Kebanyakan dari kita pasti ingin bermalas-malasan, yang
gampang-gampang, leha-leha, senang-senang, dan tetap berada di zona nyamannya. Tak
dapat dipungkiri, seberapa rajinnya kita, suatu waktu ada kejenuhan yang
membuat kita ingin memanjakan diri dengan bermalas-malasan. Yang rajin saja
bisa seperti itu, apalagi yang memang dasarnya sudah malas.
Buat orang yang memang sudah kaya ya tak masalah, apalagi hartanya
tidak habis tujuh [7] turunan. Nah kalau kita turunan ke delapan [8] bagaimana?
Haha.
Pribahasa mengatakan, “Berakit-rakit kita ke hulu, berenang-renang ke
tepian, Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Sudah jelaskan
maksudnya? Nah kalau kita bersenang-senang dahulu maka kelak kita akan
bersakit-sakit kemudian, hukum kebalikanpun berlaku di pribahasa ini.
Jika kita hidup di dunia ini hanyalah untuk kita sendiri ya tidak
masalah kalau ingin sesuka hati. Kalau senang ya senang, kalau susah ya susah
sendiri. Tapi pada kenyataannya kan tidak seperti itu. Kelak kita akan membina
rumah tangga, apa mau melihat isteri kita susah dan menderita? Apa mau melihat
anak-anak kita menderita? Apa mau melihat keluarga besar kita hidup dalam
kesusahan?
Janganlah kita egois, mementingkan diri kita sendiri. Mulailah berfikir
apa yang kita kerjakan ini adalah investasi kita untuk masa depan. Jika yang
kita kerjakan sekarang sesuka hati dan bermalas-malasan maka bentuk investasi
kita di masa depan hanyalah kesengsaraan. Mau?
Misalnya nih dari yang paling sederhana,” gaya hidup sehat”. Pasti kita
ingin memiliki keturunan yang sehat, cerdas, soleh/soleha dan tampan/cantik. Andaikan
kita sekarang masih malas berolahraga, makan tak teratur, asupan gizinya tidak
jelas, suka merokok, makan sayur dan buah jarang-jarang, banyak makan junk food.
Apakah nanti kualitas sperma/sel telur kita akan bagus? Ini akan berpengaruh
nantinya ke keturunan kita. Apakah kita tega melihat anak kita nantinya
sakit-sakitan atau bahkan mengalami keterbelakangan mental? Apakah kita mau
merebut kebahagiaan anak-anak kita kelak? Harusnya mereka bisa hidup sehat
bersama anak-anak yang lain. Mereka nantinya yang akan menggantikan kita,
mereka masih memiliki masa depan yang cerah. Jadi, janganlah kita egois
terhadap diri kita sendiri. Kalau tidak, maka keturunan kita akan menjadi
tumbal keegoisan kita.
Nah sekarang coba bayangkan isteri kita nanti. Kalau kita bisa hidup
semaunya sendiri ya tidak apa-apa, tapi jangan menikah, jangan punya isteri.
Loh kok? Ya iyalah, memangnya kita tega menyusahkan isteri kita? Anak-anak
kita? Susah ko ngajak-ngajak. Kalau mau menikah dan punya isteri serta punya
anak, maka berpenghasilanlah yang cukup (banyak). Ya memang isteri yang baik
tidak melihat banyak atau sedikitnya harta kita, yang penting cukup untuk hidup
dan investasi pendidikan serta kesehatan anak-anaknya. Tapi tetap saja kita
mesti berjuang untuk terus berpenghasilan. Jadi yang sekarang masih
bermalas-malasan dan hidup seenaknya sendiri, mulai dari sekarang yuk kita
berpenghasilan. Untuk keluarga kita kelak.
Masih punya orang tua? Yang masih punya apakah mau nanti ketika mereka
semakin tua kita tidak bisa merawatnya ketika sakit hanya gara-gara kita tidak
punya cukup dana untuk membawanya ke Rumah Sakit?
Uang memang bukanlah segalanya, tapi tidak ada yang bisa dibeli tanpa
uang. Kebutuhan keluarga (orang tua, isteri dan anak-anak), pendidikan
anak-anak, kesehatan keluarga, dan lain sebagainya.
Jadi apakah kita masih mau hidup seenaknya sendiri? Masih mau
berleha-leha? Masih mau bermalas-malasan?
Ingatlah, kita tidak hidup sendirian bro.
Janganlah kita egois.
0 komentar:
Post a Comment