Pagi ini, Selasa 20 Agustus 2013 gw dikejutkan sama sebuah
pesan singkat (SMS) dari sahabat gw saat SMA. Ayahnya Arbi dipanggil Yang Maha
Kuasa. Gw baca sms tersebut tadi pagi sekitar jam setengah delapan pas baru
tiba di parkiran kampus Esa Unggul Jakarta Barat. Gw sedih mendengar berita
duka ini, gw belum bisa langsung ke rumah duka karena pagi tadi gw mengurusi
administrasi dan pembayaran kuliah dan cuti adik gw di kampus itu, sedangkan gw
baru pulang kantor jam sembilan malam nanti. Memang kesedihan yang gw rasakan
ini pastinya tak seberapa dibandingkan dengan apa yang dirasakan oleh sahabat
gw yang satu ini, Arbi. Walau begitu gw memposisikan diri gw yang berada di
posisi si Arbi, pastinya gw sedih sekali. Ya, Allah tahu bahwa Arbi dan
keluarga yang ditinggalkan akan kuat menghadapi cobaan ini. Semoga almarhum
ayahanda Arbi diterima di sisi Allah SWT, diampuni segala dosa-dosanya,
ditempatkan di Syurga, dan keluarga besar Arbi diberikan kekuatan serta
kesabaran dalam menghadapi cobaan ini. Dan tak lupa, semoga Abi menjadi lebih
kuat lagi dalam mengarungi kehidupan yang sebenarnya tanpa di dampingi oleh
sang Ayah. Aamiin ya Robbala’lamin.
Ini merupakan teguran lagi dari Allah untuk gw. Apa yang gw
alami saat ini sebenarnya adalah sebuah peringatan dari Allah. Hingga detik ini
gw masih selalu merepotkan bapak. Harusnya gw sudah bisa menggantikan peran
bapak walau secara perlahan. Banyak hal yang harusnya bisa gw lakukan tapi
tidak gw lakukan, dan itu lagi-lagi dikerjakan oleh bapak. Bapakpun tak pernah
meminta dan menyuruh gw untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan itu.
Pekerjaan-pekerjaan itu diantaranya, menguras bak mandi, mencuci motor, memberi
oli ke rantai motor, mengantar makanan ke kantor bapak, buang sampah, hingga ke
pasar jam dua dini hari menemani mama beli kebutuhan di kantin. Hal-hal seperti
itu harusnya bisa gw lakukan, tapi apa? Gw jam dua dini hari masih terlelap. Kalau
gw masih seperti ini, apa yang bisa gw lakukan ketika suatu saat nanti bapak
sudah tiada? Ya, gw belum siap. Gw belum siap.
Allah seolah-olah memberi tantangan buat gw, “Bud, lu siap
ga klo bapak lu yang meninggal?”. Allah mengingatkan gw pagi ini, bahwa
harusnya gw sudah bisa menggantikan peran bapak di rumah, tidak masalah secara
perlahan, yang penting konsisten. Gw harus bisa belajar banyak dari bapak. Hal-hal
seperti ini pasti membuat gw lebih dewasa dan lebih matang. Ya, ini akan
menjadi salah satu cara gw untuk menjadi lebih dewasa dan matang. Karena kelak
gw akan menjadi suami dan bapak. Gw harus mempersiapkan itu. Ingat, hal
sebaliknya akan terjadi jika gw tidak melakukan itu dari sekarang. Karena tidak
ada yang tahu kapan kematian itu tiba. Seharusnya kita selalu mempersiapkan
bekal kematian kita dan orang-orang terdekat yang akan meninggalkan kita. Perbanyak mengingat kematian, itu akan membuat kita lebih berhati-hati dalam menjalani hidup ini.
Yuk, bagi yang masih punya bapak, mulai sekarang coba
gantikan peran beliau, kerjakan hal-hal yang biasanya beliau kerjakan. Sehingga,
ketika tiada, beliau akan tenang karena bisa meninggalkan anaknya dalam keadaan
siap.
0 komentar:
Post a Comment