengan sendok, memasukkan paku ke botol, panjat pinang, mengambil koin di semangka, hingga balap karung. Entah sejak kapan lomba-lomba ini mulai ada, tapi bagi kita yang dahulu masih bocah, ini merupakan momen yang paling seru. Bisa berkumpul dengan teman-teman, bertanding, tertawa hingga mendapatkan hadiah, walaupun hadiahnya hanya tempat pensil dan buku itu sudah sangat senang. Sekarang, sudah jarang yang mengadakan acara lomba-lomba seperti ini lagi. Ketidakpedulian menjadi faktornya, individualis sudah melekat pada setiap dari diri kita.

“Yang muda yang merubah Indonesia”, sebuah judul tulisan yang beberapa hari yang lalu di terbitkan oleh media harian Bisnis Indonesia. Dalam tulisan tersebut dipaparkan begitu banyak para pemuda yang telah mengharumkan nama Indonesia di kancah Asia dengan spesialisasi yang berbeda-beda, dari cabang olahraga hingga pembuat film animasi. Dan yakinlah bahwa masih banyak lagi mereka-mereka yang berkontribusi besar untuk Indonesia. Pertanyaannya adalah, sudah seberapa besar peran kita untuk Indonesia? Apa yang sudah kita berikan untuk Indonesia?

Serentak para pemuda di belahan Indonesia menggemakan suara selamat hari kemerdekaan Indonesia ke 68 dengan format yang berbeda-beda. Ya, mereka menjadi sangat nasional walau hanya satu hari. Mereka, bahkan mungkin kita, mengganti foto di media sosial dengan foto bendera merah putih, atau HUT RI. Mengganti status mereka dengan hari kemerdekaan. Ada yang tiba-tiba mengkritisi tentang apa itu merdeka, apakah negara ini sudah merdeka dengan arti yang sesungguhnya?.Bahkan ada yang mengatakan bahwa negara ini belum merdeka. Mereka bebas mengutarakan pendapat mereka. Sekali lagi, kita hanya menjadi nasionalis sehari kah?

Jadikan tiap hari seperti hari 17 Agustus, sehingga kita bisa merasakan pedihnya perjuangan para pejuang negara ini. Menjadi bekal kita untuk terus bersemangat mempertahankan dengan cara mengisi kemerdekaan Indonesia dengan prestasi. Prestasi yang dapat dirasakan untuk Indonesia. Besar atau kecil kontibusi kita untuk Indonesia, itu sudah merupakan bukti bahwa kita mencintai Indonesia. Tapi jika kita bisa melakukan yang besar, untuk apa kita bertahan dengan yang kecil. Dan yang besar selalu diawali dari yang kecil. Jadi tetaplah bersemangat mengerjakan hal-hal kecil yang konsisten untuk Indonesia. Hal-hal kecil itu apa saja? Membeli produk buatan dalam negeri, bekerja menjadi polisi,tentara, pns, bumn atau di perusahaan pribumi, berdoa disetiap solat kita untuk Indonesia. Ya, doakan negara kita tercinta ini, Indonesia.

Untukmu para pejuang kemerdekaan, dan untukmu para generasi emas Indonesia.

De Budi Sudarsono