Penatnya kehidupan era saat ini membuat pasar motivator meningkat. Begitu banyak motivator bermunculan, di layar kaca, buku, media sosial, web, bahkan ada yang memang sengaja membuat EO seminar. Mereka melihat peluang dan mengasah diri mereka untuk memberikan manfaat untuk orang banyak. Mereka melihat bahwa masyarakat selain konsumtif akan barang dan makanan, juga membutuhkan asupan spiritual untuk tetap menjaga semangat. Tema yang mereka angkat akan selalu berbeda tiap waktunya, tergantung kebutuhan dan berita terhangat, namun intinya sama. Apa? Untuk memcharge semangat para pembaca, pendengar dan penontonnya.

Sekarang posisikan kita sebagai para pencari semangat tersebut. Biasanya kita menjadi aktif untuk mencari sumber semangat tersebut. Kita mulai menfollow akun-akun berbau motivasi dari para tokoh-tokoh motivator terkenal hingga para ustadz kondang. Yang punya uang berlebih, bisa mengikuti seminar-seminar yang harganya ratusan hingga jutaan rupiah demi mencari motivasi dan tetap menjaga semangat hidupnya. Para direktur perusahaanpun banyak yang mengundang motivator untuk datang ke perusahaannya guna memberikan seminar hanya untuk memberikan suntikan semangat bagi karyawannya. Mengapa ini dilakukan? karena meningkatnya semangat karyawan maka akan meningkat pula produktifitas perusahaan tersebut. Lalu berapa lama efek dari motivasi yang kita dapatkan dari seminar, buku dll? Pastinya tak lama. Banyak dari para audiens atau para pembaca yang menanyakan kepada narasumber tentang bagaimana kita mempertahankan semangat kita ini? Artinya apa? Ini artinya bahwa motivasi adalah sebuah kebutuhan hidup selain makan dan kebutuhan pokok lainnya. Sama halnya seperti kita makan lalu kenyang. Apakah kenyangnya kita bisa bertahan hingga besok? Tidak, kita butuh makan lagi esok harinya. Ini bisa menjadi peluang usaha buat mereka yang tertarik, tidak harus jadi motivatornya tapi bisa juga menjadi bagian yang mendukung motivator tersebut.

Setiap dari kita memerlukan motivasi hidup dalam menjalani kehidupan ini. Tapi kita tak selalu harus membayar dengan uang untuk membeli buku, ikut seminar, beli pulsa untuk melihat tweet-tweet para motivator, atau beli modem untuk melihat video motivasi. Ada motivasi yang energi pengaruhnya sangat besar, yaitu motivasi yang tersirat. Maksudnya apa? Ini adalah motivasi yang berasal dari diri kita atau sekitar kita, dimana yang kita butuhkan untuk dapat melihatnya adalah berfikir dan positif thinking. Belajarlah membaca situasi, membaca lingkungan. Jika kita bisa membuka pikiran kita, membuka hati kita, maka itu akan mempermudah kita membaca motivasi tersirat. Oke contoh, misalnya kita bisa melihat mama atau bapak kita. Lihatlah perjuangan mereka, tanyakan kepada om atau tante tentang mereka sebelum kita lahir. Perhatikan bagaimana mereka berjuang untuk menyekolahkan dan memenuhi segala kebutuhan yang kita inginkan. Kebaikan-kebaikan yang telah mereka lakukan untuk kita, saudara-saudara kita maupun orang lain. Coba bayangkan. Sudah? Kalau belum, coba lebih terbuka lagi dengan pikiran dan hati kita. Jika belum bisa, coba terus. Biasanya motivasi terdekat kita adalah orangtua, karena tidak mau mengecewakan orang tua maka kita belajar sangat giat. Contoh lain bisa datang dari sahabat atau saingan kita, ini mengapa setiap film atau cerita selalu ada tokoh sahabat yang antagonis, yang membuat kita termotivasi untuk bisa bersaing dengannya. Dan tak menutup kemungkinan motivasi tersirat bisa datang dari yang lebih muda dari kita, misalnya adik kandung kita. Lihat dan perhatikan perjuangan dia meraih cita-cita yang ia impikan, apalagi ketika ia berhasil meraihnya. Contoh lainnya kita bisa datang ke panti asuhan atau panti jompo, ke jalanan, ke kolong jembatan. Buka hati dan pikiran kita untuk bisa membaca motivasi tersirat ini. Maka kita akan selalu bersyukur dan menjadikan kita terus bersemangat dalam menjalani hidup ini.

Jika kita sudah mampu membaca motivasi tersirat ini bukan berarti tak perlu membeli buku motivasi, ikut seminar motivasi atau media yang menyajikan motivasi secara tersurat dengan jelas. Jadikan itu sebagai investasi kita untuk terus mempertajam pikiran dan hati kita untuk membaca motivasi secara tersirat dan sebagai pengingat ketika kita lupa. Syukur-syukur jika kita mampu menularkan semangat kita ini. Bahkan bisa jadi kita menjadi penulis buku motivasi atau bahkan sang motivator yang berdiri di depan ribuan audiens. Ya, karena para motivator-motivator tersebut ada karena motivator tersebut mampu membaca motivasi secara tersirat.

Buka hati dan pikiran kita.


De Budi Sudarsono