Seorang petani di Kanada memiliki perkebunan anggur hijau yang sangat luas, dia merawat kebunnya dengan sangat baik dari mulai jenis dan waktu pemupukan hingga penyiraman si anggur hijaunya. Dia sangat tahu bagaimana merawat anggur hijaunya dari bibit hingga panen. Sehingga kualitas anggur yang dihasilkan pun sangat baik. Dia sukses dalam berkebun anggur hijaunya. Hingga pada suatu masa, petani ini beserta keluarganya harus pindah ke Jogjakarta, sebuah kota di Indonesia. Perkebunan anggur hijau di Kanada ia titipkan ke temannya. Setibanya di Joga, petani ini membeli sepetak tanah untuk menanam anggur hijau yang bibitnya ia bawa dari Kanada. Teknik dan cara yang ia lakukan sama persis dalam merawat si anggur hijaunya ini. Tapi baru sebulan tanamannya layu dan membusuk, apalagi berbuah. Petani ini bingung bukan main, mengapa anggur hijau yang dia tanam tidak bisa tumbuh dan berbuah, padahal teknik yang dilakukan sama persis dengan yang dia lakukan saat masih di Kanada. Akhirnya dia menyadari bahwa ada faktor lain yang menyebabkan ini terjadi, perbedaan suhu antara di Kanada dan Indonesia sangat berbeda. Setelah menyadari hal itu, petani ini pun langsung mengganti teknik bertaninya dengan menambahkan teknik baru dan mengurangi beberapa teknik yang tidak bisa digunakan lagi. Alhasil, petani ini akhirnya sukses membudidayakan anggur hijau di Jogja.

Kehidupan kita selalu berubah, selalu kita mulai dari level terendah, hingga sekarang kita berada di level ini dan kelak kita akan berada pada level tertinggi (entah itu kapan). Dari TK ke SD, SD ke SMP, SMP ke SMA, SMA ke Perguruan Tinggi, Perguruan Tinggi ke Dunia Pasca Kampus. Kita akan gagal ketika kebiasaan atau cara kita mengarungi kehidupan saat masa-sama sekolah dulu masih dipertahankan, padahal kita sekarang sudah berada di dunia pasca kampus. Loh kok, kan gw sukses pas kuliah dengan cara hidup gw yang kayak gini, nilai gw bagus-bagus tuh? Simak lagi cerita anggur hijau diatas. Ada faktor-faktor (kebiasaan kita) lain yang belum kita masukkan ke dalam model hidup kita, karena medan kitapun berubah. Sehingga error/galat (kesalahan) suksesnya menjadi besar, peluang suksespun menjadi kecil.

Lalu bagaimana agar errornya semakin kecil dan peluang suksesnya semakin besar? Cepat beradaptasi di level ini, segera temukan faktor-faktor baru yang harus kita rubah, jika sudah ketemu langsung masukkan ke dalam model hidup kita. Contoh paling sederhana, update informasi, mulai membiasakan membaca koran, ikuti perkembangan dan kritisi. Contoh lainnya coba kita renungi lagi, karena gw juga dalam tahap mencarinya.


Kelak level inipun akan kita lewati. Lalu level berikutnya pun datang, saat kita memiliki pasangan hidup dan  menikah.  Model hidup kitapun akan berubah, yang tadinya hidup sendiri sekarang berdua. Pastinya banyak faktor-faktor lain yang baru yang harus kita masukkan ke dalam model hidup kita. Ketika kita bersikeras mempertahankan model yang lama saat masih sendiri maka siap-siap bahtera rumah tangga kita tak akan berdiri lama.

Ketika kita diamanahkan memiliki keturunan, kita memiliki anak dari darah daging kita sendiri, level kita naik lagi, model hidup kita pun berubah lagi. Ketika anak kita besar, level kitapun naik lagi. Begitulah hingga kita dipanggil Yang Maha Kuasa.

Buat kita yang pernah mempelajari statistika tentang model regresi. Sukses itu peubah responnya (y), dan faktor-faktor atau kebiasaan yang mempengaruhinya adalah peubah penjelas (x1,x2,...,xn), dan kegagalannya adalah error/galat (e). Berarti Model Hidup kita adalah y=x1+x2+...+xn+e. Asikkan, hahaha.

Kita harus cepat beradaptasi dimanapun dan kapanpun. Segera temukan hal yang membuat kita bertahan dalam meraih kesuksesan (sukses menurut pribadi masing-masing, karena capaian sukses setiap orang berbeda-beda). Lakukan itu segera dan biasakan.