Ini adalah kisah ketika dunia hanya mengenal dua wilayah: Barat dan Timur.
Ini adalah persaingan antara dua negara; Imperium Romawi dan Khilafah Islam.
Ini adalah cerita saat dunia terpolarisasi menjadi dua bagian: Kristen dan Islam.
Ini adalah epik antara dua kekuasaan: Byzantium dan Utsmani.
Pada suatu masa ketika dunia hanya terbagi menjadi dua bagian, sudah menjadi kewajaran bagi Barat untuk menaklukan Timur. Namun ada seorang pemuda yang membalik semuanya dan menaklukan sebagian besar Barat. Pemuda yang mengukir namanya dalam sejarah emas dunia, dengan prestasi dan pencapaian yang tidak pernah ada pada masanya ataupun sebelumnya, prestasi yang jauh melebihi masanya.
Ini adalah salah satu pertempuran paling penting dalam sejarah Islam dan sejarah dunia. Pertempuran yang sangat berpengaruh pada relasi Kristen dan Islam. Serta panglima terbaik yang telah diramalkan oleh Rasulullah SAW.

CONSTANTINOPLE
Konstantinopel didirikan ribuan tahun yang lalu oleh pahlawan legendaris Yunani; Byzas, kota ini dinamai sesuai dengan namanya yaitu Byzantium. Pada 324, Kaisar Konstantin memindahkan ibukota Romawi Timur ke kota ini dan sejak itu namanya diubah menjadi Konstantinopel dan negaranya disebut Byzantium. Konstantinopel sendiri sering disebut sebagai “New Rome” dan dengan sendirinya menjadi kota dengan aktifitas dagang terbanyak dengan populasi mencapai 500.000 orang.
Posisi ditengah dunia membuat Konstantinopel menjadi kota pelabuhan paling sibuk di dunia pada masanya. Inilah kota yang mendapatkan kesempatan terhormat menjadi bagian terpenting dari 3 peradaban besar manusia. “The Gates of The East and West” adalah salah satu gelar yang disematkan kepadanya. Pemandangan yang paling menonjol dari kota ini tentu saja sistem pertahanannya yang merupakan pertahanan terbaik pada masanya. Konstantinopel dilindungi tembok yang mengelilingi kota dengan sempurna, baik wilayah laut maupun daratnya. Keseluruhan kota ini nampak seperti sebuah benteng kokoh. Nyali seseorang yang ingin menaklukan kota ini pun akan ciut tatkala dia melihat bagian benteng bagian barat, satu-satunya wilayah Konstantinopel yang berbatasan dengan daratan. Di situ terbangun struktur tembok dua lapis dengan dua tingkatan, yang diperkuat dengan parit besar dan dalam di bagian depannya. Lengkaplah Konstantinopel memiliki gelar lain “The City with Perfect Defense”.
 “Apabila dunia ini adalah sebuah negara maka tempat yang paling layak sebagai ibukotanya adalah Konstantinopel”. [Napoleon Bonaparte, Kaisar Perancis]

Bagi kaum muslim, nama Konstantinopel berarti kemuliaan yang telah dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya dalam bisyarah mereka. Ramai dari kaum Muslim akan menyiapkan jiwa dan harta mereka untuk menjadi pasukan yang membebaskannya. Mental kaum Muslim pun telah dari awal dididik untuk menjadi seorang ksatria yang mempunya tugas untuk mengelola dunia beserta seisinya. Bagi kaum Muslim, Konstantinopel adalah penantian 825 tahun dan para syuhada telah menyirami tanah itu dengan darah suci mereka untuk menumbuhkan kemenangan di tanah itu maka tak heran apabila janji Allah dan Rasul ini menjadi suatu sumber energi yang tidak terbatas, menyalakan api pengorbanan dan jihad fi sabilillah dalam setiap masa dan setiap kepemimpinan.
“Sungguh Konstantinopel akan ditaklukan oleh kalian. Maka sebaik-baiknya pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baiknya pasukan adalah pasukan yang menaklukannya”. [HR. Ahmad]

MUHAMMAD AL-FATIH
Sultan Mehmed II, wajahnya tampan dengan tinggi sedang dan berbadan kekar. Siapapun yang melhatnya akan terpaku pada kedua bola matanya yang tajam, seolah melihat jauh ke masa depan, pada ujung dari segala sesuatu. Dia seorang anak muda yang memiliki kekerasan niat dan fleksibilitas dalam mencapainya. Dia memiliki kecerdasan akal, kecepatan gerak dan keberanian yang kelak akan diingat oleh setiap kawan dan lawannya. Kemudian yang paling menonjol pada Mehmed adalah kemampuan nya menentukan sikap dan mengendalikan emosinya, walaupun terkadang termperamental. Dia mampu melakukan tipu muslihat tingkat tinggi dalam peperangan dengan mengandalkan unsur kejutan, strateginya tidak dapat diprediksi. Wajah tenangnya dapat diperlihatkan sementara akalnya merancang strategi yang paling efektif untuk menundukkan lawannya dalam waktu singkat. Seorang penakluk yang juga menggemari syair, seorang ahli strategi jenius yang juga seorang ahli ibadah, seorang yang begitu mahir dalam teknik dan strategi perang sebagaimana ia bergantung pada doa para ulama. Seorang Muslim yang terinspirasi Muhammad SAW, begitu penyederhanaan kita kepadanya.

“In the old times the west attacked to the east but these days the world has changed so I will invade the west from the east to from a single empire a single religion and a singer rule over the world” [Fatih Sultan Mehmed II]


Muhammad Al-Fatih 1453
Penulis: Felix Y. Siauw