“Ternyata kiamat itu terjadi di akhirat”. Sebuah komentar dari seorang pembaca buku Akhirat Tidak Kekal.

Pasti kaget baca judulnya,haha. Masa depan memang tetap menjadi sebuah misteri, kita sebagai makhluk yang berakal mencoba untuk menggali informasi dari Al-Quran,  Hadist dan Alam Semesta. Dua hari membaca bukunya Agus Mustofa yang berjudul “Ternyata Akhirat Masih Tidak Kekal” membuat gw menjadi tercerahkan. Buku ini merupakan lanjutan dari buku serinya yang ke-2 yakni Akhirat Tidak Kekal, seri terbaru sudah ke-34.

Di buku ini dipaparkan bagaimana penulis (Agus Mustofa) menceritakan dan membuktikan bahwa Akhirat Tidak Kekal beserta tanggapan dari berbagai kalangan. Tanggapannya itu bermacam-macam, ada yang menyindir, menganggap hanya sebuah ajang mencari perhatian, banyak yang bertanya, hingga terjadinya diskusi yang menarik yang dilandaskan dengan ilmu. Buku Akhirat Tidak Kekal ini menjadi kontroversial selama sembilan [9] tahun.

Gw bukan bermaksud ingin menarik benang merah dari diskusi yang terdapat di buku ini, apalagi sampai menarik kesimpulan.  Ada point positif yang bisa didapatkan dari buku ini. Terlepas apakah benar akhirat itu tidak kekal ataupun kekal.

Pertama [1] , seharusnya kita sebagai manusia sudah selayaknya berbuat kebaikan, menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, semata-mata mengharapkan Ridho-Nya Allah. Soal Syurga anggaplah itu bonus. Karena kita akan kembali kepada-Nya. Pasti banyak diantara kita yang berharap ingin masuk Syurga, nah itu anggap saja bonus yang kita dapat ketika kita berbuat kebaikan di dunia ini. Jadi ketika berbuat baik, ikhlaslah dan hanya berharap mendapatkan Ridho Allah, bukan berharap masuk Syurga.

Kedua [2], Alam semesta ini bukan hanya bumi beserta galaksi bimasakti saja, tapi masih luas lagi hingga langit ketujuh. Tidak ada yang tahu dimana itu karena dimensi kita sekarang berbeda dengan dimensi disana. Bisa dibayangkan betapa kecilnya kita, seperti debu dipadang pasir, seperti tetesan air di samudera. Karena itu buat apa kita sombong dengan apa yang kita miliki sekarang, toh masih ada Alam Semesta yang sangat besar, berarti Allah yang menciptakan Alam Semesta memang Maha Besar.

Ketiga [3], Al-Quran jangan hanya dibaca saja, jangan hanya dibaca terjemahaanya saja, karena sayang banget jika kita tidak mencoba mentafsirkannya, karena banyak pengetahuan dan informasi di dalamnya. Ibarat ada nasi tumpeng dengan segala lauk pauk, kita hanya makan nasi dan tempe oreknya saja, mubazir.

Keempat [4], Banyak-banyak membaca, membaca tentang dunia, sejarah dan lain-lain. Karena dengan membaca kita akan mengenal dunia dan lebih mendekatkan diri kita ke Tuhan kita, Allah.

Agus Mustofa:
“Fase kehidupan manusia ternyata ada 5 tahap, sebagaimana diceritakan dalam QS. 2:28. Dan akhirat baru menempati fase ke-4, sebelum akhirnya dimusnahkan semua dalam kiamat kubro.”Mengapa kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu tadinya mati (fase1: belum lahir), lalu Allah menghidupkan kamu (fase 2: di dunia), kemudian kamu dimatikan (fase 3: di alam barzah) lantas dihidupkan-Nya lagi (fase 4: di akhirat), kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan (fase 5: musnah kembali kepada-Nya?)””